
Selamat membaca!
Ketika Darren semakin dekat, tiba-tiba wanita itu mulai menyadari kehadiran Darren didekatnya. Wanita itu pun beringsut mundur untuk menjauh dari Darren.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Perkenalkan Saya Darren. Anda tadi sudah bertemu dengan asisten pribadiku, maka itu saya kemari untuk menemuimu."
Wanita itu seketika langsung teringat akan pertemuannya dengan Owen. Saat itu Owen sudah menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Sepertinya pria ini sangat kaya raya. Aku bisa memanfaatkannya, apalagi dia sangat butuh kornea mata suamiku, pasti apapun permintaanku akan dituruti olehnya dan pada akhirnya aku bisa lepas dari kemiskinan ini. Padahal sudah bertahun-tahun aku selalu memikirkan cara untuk dapat merubah nasibku, kalau tahu dengan kematianmu hidupku bisa berubah, kenapa tidak dari dulu saja kamu mati, dasar suami tidak berguna!" batin wanita itu dengan rencana yang sudah ada di dalam pikirannya.
Darren berdehem keras, hingga membuyarkan lamunan wanita itu.
"Eh iya, maaf ya. Kenalin aku Kimmy, tapi sebaiknya kita jangan bicara di tempat seperti ini, agak kurang nyaman untuk pembicaraan yang serius. Bagaimana kalau kita sambil minum kopi? Kebetulan ada sebuah cafe di seberang rumah sakit ini."
"Ya terserah, saya ikut saja." Darren tak keberatan dengan permintaan Kimmy, ia langsung mengiyakan dan mengekor di belakang Kimmy yang sudah melangkah lebih dulu untuk menuju lift.
Setibanya di dalam cafe, keduanya sudah duduk di sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Setelah memesan dua cangkir kopi kepada pelayan, pembicaraan serius pun mulai terjadi di antara keduanya.
"Apa yang ingin Anda bicarakan? Langsung saja tidak perlu berbasa-basi lagi, karena saya tidak ingin meninggalkan istriku terlalu lama di atas." Darren menampilkan raut wajahnya yang tegas.
"Sepertinya pria ini sangat mencintai istrinya, benar-benar sempurna, kaya, tampan dan sepertinya pria ini juga romantis," batin Kimmy mengagumi sosok pria yang baru saja dikenalnya.
"Jadi bagaimana, Nona Kimmy?" tanya Darren memperjelas.
Kimmy mulai tersadar dari segala pikirannya. Ia pun mulai mengungkapkan secara perlahan apa yang diinginkannya kepada Darren.
__ADS_1
"Jika memang benar kau ingin aku menyetujui pendonoran mata suamiku, aku ingin minta tiga hal."
"Sudah kuduga wanita ini tidak mungkin memberikannya secara gratis, tapi demi kesembuhan Ansel, apapun yang dia minta pasti aku berikan," batin Darren menampilkan raut penuh keseriusan.
"Katakan Nona Kimmy, apa saja dari tiga permintaan Anda?"
Kimmy menatap dalam wajah Darren yang membuat pandangan keduanya sesaat saling beradu.
"Ya ampun sorot mata pria ini sungguh menawan. Seandainya aku punya suami seperti pria ini, pasti aku akan sangat bahagia, tapi saat ini yang aku butuhkan bukan itu. Sekarang aku hanya ingin hidup bahagia dengan harta yang melimpah. Mungkin ini jalan dari Tuhan, agar aku bisa hidup enak, melalui pria ini," batin Kimmy berdecak kagum, lalu ia mulai fokus dengan tujuan awalnya.
Baru saja Kimmy ingin mengutarakan permintaannya, seorang pelayan datang menyuguhkan pesanan mereka. Setelah meletakkan dua cangkir kopi di atas meja, pelayan itu pun berlalu, membuat Darren kembali mengulangi pertanyaannya lagi.
"Ayo, Nona. Katakanlah keinginanmu!" titah Darren dengan nada suara yang terkesan hati-hati.
Ia tidak ingin membuat mood wanita yang kini ada di hadapannya menjadi rusak, karena ia sangat membutuhkan pendonor kornea mata untuk Ansel, agar putra satu-satunya itu bisa kembali dapat melihat.
