Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Kabar Buruk


__ADS_3

Jangan lupa berikan vote kalian ya, agar novel ini bisa masuk ranking vote dan tentunya akan menambah semangat untukku menulis. Sehat selalu semua.


Selamat membaca!


Kini Darren berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Owen setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, ekspresi wajah Darren menampilkan raut gelisah dan rasa cemas berlebih, berulang kali ia mengusap wajahnya dengan gusar.


Owen mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit sesuai perintah Darren, setelah ia mendapatkan kabar buruk dari petugas polisi, bahwa putranya mengalami kecelakaan dan masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Owen, mana ponselku?" tanya Darren setelah sekian lama berpikir apakah ia harus memberitahu Dyra soal kecelakaan yang dialami Ansel atau tidak. Darren tidak ingin jika kabar yang ia sampaikan akan membuat Dyra terguncang, terlebih saat ini ia tak berada di samping istrinya itu.


Owen dengan cepat meraih ponsel Darren yang berada di jok sebelahnya. "Ini Tuan, silahkan!" Owen langsung menyodorkan ponsel milik Darren.


Setelah menerima ponselnya, Darren yang ingin menghubungi Dyra, kembali berkutat dengan rasa bimbang di dalam pikirannya. Darren pun terdiam dan menghentikan jemarinya yang masih menggenggam ponsel di tangannya.


"Tapi jika Dyra mengetahui semua ini, aku takut dia tidak akan kuat mendengarnya. Sebaiknya aku tidak usah memberitahunya," batin Darren memutuskan.


Darren pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dyra. Ia lalu meletakkan ponselnya begitu saja di samping kursi.


"Lebih baik aku memberitahu Dyra ketika sudah pulang ke rumah nanti. Aku tidak ingin memberitahunya di saat aku sedang tak berada di sampingnya, aku yakin dia pasti akan sangat terpukul dengan berita ini, maka itu aku harus ada didekatnya sebagai sandaran untuknya saat ia rapuh," batin Darren benar-benar mencemaskan Dyra.


Darren berusaha tenang, merilekskan pikirannya yang kalut karena kondisi Ansel saat ini. Walau ia sangat geram terhadap putranya, setelah mendengar semua cerita dari Owen, tapi mau bagaimanapun rasa cemasnya saat ini, melebihi rasa kecewa atas semua yang telah dilakukannya kepada Irene.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang mereka akhirnya tiba di lobi UGD, salah satu rumah sakit ternama di Seoul. Darren terlebih dahulu keluar dari mobil, diikuti oleh Owen yang terlebih dulu menyambar ponsel milik Darren dan memasukannya ke dalam jasnya. Owen mempercepat langkahnya yang tertinggal dari Darren dan langsung menuju meja resepsionis untuk bertanya pada petugas resepsionis mengenai keberadaan Ansel.


Setelah mengantongi informasi dari petugas resepsionis, mereka melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan, yang menjadi tempat dimana Ansel masih mendapatkan penanganan dari team medis.


Setelah tiba di depan ruang UGD, Darren langsung duduk di sebuah kursi panjang dengan raut cemas di wajahnya.

__ADS_1


"Aku mohon Tuhan, selamatkan anakku. Apapun kesalahan yang telah dilakukannya, dia tetaplah anakku," batin Darren penuh harap.


Sejam telah berlalu, namun Darren masih tak memberitahu semua ini kepada Dyra, karena ia tak ingin membuatnya cemas.


Setelah menunggu lama di depan ruang UGD, akhirnya dokter pun keluar dengan menampilkan raut wajah penuh kekecewaan.


"Jadi bagaimana dokter, keadaan putra saya?" tanya Darren yang sudah berhadapan dengan sang dokter.


"Maaf Tuan, saya harus menyampaikan kabar buruk ini, pasien memang berhasil diselamatkan. Namun sayangnya, pasien harus kehilangan penglihatannya, karena benturan keras pada kepalanya, membuat kornea matanya rusak."


Kabar yang membuat Darren hanya mampu termangu dan tak dapat menjawab apapun, sampai akhirnya dokter pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Apa yang harus aku katakan pada Dyra juga Irene? Mereka pasti tidak akan kuat mendengar berita buruk ini," keluh Darren berpikir keras langkah apa yang harus dilakukannya.


Owen yang memang berada didekat Darren, langsung berusaha menenangkan tuannya itu yang saat ini benar-benar sangat terpukul, dengan apa yang disampaikan oleh dokter.


Darren langsung mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Owen dengan mengernyitkan dahinya. Setelah hanya diam termangu, akhirnya Darren mulai setuju dengan apa yang telah Owen katakan padanya.


"Baiklah Owen, aku akan beritahu mereka."


Owen tersenyum kecil, ia lalu memberikan ponsel pribadi milik Darren yang memang tersimpan di saku jasnya.


"Ini Tuan, silahkan!" ucap Owen sembari menyodorkan ponsel pribadi milik Darren.


Setelah Darren menerimanya, ia langsung menghubungi Dyra dan tak butuh waktu lama, Dyra yang memang sedang menuju ke kantornya, seketika menjawab panggilan itu.


"Iya halo, Hubby. Ada apa?" tanya Dyra menjawab panggilan dari suaminya.

__ADS_1


"Aku mau memberitahu saat ini, aku sedang berada di rumah sakit," jawab Darren penuh keraguan.


Dyra seketika menghentikan laju mobilnya, ia terhenyak kaget dan wajahnya langsung menampilkan raut cemas yang benar-benar tak dapat ditahannya.


"Kamu kenapa? Ini aku sedang menuju ke kantormu dengan Irene."


Kali ini Darren yang gantian terkejut, ia tak menyangka bila Dyra ternyata sedang menuju kantornya bersama Irene.


"Memang ada apa sampai kamu ingin bertemu denganku di kantor sayang? Kan bisa di rumah?" tanya Darren sejenak melupakan niat awalnya untuk memberitahu Dyra, tentang keadaan Ansel saat ini.


"Sebaiknya kita bicarakan saja saat ketemu, Hubby. Kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu berada di rumah sakit?" tanya Dyra dengan cemas.


Darren sejenak diam. Ia masih ragu untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin akan membuat Dyra sangat terpukul, bahkan bukan hanya Dyra saat ini yang ada dipikirannya, melainkan Irene, terlebih wanita itu saat ini sedang mengandung.


"Tapi aku tetap harus mengatakannya pada mereka," gumam Darren memutuskan walau berat.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih sudah selalu setia menunggu dan mengikuti ceritaku ini.


Jangan lupa berikan vote kalian dan like setiap episodenya.


Oh ya, mampir ke karyaku yang lain ya, menceritakan seorang mafia bernama Alex Decker dan seorang montir wanita bernama Sandra.

__ADS_1



__ADS_2