Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Permohonan Seorang Ibu


__ADS_3

📢 Tebarkan kebaikan kalian dengan memberikan vote dan tolong bantu rate semua karya saya ya, karena ada yang dengan sengaja menurunkan rate semua karya saya, grup dan orang yang sama, yang membuat karya saya Partner Ranjang di hapus sementara dari NT karena laporannya yang berlebihan.


✅ Jangan biarkan kejahatan menang, karena semesta akan selalu bersama dengan orang-orang yang mempunyai hati yang bersih dan ikhlas untuk saling menolong.


▶️▶️▶️▶️


Selamat membaca!


Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 60 tahun tiba di kediaman rumah Darren seorang diri, beberapa kali ia memohon pada petugas keamanan yang menjaga ketat rumah Darren, agar diizinkan masuk untuk menemui sang pemilik rumah. Wanita itu bernama Rose Florence.


"Saya mohon pak, tolong izinkan saya masuk untuk bertemu Tuan Darren atau Nyonya Dyra. Ini menyangkut akan nasib putri saya yang saat ini mendekam di dalam penjara." Perkataan itu berulang kali terlontar dari mulut Rose yang terus memohon pada petugas yang berjaga di gerbang utama, dengan air mata di wajah lusuhnya.


Petugas keamanan pun akhirnya mengiyakan permohonan dari wanita itu dan mengantarkannya sampai ke depan pintu utama.


Kebetulan Erin yang sedang berada di halaman rumah, menatap ke arah wanita paruh baya itu dengan kening yang mengerut dalam.


"Ada apa ini?" tanya Erin pada salah satu petugas keamanan yang bekerja di rumah besar ini.


"Wanita ini ingin bertemu dengan Nyonya Dyra, tolong tanyakan pada Nyonya, apakah dia berkenan untuk menemuinya?" jawab petugas itu dengan lugas.


Tiba-tiba saja Rose mendekat ke arah Erin dan melakukan hal yang sama sewaktu ia memohon pada petugas keamanan di depan tadi. "Saya mohon, tolong katakan pada Nyonya Dyra dan juga Tuan Darren, agar mau menerima keinginan saya yang sangat berharap bisa bertemu dengan mereka." Rose mengatupkan kedua tangannya yang bergetar dan air mata yang terus menetes.


Erin mengernyitkan dahinya, ia pun menatap iba ke arah wanita paruh baya itu yang saat ini sedang menangis begitu sedihnya.


"Tuan Darren tidak berada di rumah, Bu. Tuan baru saja berangkat ke kantornya. Kalau boleh bertanya, Ibu ini siapa ya? Dan ada keperluan apa dengan Nyonya dan Tuan?" tanya Erin penuh rasa heran dengan beragam pertanyaan di pikirannya.


"Kalau begitu saya ingin bertemu dengan Nyonya Dyra saja. Saya ini ibu dari Kimmy, tolong sampaikan pada Nyonya Dyra, saya mohon!"


Erin yang tidak mengetahui tentang siapa itu Kimmy hanya mengangguk, untuk mengiyakan permintaan wanita itu. "Saya akan menyampaikannya pada Nyonya, Ibu tunggu sebentar ya."


Erin pun melangkah masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Dyra yang saat ini sedang berada di kamarnya yang terletak di lantai dua. Setibanya di sana di depan pintu kamar, Erin mulai mengetuknya. Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka dan Dyra keluar dari kamarnya dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya.


"Ada apa, Erin?" tanya Dyra dengan santai.


"Begini Nyonya, di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan Nyonya."


"Siapa?" tanya Dyra mengerutkan keningnya.


"Tadi wanita itu bilang, dia adalah Ibu dari Kimmy, dia terus memohon dan berharap agar Nyonya mau menemuinya. Kondisinya sangat memprihatinkan, Nyonya."

__ADS_1


Kening Dyra mengerut dalam hingga kedua alisnya saling bertaut. "Untuk apa dia datang menemuiku?" gumamnya tidak suka.


