Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Geram Ansel


__ADS_3

Selamat membaca!


Ansel dan Irene sudah tiba di rumah kediaman Darren, setelah beristirahat sejenak di hotel. Namun bukannya menemani Irene menuju kamarnya, Ansel malah melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, yang sudah dapat Irene duga, jika suaminya ingin melihat keadaan Dyra yang terlihat menangis sewaktu mereka menjalani prosesi pernikahan.


Irene coba meraih tangan Ansel, untuk menahan kepergiannya, namun gerakan Ansel yang cepat membuat tangannya hanya mampu menggenggam udara.


Irene menatap nanar kepergian Ansel yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Kenapa kita tidak tinggal terpisah dengan Ayah dan mantan kekasihmu saja? Jika kita terus tinggal satu atap dengan Dyra, mungkin pernikahan ini tidak akan sanggup bertahan lama, terlebih saat ini kamu masih sangat mencintainya, walaupun saat ini statusnya sudah menjadi ibu tirimu," batin Irene begitu perih meratapi nasibnya yang menyedihkan.


Ansel kini sudah tiba di depan kamar Dyra. Saat Ansel ingin mengetuk pintu kamar, tiba-tiba pintu sedikit bergeser yang menandakan bahwa pintu itu tidak tertutup rapat.


"Ternyata pintu ini tidak terkunci. Sebaiknya aku langsung masuk saja untuk memberikan Dyra kejutan," gumam Ansel memutuskan.


Ansel mulai masuk dengan perlahan ke dalam kamar, lalu ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, kedua bola matanya terus mencari keberadaan Dyra yang saat ini ingin sekali ditemuinya.


"Ternyata Dyra tidak ada di sini, apa dia sedang berada di balkon?"


Ansel kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti, kali ini ia menuju ke arah balkon kamar yang berada di sudut ruangan. Ketika langkahnya sudah mendekati balkon kamar, Ansel mulai mendengar suara Dyra dan Darren sedang bercengkrama dengan bahagia. Keduanya terlihat saling melemparkan senyuman dan melengkapi satu sama lain, itulah yang ada dipikiran Ansel kala melihat Dyra sedang disuapi makannya oleh Darren.

__ADS_1


"Ternyata benar yang kamu katakan Dyra, jika kamu sekarang ini sudah bisa melupakan aku dan mencintai Ayahku," lirih Ansel dalam hatinya, sambil beringsut mundur dan memilih untuk keluar dari dalam kamar.


Ansel tak ingin mengganggu kebersamaan yang sedang terjalin di antara keduanya. Terlebih wanita yang dicintainya, kini sudah jatuh dalam pelukan Ayahnya sendiri. Tak ada alasan bagi Ansel untuk memisahkan ikatan pernikahan mereka, karena mau bagaimanapun Ansel sangat menyayangi Darren. Apalagi ketika Ansel mengingat kejadian 4 tahun silam, ketika mereka kehilangan sosok wanita yang sempurna, dengan cinta luar biasa untuk Darren juga Ansel. Selama 4 tahun itu juga, Ansel tak pernah melihat Ayahnya menjalin kasih dengan wanita lain dan bahkan ia lebih sering menghabiskan waktu di kamar sendirian.


"Melihat tawa dan kebahagiaanmu, aku pun merasa sangat bahagia, Ayah. Aku juga tahu pasti Ibu di surga sana, sudah bisa tenang melihatmu bahagia seperti ini," batin Ansel yang tanpa disadarinya, air mata lolos dari kedua sudut matanya yang dengan cepat diusapnya.


Ansel kini sudah menutup pintu kamar itu dengan sangat perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat Darren ataupun Dyra bisa mengetahui kedatangannya.


"Kamu pantas bahagia Dyra dan Ayahku adalah pria yang tepat untuk membuatnya merasakan semua itu," batin Ansel sambil mempercepat langkah kakinya untuk menuruni anak tangga.


Ternyata di bawah anak tangga Irene masih menunggunya dengan sabar. Ia terus menatap wajah Ansel yang kini juga ikut menatapnya.


"Kenapa apa tidak boleh? tanya Irene protes dengan menautkan kedua alisnya.


"Boleh saja. Tapi sebaiknya jangan, karena aku jadi muak dengan tatapan matamu itu!" Ansel mengeraskan rahangnya untuk menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap apa yang telah Irene lakukan.


"Ternyata kamu itu bukan cuma jahat tapi juga pelit ya. Mungkin lebih baik aku melihat monyet saja, pasti monyet itu tidak akan marah," ketus Irene bersedekap tangan lalu melangkah kakinya pergi begitu saja dari Ansel yang tercekat kaget mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Irene.


Ansel mencerna dengan cepat kata-kata itu, hingga mendidihkan amarah di kepalanya.

__ADS_1


"Kurang ajar jadi dia membandingkan aku dengan monyet!" gerutu Ansel yang dengan cepat menghampiri Irene.


Ansel kini sudah berdiri di hadapan Irene sambil berkacak pinggang. Raut wajahnya terlihat penuh amarah dengan sorot mata yang tajam.


"Apa yang kamu bilang tadi? Coba ulangi lagi!"


Irene membalas tatapan mata Ansel seolah menantangnya. "Bukan apa-apa, Tuan Ansel yang terhormat, hanya saja aku malas ribut dengan seorang pria yang tidak bisa move on dari mantan kekasihnya." Kali ini dengan sekuat tenaga, Irene mendobrak pertahanan Ansel dengan menabrak sebelah bahunya, yang membuat Ansel beringsut minggir, hingga membuka jalan bagi Irene untuk berlalu dari Ansel yang kini sudah semakin geram menatapnya.


"Awas kamu ya, mulai berani wanita itu kurang ajar. Tunggu pembalasanku," gumam Ansel berdecak kesal menatap kepergian Irene.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih banyak.


Jika berkenan yuk mari masuk GC aku, follow aku dan sertakan alasan kalian masuk GC aku biar cepat di ACC oleh kedua adminku.

__ADS_1


__ADS_2