
Selamat membaca!
19 jam 15 menit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Ansel dan Irene kini selesai mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Seoul. Keduanya pun terlihat sudah melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Darren dan Dyra sudah menunggu kedatangan mereka.
"Ayo Irene! Katanya Ayah menunggu di sebelah sana." Ansel begitu antusias untuk bertemu kembali dengan keluarga yang memang sangat dirindukan olehnya.
"Iya sayang, sabar ya! Ini juga udah cepat." Irene pun ikut memacu langkah kakinya untuk mengikuti Ansel yang terlihat begitu tergesa di depannya.
Namun, saat Ansel mulai menyadari ketertinggalan Irene yang jauh di belakangnya. Pria itu pun kembali melangkah mundur dan mensejajarkan dirinya dengan sang istri karena tak ingin kejadian Irene menghilang terulang kembali.
"Okelah, sayang! Aku akan menunggumu saja, daripada kamu tiba-tiba ke toilet dan aku jadi panik lagi, mending aku sabar dan berjalan di sampingmu saja."
Perkataan Ansel membuat Irene terkekeh lucu hingga ia tak kuasa menahan gelak tawanya saat ini. "Kamu itu lucu banget sih sayang." Irene menghentikan langkah suaminya dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Ansel dan menatap dalam manik mata suaminya itu. "Jadi memang seberapa besar kamu takut kehilangan aku?" tanya Irene berbisik manja di daun telinga Ansel dengan suaranya yang menggoda.
__ADS_1
Bak tersengat aliran listrik, ditambah raut wajah istrinya yang terlihat sangat menggemaskan, Ansel pun sampai kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Bahkan sesuatu yang tadinya tertidur nyaman di bawah sana, kini mulai bangkit dan mengeras dengan sendirinya.
"Ya Tuhan, kalau Irene begini rasanya nanti saat sudah sampai di rumah, aku tidak mau keluar-keluar kamar," batin Ansel menahan gejolak birahinya yang mulai merayap naik karena bisikan sensual Irene pada telinganya.
Sadar apa yang mereka lakukan menjadi perhatian banyak orang, Irene pun melepas kedua tangannya dan kembali melangkah terlebih dulu meninggalkan Ansel dalam hasratnya yang saat ini berdecak tak karuan.
"Aduh, bagaimana ini? Aku belum bisa berjalan." Ansel langsung menutup juniornya yang telah mengeras, bahkan sampai membuat bagian retsleting pada celananya tampak sedikit menonjol dan entah berapa banyak mata yang telah melihat semua itu hingga membuat wajahnya memerah.
"Ayo tidur lagi junior, tidurlah! Setidaknya kamu itu harus sabar, sampai Irene melahirkan ya!" batin Ansel terus berlaga seperti seorang magician untuk bisa membuat juniornya kembali tertidur.
"Iya, sayang. Tunggulah sebentar ya!" Ansel agak berteriak agar suaranya dapat terdengar oleh Irene yang posisinya sudah beberapa langkah di depannya.
Setelah memastikan juniornya sudah kembali normal dan tak lagi membuat celana yang dikenakannya tampak menonjol pada bagian depannya, kini Ansel langsung bergegas menghampiri Irene sambil menahan rasa malunya.
__ADS_1
"Irene ada-ada aja deh. Apa dia tidak tahu, betapa susahnya aku menahan hasrat dalam diriku saat berada didekatnya? Aku takut jika kejadian itu bisa terulang lagi," batin Ansel yang masih trauma saat perut Irene harus mengalami kontraksi.
Saat langkah keduanya hampir tiba di tempat yang sudah ditentukan untuk mereka bertemu dengan Darren. Tiba-tiba dari tempatnya berada, Ansel dapat melihat jelas sosok Darren tengah berdiri dengan seorang pria yang baru dikenalnya. Pria yang memang dipekerjakan oleh Darren untuk mengawal Dyra setelah peristiwa yang hampir saja membuat nyawa istrinya itu melayang.
"Itu Ayah dan Amma." Tunjuk Ansel ke sisi kanannya dengan raut wajah penuh kebahagiaan karena pada akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan keluarga yang sangat dirindukannya.
"Iya sayang aku lihat." Irene pun mulai melambaikan tangannya ke arah Darren yang saat ini telah berpindah di samping Dyra, saat mengetahui putra semata wayangnya telah tiba.
"Akhirnya aku kembali juga ke Korea, tunggu aku ya Amma! Aku pasti akan membebaskanmu, tapi kira-kira siapa anak perempuan dan pria yang bersama Ayah itu ya?" batin Ansel yang penuh tanda tanya, hingga ia pun coba menanyakan hal ini kepada istrinya.
"Sayang, apa kamu tahu anak perempuan dan laki-laki itu siapa ya?" tanya Ansel kepada Irene yang langsung dijawab dengan sebuah gelengan kepala sambil mengedikkan bahunya, tanda bahwa ia pun tidak mengetahui apa yang Ansel tanyakan padanya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung ✍️