Masih ada rasa kesal dalam hati Dyra pada wanita yang bernama Kimmy itu, karena wanita itu begitu percaya diri meminta Darren untuk menikahinya. Namun, mendengar penuturan Erin membuat Dyra tak sampai hati, menolak permohonan dari seorang ibu.


"Oh, baiklah. Aku akan menemuinya, Erin."


Dyra pun turun ke lantai bawah dan meminta Erin untuk membawa tamu yang datang menemuinya ke ruang tamu.


Setelah tiba kembali di halaman rumah, Erin memberitahu pada wanita paruh baya itu untuk mengikutinya menuju ruang tamu. Ada senyum yang terbentuk di wajah lusuhnya, saat Erin menyampaikan padanya bahwa Dyra mau untuk menemuinya. Wanita itu melangkah dengan langkahnya yang gontai menuju ruang tamu, yang luasnya berkali lipat dari rumah yang menjadi tempat tinggalnya. Rose berdecak kagum dengan kemewahan yang kini menyilaukan kedua matanya.


"Wah, ternyata Tuan Darren sekaya raya ini. Beruntung sekali yang menjadi istrinya," batin Rose melihat sekeliling rumah sambil terus melangkah menuju ruang tamu.


Dari kejauhan sosok wanita yang Erin sampaikan adalah ibu dari Kimmy, tampak jelas terlihat di manik mata Dyra. Ia pun terkesiap, ketika melihat kondisi wanita itu memang sangat memprihatinkan.


"Bu, mari duduk di sini." Dyra menawarkan wanita itu untuk duduk didekatnya tanpa ada rasa jijik.


"Terima kasih Nyonya atas kebaikan hati Anda, karena telah menerima kedatangan saya dan bersedia untuk menemui saya," ucap Rose dengan suara yang lirih dan hatinya bergetar akan kebaikan hati Dyra yang tak memandangnya sebelah mata.


"Sama-sama, Bu. Oh ya, Ibu tidak perlu sungkan ya, karena saya pasti akan menerima siapapun yang hendak bertamu ke rumah ini."


Raut wajah Rose yang semula sendu, kini perlahan mulai memudar karena melihat kebaikan hati Dyra yang telah menyambutnya dengan baik.


"Kalian boleh kembali bekerja ya dan tinggalkan kami berdua di sini," ucap Dyra dengan senyuman hangatnya.


Mereka pun mengangguk patuh dan beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.


Setelah suasana terasa hening, Dyra kembali menatap wanita paruh baya itu yang masih berdiri di hadapannya.


"Mari duduk, Bu." Dyra kembali menawarkan tamunya untuk duduk.


"Terima kasih, Nyonya," ucap Rose setelah duduk di sofa berwarna biru muda itu.


"Ibu boleh panggil saya Dyra, tidak perlu panggil Nyonya segala ya."


Rose semakin terpaku melihat tingkah laku Dyra yang begitu sopan dan sangat ramah, saat berhadapan dangan orang yang lebih tua darinya, hingga Rose diam memaku dan tak menjawab ucapan Dyra.


"Oh ya Bu, ada hal apa yang membawa ibu untuk datang ke sini untuk bertemu saya?" tanya Dyra memulai percakapan.


Rose mencoba menggerakkan mulutnya yang terasa kaku untuk berucap dan memohon pada orang baik seperti Dyra, terlebih perbuatan Kimmy sangatlah rendah, karena berniat untuk menghancurkan kebahagiaan rumah tangga Darren dan Dyra. Namun, perasaan seorang ibu yang begitu lemah melihat anaknya menderita, membuat Rose memberanikan diri untuk mengutarakan maksud dan tujuannya datang menemui Dyra.

__ADS_1


"Nyonya, saya Rose yang merupakan Ibu dari Kimmy. Anak saya telah berbuat kesalahan yang besar dengan berani melanggar perjanjian yang telah disepakatinya dan saat ini Kimmy telah dihukum atas perbuatannya itu. Tujuan saya datang ke sini, adalah untuk memohon pada Nyonya Dyra dan Tuan Darren untuk mencabut tuntutan pada Kimmy, agar anak saya bisa bebas, saya mohon Nyonya."!Perkataan Rose terhenti karena isak tangis yang menyesakkan dadanya.


