Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Suga


__ADS_3

Selamat membaca!


Akhirnya dengan malu-malu, Irene pun mengikuti Ansel keluar dari mobil, ketika Steve sudah memberhentikan mobilnya tepat di pelataran lobi hotel.


"Ansel aku malu, masa aku harus kembali ke tempatku bekerja. Nanti kalau manajer hotel melihatku bagaimana?" tanya Irene yang terus mengikuti langkah Ansel menyusuri lobi menuju lift.


"Kalau manajer hotelmu melihat, kamu tinggal bilang aku suamimu. Lagipula kita ini kan memang suami-istri, jadi untuk apa kamu takut?" jawab pria itu dengan santai.


Mendengar perkataan Ansel, Irene pun menghadiahi pria itu sebuah cubitan pada pinggangnya yang membuat Ansel mengaduh kesakitan. "Sakit, Irene, aduh," keluh pria itu sambil menatap tajam wajah Irene yang seketika kembali teringat dengan tatapan menakutkan itu. Sorot mata itu yang dulu selalu memperlakukannya dengan kejam, hingga membuatnya beberapa kali menangis, terluka, dan begitu terhina.


Namun, tak lama kemudian raut wajah pria itu kembali tersenyum. "Tapi enggak apa-apa deh, masih jauh lebih perih rasanya saat ditinggal pergi sama kamu."


Senyuman Ansel seketika membuat Irene menjadi kebingungan sendiri. Ia tak menyangka sikap Ansel yang dulu arogan dan sangat sombong kepadanya, saat ini bisa berubah manis dan yang lebih membingungkan lagi pria yang memang masih berstatus sebagai suaminya itu lebih kekanak-kanakan dan terlihat manja.


Ansel meraih tangan Irene dan mulai menggenggamnya. "Aku bukan pria bodoh lagi yang akan menyia-nyiakanmu, Irene." Senyuman Ansel semakin terlihat manis, hingga membuat detak jantung Irene tak beraturan saat pandangan mereka saling bertaut dalam.


"Apa ini memang takdir yang Tuhan berikan untukku? Ya Tuhan, bila Ansel benar-benar sudah berubah, tolong yakinkan dan hapus semua kenangan kelam di masa lalu. Kenangan yang beberapa kali sering hadir dan membuatku takut berada didekatnya," batin Irene penuh harap.

__ADS_1


Langkah mereka kini sudah sampai di depan pintu lift. Tak butuh waktu lama untuk mereka menunggu karena pintu lift sudah langsung terbuka dan keduanya pun masuk.


Saat berada di dalam lift, tiba-tiba ponsel Irene berdering. Wanita itu pun langsung melepaskan genggaman tangan Ansel untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya. Kedua matanya memipih, saat pada layar ponsel ia melihat nama Nisa tertera di sana. Seketika wanita itu teringat akan perkataan sahabatnya, jika dirinya akan dijemput oleh Thomas, supir pribadi Ryan yang memang ditugaskan untuk menjemput Irene di hotel dan mengantarnya pulang kembali ke apartemen.


"Halo, Nisa. Kenapa?" tanya Irene memulai percakapannya di sambungan telepon.


"Irene kamu di mana? Itu Thomas dari tadi sudah menunggu kamu di mobil?"


"Maafkan aku Nisa. Tolong katakan pada Thomas, kalau aku tidak bisa pulang bersamanya. Aku sekarang sudah bersama Ansel."


"Iya Nisa, ceritanya sangat panjang. Nanti malam saat aku pulang, aku ceritakan sama kamu ya."


Tanpa diduga, Ansel langsung memotong pembicaraan yang sedang terjadi di antara kedua wanita itu. "Maaf ya Nisa, malam ini Irene juga enggak bisa pulang karena dia akan menginap bersamaku," ucap Ansel sambil mendekatkan mulutnya pada ponsel Irene agar terdengar oleh Nisa di seberang sana.


Irene langsung beringsut untuk menjauhkan ponselnya dari Ansel karena dirinya sangat malu jika sampai Nisa mendengar apa yang telah dikatakan oleh Ansel.


"Ansel, kamu jangan iseng dong ah," protes Irene yang membuat pria itu seketika kembali diam dan hanya memandangi Irene yang saat ini terlihat sedang kesal.

__ADS_1


Irene kembali menempelkan ponsel pada daun telinganya. Namun, sayangnya sambungan itu telah terputus. "Lah kok mati." Irene mengeluh dengan kening yang sudah berkerut dalam.


Wanita itu kembali menghadiahi beberapa cubitan ke arah pinggang dan perut pria itu hingga membuat sebuah kotak yang berada di saku jas Ansel terjatuh.


"Itu apa Ansel?" tanya Irene yang menghentikan gerakannya saat melihat ke arah kotak perhiasan yang terjatuh.


Ansel langsung membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kotak perhiasan itu. Setelah kotak itu berada dalam genggamannya, pintu lift pun terbuka yang menandakan bahwa mereka telah tiba di tujuannya.


"Nanti saja, kita ke kamar hotelku dulu ya." Ansel menuntun langkah Irene yang masih diselimuti tanda tanya tentang isi kotak itu.


Sebuah kotak perhiasan yang membuatnya teringat akan sebuah kenangan masa lalunya dengan seorang pria yang bernama Suga.


"Kenapa tiba-tiba aku teringat tentang Suga ya? Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang? Apa Suga sudah menikah?" gumam Irene yang kembali mengingat kenangan masa lalunya sebelum mengenal Ansel.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2