Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Kebencian


__ADS_3

Berikan like setiap episodenya dan ayo vote agar karya yang kalian baca ini bisa masuk ranking vote. Terima kasih semua.


Selamat membaca!


Di taman belakang rumah, Ansel terlihat sudah duduk di sana. Sebuah kursi yang selalu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu sorenya, dengan menikmati berbagai bunga-bunga indah yang tumbuh di sana.


Dyra sejenak menghentikan langkahnya, ketika kedua matanya sudah dapat melihat sosok Ansel.


"Momen ini akan menjadi mudah, jika aku terbiasa dengan semua ini. Ansel adalah masa laluku, aku harus yakin dan membuang sejauh-jauhnya rasa di dalam hatiku untuknya," gumam Dyra menatap Ansel dari tempatnya terdiam.


Dyra kembali melangkah. Kini keberanian mendorongnya untuk melanjutkan kehidupannya tanpa menoleh kembali ke belakang. Hidup yang akan ia jalani bersama Darren, seorang pria yang memberikan ketulusan cintanya.


Ansel mulai menoleh ke samping, melihat kehadiran Dyra yang terus mendekat ke arahnya. Ansel beranjak bangkit dari duduknya. Ia menjemput langkah Dyra, dengan mendekat ke arahnya sebelum Dyra sampai di kursi taman.


Tanpa aba-aba langkahnya yang cepat langsung berlabuh dengan mendekap tubuh Dyra. Dyra pun terhenyak. Ia membulatkan kedua matanya dengan kedua tangan yang sama sekali tidak membalas pelukan Ansel.


"Maafkan aku Dyra, maafkan aku. Saat ini aku baru merasakan betapa sakitnya kehilanganmu. Sakit yang mungkin tidak akan pernah bisa aku lupakan." Ansel terdengar begitu lirih. Air matanya terus berlinang tak bisa tertahankan. Sakit begitu dalam, itulah yang saat ini Ansel rasakan.


Dyra mengesah pelan sambil melepas pelukan Ansel, yang sedari tadi hanya membuatnya termangu tanpa kata.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Kamu tidak perlu menyesali atas apa yang telah terjadi, saat ini yang kamu harus lakukan, menjadi pria yang lebih baik dengan jalan hidupmu yang baru. Dewasalah Ansel, terima kenyataan, walau itu sangat pahit untukmu." Dyra menangkup kedua sisi lengan Ansel lalu mengusap rambutnya yang membuat Ansel mulai tersenyum walau hanya terlihat samar.


"Terima kasih, Amma." Begitu perih Ansel mengucapkannya, hatinya terasa bergetar dengan hebat. Namun ia harus terbiasa akan hal itu, karena itu satu-satu cara untuk menebus semua kesalahan yang dilakukannya.

__ADS_1


Dyra ikut mengembangkan sebuah senyuman di paras cantiknya, menyambut senyuman Ansel, lalu kemudian ia mengajaknya untuk kembali duduk di kursi taman.


Pandangan mereka tertuju pada hamparan bunga-bunga, yang menjadi pemandangan yang sering mereka nikmati bersama.


"Kamu tahu Ansel, tadinya aku pun merasa, tidak akan bisa melanjutkan hidupku ini. Aku putus asa, bahkan untuk bernapas pun aku enggan sekali. Namun Ayahmu, memberikan aku semangat untuk menatap masa depanku lebih jauh. Hingga aku memutuskan untuk melangkah bersamanya, walau butuh waktu lama pastinya agar luka itu bisa sembuh, tapi aku yakin, inilah yang sepatutnya aku lakukan, sebagai tanda bahwa aku mempercayai bahwa Tuhan itu adil dan memiliki rencana yang indah untukku."


Ansel terus menatap dalam wajah Dyra dan mendengar semua perkataannya dengan seksama.


"Aku mengerti yang Amma katakan, tapi aku sepertinya tidak sekuat dirimu. Aku terlalu cengeng dan takut untuk menjalani sesuatu, yang tidak pernah ada dalam bayanganku sama sekali. Kamu memiliki Ayah yang sangat mencintaimu, sedangkan aku hanya sendiri."


Dyra menyentuh pundak Ansel, hingga membuat kepalanya yang kini tertunduk, kembali menoleh untuk menatapnya.


"Kamu salah Ansel, kamu tidak sendiri. Bahkan bukan hanya satu orang, melainkan dua nyawa yang akan selalu mendukungmu dan menemani hidupmu ke depan."


"Maksudmu?" tanya Ansel menautkan kedua alisnya dengan wajah polosnya.


"Irene dan anakmu. Jaga dan buatlah mereka bahagia. Berjanjilah pada Amma, kamu tidak akan menyia-nyiakan mereka. Kamu harus dewasa, hingga pantas menjadi suami sekaligus Ayah yang baik untuk anakmu kelak."


Ansel terhenyak dengan ucapan Dyra.


"Apakah kamu tidak membenci wanita itu?" tanya Ansel dengan raut wajah yang penuh selidik.


Dyra menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia lalu tersenyum ke arah Ansel, kali ini senyumannya bahkan terlihat lebih tulus dari sebelumnya.

__ADS_1


"Tidak, karena aku percaya ini adalah takdir terbaik untukku. Sama sepertimu yang harus yakin, bahwa akan ada pelangi setelah hujan, maka akan ada kebahagiaan setelah air mata itu datang. Kebahagiaanmu itu adalah Irene dan anak yang ada di dalam kandungannya."


Ansel terdiam dengan rasa kagum atas semua kalimat yang terlontar dari mulut Dyra.


"Kamu pasti bisa Ansel, fighting! Ya sudah aku masuk ya, jangan terlalu lama di luar karena cuacanya tidak terlalu bagus." Dyra memberikan semangat pada Ansel dengan mengepalkan tangannya, sambil beranjak dari posisi duduknya lalu perlahan melangkah pergi untuk kembali ke dalam rumah.


Ansel menatap nanar kepergian Dyra. Ia hanya bisa mengumpat di dalam hatinya, menyembunyikan rasa cinta yang tak pernah ada niat untuk dihilangkannya. Cinta itu akan tetap utuh untuk Dyra, walau kini status mereka sudah berubah dan tak akan mungkin lagi bersatu.


Tiba-tiba Ansel kembali teringat akan sosok Irene. Namun kali ini apa yang telah disampaikan oleh Dyra seolah tak mampu menembus hatinya yang saat ini sudah tertutupi oleh dendam dan kebenciannya, hingga Ansel tak dapat menyadari semua kesalahan yang telah dilakukannya kepada Irene.


"Aku bisa menerima kenyataan bahwa kamu saat ini bukan lagi milikku, tapi semua yang aku lakukan demi kebahagiaan Ayah, karena baru pertama kali aku melihat raut wajah bahagia itu terpancar di wajahnya sejak 4 tahun silam, saat Amma meninggal."


Raut wajah Ansel tiba-tiba mengeras dan terlihat sangat geram.


"Apapun yang kamu katakan, tidak akan bisa menghilangkan rasa benci di hatiku kepada Irene. Setelah ini aku akan membuat hidupnya lebih menderita lagi, terlebih saat di rumah yang baru tidak ada lagi yang akan mengawasi apalagi mencegahku untuk melakukan apapun yang aku suka pada wanita pembawa sial itu." Ansel memicingkan senyumannya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak atas segala dukungan kalian semua.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku yang lainnya :



__ADS_2