Hati Dyra bergetar mendengar suara tangisan dari seorang ibu yang saat ini terlihat begitu rapuh, hingga membuat Dyra terjebak dengan kebimbangan untuk memilih apa yang akan diputuskannya.


Tiba-tiba saja Rose menjatuhkan tubuhnya dan duduk bersimpuh di atas lantai dengan membungkuk sembari memegang kedua kaki Dyra. Tangisannya semakin pecah dan terdengar lebih sendu dari sebelumnya.


"Nyonya saya mohon dengan sangat, tolong ampuni kesalahan Kimmy, anakku. Tolong jangan biarkan dia mendekam dalam penjara dengan waktu yang cukup lama. Hanya dia... Hanya dia yang saya punya, Nyonya. Kimmy adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki. Saya tahu kesalahan Kimmy sangatlah fatal, namun naluri seorang Ibu begitu tersiksa melihat putrinya menderita di balik jeruji besi."


Dyra tak dapat membendung perasaan sedihnya melihat Rose memohon kepadanya, kedua tangannya kini menggenggam lengan wanita itu untuk memintanya bangkit dan kembali duduk. Namun, Rose menolak dan semakin erat mendekap kedua kaki Dyra.


"Bu, bangunlah. Tolong jangan seperti ini."


"Tidak Nyonya, saya akan tetap seperti ini sampai Nyonya mengabulkan permintaan saya. Jujur Nyonya, saya tidak kuat melihat keadaan Kimmy di penjara, jika memang terlalu berat untuk Nyonya mengabulkan permintaan saya, lebih baik tukar saja posisi Kimmy dengan saya, Nyonya. Penjarakan saya agar dia bisa bebas."


Kini air mata mengalir deras dari kedua sudut mata Dyra, hatinya begitu sakit melihat seorang ibu berlutut dan memohon di hadapannya.


"Walau saat ini aku masih sangat membenci Kimmy atas apa yang telah ia lakukan, tapi sangatlah tidak mungkin untuk aku mengabaikan permohonan dari wanita ini. Seorang ibu yang rela memohon untuk kebebasan putrinya," batin Dyra bergelut dengan kebimbangannya.


"Bagaimana Nyonya? Saya berani jamin, jika Nyonya membebaskan anak saya, dia tidak akan pernah mengganggu Anda atau Tuan Darren lagi, dia juga tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya di hadapan kalian lagi," ucap Rose yang masih terdengar lemah, ia seperti kehabisan tenaga setelah terus menangis dan merintih di kedua kaki Dyra yang saat ini masih berada dalam dekapannya.


Dyra sejenak diam dan mulai mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum ia memutuskan.


Dyra mengesah pelan untuk membuang kebencian dalam hatinya dan coba memaafkan apa yang telah dilakukan Kimmy kepadanya.


"Baiklah Bu, saya akan meminta pada suami saya untuk membebaskan putri Anda, tapi tidak hari ini ya, kemungkinan besok Bu, karena hari ini suami saya sudah berangkat ke kantornya. Sekarang Ibu bangun dan duduklah! Biar saya ambilkan makanan dan minuman, karena kelihatan Ibu sangatlah lemah dan tidak bertenaga sekali," ucap Dyra yang merengkuh tubuh Rose lalu menuntunnya untuk duduk di atas sofa.


Dyra pun melangkah untuk menuju ruang makan, meninggalkan Rose seorang diri di ruang tamu.


"Betul katamu Kimmy, wanita ini memang sangatlah baik. Sebentar lagi kamu akan kembali bebas, semoga setelah itu kamu tidak akan membuat masalah lagi," ucap Rose sembari mengusap air mata pada kedua pipinya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


📢 Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak atas dukungan kalian untuk karyaku ini ya.


📢 Mampir ke karyaku yang ini ya, karena setelah ini aku akan fokus ke judul Sekretarisku Canduku, di sana akan ada cerita Irene saat tiba di Birmingham dan tinggal bersama Nisa di apartemennya.

__ADS_1



__ADS_2