
Selamat membaca!
Isco masih terlihat mengerang kesakitan setelah usahanya untuk mengambil pistol miliknya ternyata dapat dibaca oleh Benjamin yang seketika langsung memberikan beberapa pukulan, hingga membuat Isco kembali jatuh terkapar di lantai.
"Jadi bagaimana? Apa kau masih tidak ingin mengakui semua perbuatanmu?" tanya Benjamin yang terlihat semakin geram karena Isco masih saja keras kepala, walau situasi saat ini tak berpihak padanya.
"Perbuatan apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti dengan perkataanmu!" sanggah Isco yang masih tak ingin mengakui apa yang telah dilakukannya kepada Bella.
"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain ya selain membunuhmu!" Benjamin langsung mengambil pistol yang ada dibalik jas yang dikenakannya dan mengarahkan pistol tersebut ke arah dahi Isco yang seketika menelan salivanya dengan kasar. Terlebih di saat Benjamin mulai menarik pelatuk pada pistolnya, pria itu semakin bergedik ngeri dan mulai menyerah dengan kebohongannya.
"Baiklah aku akan jujur di depan polisi nanti. Sekarang bawalah aku ke kantor polisi!"
Perkataan Isco membuat Benjamin kembali menyimpan pistolnya ke dalam jasnya dan mulai melangkah untuk keluar dari kamar hotel sambil mencengkram kerah kemeja Isco dengan kasar.
"Ayo cepat ikut! Kau harus mempertanggung jawabkan segala kesalahanmu agar Nyonya Bella bisa bebas dari penjara."
"Aku tidak punya pilihan lain saat ini, tapi saat ada celah nanti aku akan melarikan diri," batin Isco sambil memikirkan rencana apa yang akan diambilnya.
Setelah melewati tangga darurat, akhirnya mereka tiba di dalam mobil. Kini Benjamin mulai melajukan mobilnya untuk keluar dari area parkiran hotel.
"Sepertinya pria ini memiliki sebuah rencana? Aku harus tetap waspada padanya," batin Benjamin yang sesekali melihat Isco untuk memastikan apa ikatan tangan pria itu benar-benar terikat dengan benar atau tidak.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Di rumah kediaman Irene, Ansel kini sudah terlihat duduk di sebuah sofa yang posisinya berhadapan dengan Irene yang saat ini telah duduk di samping ibunya.
Perasaannya sedikit gugup, terlebih saat seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan membuat kedua mata Irene seketika terhenyak dengan senyum yang terlihat ragu untuk mengembang.
"Appa," ucap Irene dengan suaranya yang terdengar pelan.
Kedua mata pria berwajah tegas itu, tak percaya bila kepulangannya saat ini disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya terkesiap.
"Irene, kamu pulang." Pria itu seketika menghampiri Irene yang tengah bangkit dan mematung di posisinya.
"Kenapa sudah selama ini, kamu baru pulang sekarang?" tanya pria itu dengan suaranya yang terdengar berat.
Melihat istri yang kini dicintainya begitu terisak, perasaan Ansel semakin merasa bersalah karena semua yang terjadi dengan semua kehidupan Irene adalah karena perbuatannya.
"Aku menyesal Irene, aku menyesal karena telah merenggut semua kebahagiaanmu. Sekarang walau aku meminta maaf seribu kali pun, itu tidak akan bisa mengembalikan waktu bahagia bersama keluargamu yang sudah banyak terbuang karena aku," batin Ansel sambil tertunduk lesu dan benar-benar merasa sangat bersalah.
"Appa, aku ke sini tidak sendiri. Aku datang bersama mertua juga suamiku," ucap Irene setelah mengurai pelukannya.
Pria yang bernama lengkap Park Ji-Sung itu memindai secara bergantian. Mulai dari sisi kanan di mana Dyra dan Cassandra duduk, lalu bergeser ke arah Darren sampai pandangan matanya terhenti setelah melihat Ansel, pria muda yang usianya sama dengan putrinya.
__ADS_1
"Jadi kamu adalah pria yang telah memerkosa putriku?" tanya Park Ji-Sung dengan tegas dan seakan luka lamanya kembali terkuak hingga membuat rahang pria itu mengeras dengan sorot matanya yang tajam.
Melihat pria itu menghampirinya, Ansel pun bangkit dari posisinya. Ia tidak takut, sekalipun pria itu sampai memukul, karena menurutnya itu harga yang pantas untuk diterimanya setelah apa yang telah ia lakukan kepada Irene, putrinya. Namun, Darren ikut beranjak dari sofa yang didudukinya dan mulai melangkah ke sisi kanannya untuk berdiri di depan Ansel.
"Ayah, duduk saja. Ini adalah urusanku, biar aku yang menerima kemarahannya karena itu pantas aku dapatkan." Ansel benar-benar berkata gentle, hingga membuat Darren pun seketika beringsut untuk kembali duduk pada kursinya semula.
Setelah beberapa detik, kini Park telah berdiri di hadapan Ansel dan tanpa aba-aba langsung memberikan sebuah tamparan keras tepat mengenai sebelah pipi Ansel. Tamparan yang membuat semua yang berada di dalam ruangan terkesiap.
"Ansel." Irene langsung berlari untuk melindungi suaminya yang saat ini sudah jauh berubah dan tak lagi sama seperti yang dulu.
"Appa, aku mohon jangan sakiti, Ansel," pinta Irene dengan rintihin air mata yang tengah membasahi kedua pipinya.
"Maafkan aku Appa. Aku memang salah karena telah menodai dan merusak hidup Putrimu, tapi saat ini aku mencintainya Appa dan aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia," ucap Ansel dengan penuh kesungguhan.
Kemarahan Park seketika mereda saat melihat kesungguhan dari raut wajah Ansel.
"Jika kau berjanji seperti itu, aku sebagai orang tua bisa apalagi. Ayo kemarilah, peluk Appa!" titah Park yang seketika mengembangkan senyuman dan tak ada lagi gurat amarah yang terlihat di raut wajahnya yang tegas.
Suasana yang sempat tegang kala itu seketika mencair dan berubah menjadi penuh haru. Kemarahan Park Ji-Sung yang dengan cepat mereda, ternyata sangat beralasan. Ya, pria itu memang merasa bersalah karena sempat tidak mempercayai perkataan putrinya tentang kehamilannya. Bahkan pria itu pun membiarkan Irene pergi begitu saja tanpa mencegahnya sama sekali.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung✍️