
Selamat membaca!
Setelah mobil terparkir, tanpa membuang banyak waktu, Darren bergegas keluar dari dalam mobil dan melangkah dengan terburu-buru memasuki ke lobi rumah sakit.
"Owen katakan dimana ruangannya!" tanya Darren dengan raut wajah yang tegas.
Owen yang memang mengikuti langkah Darren, dengan sigap menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh tuannya itu. "Lantai 3, Tuan, saat ini Nyonya Bella sedang dirawat insentif dan kondisinya masih belum sadar dari koma."
Darren mengerutkan kening dalam. Pikirannya saat ini masih belum sepenuhnya yakin, bahwa Bella yang dimaksud Owen adalah istrinya yang sudah tiada 4 tahun silam.
"Apa benar itu Bella? 4 tahun itu waktu yang sangat lama. Lantas selama itu dimana Bella tinggal, Owen? Apa kau sudah menyelidikinya?" tanya Darren dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Nyonya Bella sudah menikah di Spanyol dengan seorang pria yang bernama Isco Fernandez. Saya mohon maaf, Tuan, sejauh ini baru informasi itu yang saya dapatkan."
Darren terhenyak dengan semua yang dikatakan oleh Owen. "Jadi apa artinya semua ini Owen? Lantas wanita yang berada di rumah sakit itu, siapa dia? Wajahnya benar-benar wajah Bella, apa mungkin Bella memiliki seorang kembaran?" tanya Darren kembali dengan rasa penasaran yang sudah berputar-putar di kepalanya.
Namun, kali ini Owen belum dapat menjawab pertanyaan Darren, karena penyelidikan yang dilakukannya, baru sebatas silsilah sesuai dengan yang tertera pada paspor dan kartu identitasnya saja.
Setelah tiba di lantai 3, kini Darren dan Owen keluar dari lift dengan langkah panjang yang tergesa. Kini keduanya menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju sebuah ruangan yang berada di ujung lorong.
__ADS_1
"Jadi Bella sudah menikah, berarti selama ini dia telah menipuku mentah-mentah," geram Darren di dalam hatinya dengan rahang yang mengeras. Pria itu tampak begitu kesal dengan apa yang saat ini dihadapinya. Suatu kebohongan dari Bella, benar-benar membuat hatinya sangat kecewa.
"Ini kamarnya, Tuan." Owen menunjukan salah satu kamar yang berada di hadapannya.
"Baiklah, aku akan masuk dan memastikan sendiri apa itu Bella atau bukan!" ucap Darren yang langsung menggenggam handle pintu lalu mulai membukanya.
Setelah pintu terbuka, Darren pun masuk ke dalam ruangan dan Owen menunggunya di depan pintu.
Kini pandangan mata Darren tertuju pada sebuah ranjang yang terdapat sosok wanita dengan alat bantu pernapasan dan alat-alat medis lain di tubuhnya.
"Apakah itu kau, Bella?" tanya Darren semakin mendekati ranjang.
Saat ini kedua manik matanya sudah dapat melihat dengan jelas, wajah dari wanita yang sudah sejak tadi membuatnya begitu penasaran.
"Ternyata benar dia Bella," Kedua kaki Darren seketika melemah bagai jelly yang tak mampu lagi menopang raganya, pria tampan itu pun menyeret sebuah kursi yang memang berada didekatnya dan langsung melempar tubuhnya hingga terduduk di atasnya.
Darren mengesah kasar, sambil memijat keningnya dengan lembut, berharap rasa pening yang kini terasa di kepalanya, akan menghilang. "Aku tidak percaya dengan semua ini, bagaimana mungkin? Selama ini aku tidak tahu, jika Bella ternyata memiliki seorang kembaran. Berarti wanita yang ada di rumah sakit itu bukanlah Bella, tapi siapa wanita itu?" Darren masih tampak kesal dengan kenyataan yang saat ini baru diketahuinya. Ia sama sekali tak menduga, bila selama ini Bella sudah membodohinya dengan menyembunyikan kematiannya dan bahkan sampai bertukar peran dengan wanita yang ia duga sebagai kembaran Bella.
πππ
__ADS_1
Mobil yang Dyra kendarai kini sudah masuk ke area rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, wanita berparas cantik itu keluar dari mobil dengan tergesa. Ia langsung masuk ke lobi rumah sakit dan memulai pencariannya akan sosok Darren maupun Owen.
"Kira-kira mereka dimana ya?" tanya Dyra sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
Dyra memutar otak untuk berpikir keras dengan pandangan yang sudah fokus mencari ke setiap penjuru lobi. Namun, tiba-tiba saja tanpa di sengaja Dyra menabrak seorang pria yang sedang melintas di depannya. Tubuh Dyra yang telah hilang keseimbangannya, kini terlihat limbung dan hampir terjatuh ke dasar lantai, tapi sesaat sebelum Dyra terjatuh, pria berwajah tampan itu berhasil menangkap lengan Dyra dan menarik ke arahnya, hingga membuat tubuh mereka menjadi sangat rapat, dengan pandangan mata yang sudah saling bertaut.
"Maafkan saya Nona, tadi saya tidak lihat-lihat jalan karena sedang terburu-buru."
Dyra dengan cepat melepas genggaman tangan pria itu dan berdiri dengan tegap di hadapannya. "Iya saya juga minta maaf, karena saya juga sedang mencari keberadaan suami saya di rumah sakit ini."
Keduanya saling melempar senyuman ramah di wajahnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya ke arah yang berbeda.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.
__ADS_1
Mampir juga ya ke karyaku yang satu ini :