"Sabar, Tuan Darren." Kimmy menarik napasnya yang terasa berat, ia lalu mengembuskannya dengan perlahan, untuk membuang keraguan yang ada di dalam dirinya. Kimmy takut jika permintaannya akan membuat pria yang ada di hadapannya menjadi marah atau menolak dengan kasar. Namun setelah ia pertimbangkan lagi, tidaklah rugi baginya untuk mencoba, karena apapun jawaban Darren bukanlah suatu hal yang merugikan untuknya.
"Begini Tuan, jika memang kau benar-benar menginginkan kornea mata suamiku, aku ingin kau menukarnya dengan memberikan aku uang 10 miliar, rumah mewah dan satu mobil mewah. Bagaimana Tuan?" Kimmy menatap wajah Darren dengan cemas dan penuh harap, kedua alisnya saling bertaut dengan kening yang sudah mengerut. Bahkan saat ini detak jantungnya pun terasa tak beraturan lagi.
Darren mengembuskan napasnya dengan kasar, ia seolah menjadi sangat lega atas apa yang telah didengarnya dari mulut Kimmy. Sejujurnya Darren sangat takut, jika apa yang diminta oleh wanita yang kini ada hadapannya, sampai harus merusak kebahagiaannya dengan Dyra, wanita satu-satunya yang sangat ia cintai. Namun saat apa yang diucapkan oleh Kimmy hanya menyangkut soal harta benda, bukan hal yang sulit untuk Darren mengabulkannya.
"Hanya itu saja permintaan Anda, Nona Kimmy?" tanya Darren sambil mengangkat kedua alisnya.
Kimmy sontak kaget dengan jawaban dari Darren, ia menjadi gugup, namun dalam hatinya telah membuncah bahagia, karena saat ini, di dalam pikirannya sudah dipenuhi dengan bayangan kehidupan mewah yang akan ia jalani. Hidup dengan harta yang melimpah, walau tanpa suami yang sudah menemaninya selama 5 tahun ini.
"Kalau tahu begitu, aku tadi minta 15 miliar saja ya, tapi tidak apalah, 10 miliar dengan rumah mewah dan mobil, cukup untuk membuatku menjadi wanita kaya raya," batin Kimmy mengulas senyum lebar di wajah cantiknya, kini tak ada lagi rasa sedih atau bahkan kegelisahan di raut wajahnya, yang ditampilkannya saat di balkon.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Semua itu sudah cukup untuk saya."
Darren langsung bangkit sambil merapikan jas yang dikenakannya. "Baik saya akan kembali ke atas, nanti asisten saya Owen yang akan mengurus semuanya, oke." Darren pun mulai melangkah meninggalkan Kimmy, namun tiba-tiba Kimmy bangkit dari posisi duduknya, lalu memeluk tubuh Darren hingga membuat pria itu mematung untuk beberapa saat.
"Terima kasih Tuan, kebaikan hatimu tidak akan pernah aku lupakan, karena kau telah merubah kehidupanku."
Darren langsung melepas pelukan Kimmy dengan cepat. Namun setelah itu, Darren terhenyak ketika manik matanya menangkap sosok wanita yang dicintainya, berdiri mematung di ambang pintu cafe, dengan sorot mata yang tampak sudah berkaca-kaca.
Dyra langsung membalikkan tubuhnya dan keluar dari cafe tanpa berkata sepatah kata pun. Sementara itu Darren dengan cepat melangkahkan kakinya untuk mengejar Dyra yang kini terlihat salah paham dengan apa yang telah dilihatnya.
Kimmy merasa sangat tidak enak, karena apa yang telah dilakukannya, sampai membuat kesalahpahaman di antara keduanya.
"Maafkan aku, Tuan."
Darren yang hendak keluar menghentikan gerakannya sejenak untuk menjawab permintaan maaf yang terlontar dari mulut Kimmy.
"Lain kali kau harus bisa menjaga sikapmu pada laki-laki yang sudah beristri. Kejadian ini pasti akan membuat istriku salah paham." Darren kembali menggenggam handle pintu dan membukanya lalu bergegas keluar untuk mengejar Dyra, yang saat ini tengah salah paham atas apa yang dilihatnya.
"Kenapa kamu langsung pergi, Dyra? Apa yang ada dipikiranmu aku telah mengkhianatimu?" batin Darren benar-benar cemas dengan kesalahpahaman ini.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini. Jangan pernah bosan ya untuk vote dan like ya setiap episodenya.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku yang sudah tamat :