Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Hujan Meteor Geminid


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah selesai dengan dinner yang romantis. Darren dan Dyra kini sudah berada di atas gedung. Dyra ingin memperlihatkan kepada Darren tentang keindahan yang akan terjadi malam ini.


"Kamu harus melihat ini semua, karena hujan meteor geminid tidak akan berlangsung setiap tahun."


Darren menatap wajah Dyra dengan seksama. Ia mendengar dengan baik apa yang Dyra sampaikan kepadanya.


"Melihat wajahmu saja aku sudah melihat keindahan itu," puji Darren menatap dalam wajah istrinya.


Seketika Dyra langsung memeluk tubuh Darren dan membenamkan wajahnya di dada suaminya yang bidang itu. Mereka kini duduk berdampingan dengan beralaskan sebuah kasur tebal yang memang sudah disiapkan oleh Owen.


Saat ini baik Dyra dan Darren terus memandang ke arah langit, mengamati setiap meteor yang mulai berjatuhan dan menghiasi langit yang tadinya tampak gelap.



"Benar katamu, langit ini langsung berubah indah saat hujan meteor itu mulai berjatuhan."


Dyra tersenyum sambil menengadahkan kepalanya, menatap wajah suaminya yang juga mulai mengulas sebuah senyuman, saat melihat ke arah langit dengan hujan meteor yang saat ini sedang berlangsung.


"Aku bahagia, bisa bersamamu. Pada akhirnya takdir menuntun kita untuk dapat bersatu."


Udara malam semakin dingin. Darren yang mulai merasakannya, kini sejenak melepas dekapannya dan mengambil sebuah selimut yang memang sudah disiapkan oleh Owen.


"Malam sudah mulai terasa sangat dingin." Darren membentangkan selimut di belakang tubuhnya, lalu kembali duduk dan selimut itu pun mulai menyelimuti tubuh Dyra.


Kini keduanya sudah berada dalam hangatnya selimut, masih menatap keindahan langit yang saat ini menampilkan pijaran cahaya dari hujan meteor yang terus berjatuhan.

__ADS_1


"Aku akan terus mencintaimu dan suatu saat nanti, kita akan mengajak anak-anak kita untuk menyaksikan meteor ini bersama."


Dyra tersenyum manis mendengar semua perkataan yang terucap, dari mulut suaminya itu. "Aku selalu berdoa, Hubby, agar kita selalu bersama hingga maut memisahkan."


Darren memberikan kecupan dalam pada kening Dyra. "Itu pasti, sayang. Aku akan selalu berada di sampingmu, hingga kita menua bersama."


Keduanya kini larut dalam momen yang sangat romantis malam itu. Momen yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Dokter sudah tiba di rumah kediaman Ansel. Erin langsung mengantarnya untuk menuju kamar Ansel, dimana Irene masih tak sadarkan diri di atas ranjang.


"Selamat malam, Dok. Maaf mengganggu waktu Anda malam-malam begini."


"Iya, tidak masalah Tuan Ansel. Ini memang sudah pekerjaan saya. Jadi apa yang terjadi dengan istri, Anda?" tanya Dokter itu yang memiliki wajah tampan, dengan tinggi badan yang sedikit lebih tinggi dari Ansel.



"Tidak mungkin aku jujur, jika aku sudah mengusir Irene, hingga ia pingsan di depan pintu kamar," batin Ansel memutuskan.


"Entahlah, tapi tiba-tiba ia tak sadarkan diri begitu saja," kilah Ansel menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Biar saya periksa dulu keadaannya."


Dokter itu pun mulai memeriksa keadaan Irene dengan menggunakan stetoskop yang dibawanya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, akhirnya tibalah bagi sang Dokter untuk mengatakan hasil diagnosanya kepada Ansel.

__ADS_1


"Begini Tuan, sepertinya istri Anda hanya mengalami keletihan saja, memang detak jantungnya sangat lemah. Namun Anda tidak perlu khawatir, setelah beristirahat dalam beberapa jam, ia akan kembali sadar dengan sendirinya. Oh ya, tolong setelah istri Anda sadar berikan ia makanan yang banyak mengandung nutrisi untuk sumber tenaganya juga janin yang sedang dikandungnya."


"Baik dok. Kamu dengar itu Erin, lakukan sesuai dengan perintah yang Dokter itu katakan." Ansel melihat ke arah Erin yang saat ini berdiri di ambang pintu.


"Kalau bisa Anda sendirilah yang harus memberi perhatian lebih intens kepada istri Anda, karena pada kehamilan pertama seorang wanita memang sangat rentan terjadi keguguran, maka itu perlu peran suami untuk aktif di sini, apalagi itu adalah darah daging Anda sendiri."


Perkataan Dokter itu membuat Ansel tersentak kaget dan berpikir dengan keras.


"Baiklah kalau begitu. Ini ada resep vitamin yang harus ditebus di apotek untuk penguat janinnya. Saya permisi dulu ya, semoga istri Anda segera membaik kondisinya."


"Iya, terima kasih, Dok."


Dokter itu melangkah keluar kamar diikuti oleh Erin yang mengekor di belakangnya.


Ansel masih menatap ke arah Irene yang saat ini masih belum sadarkan diri. Pandangannya tampak berbeda kali ini, tatapannya lebih menampilkan raut cemas yang jelas terlihat dari kedua matanya.


"Tapi benar kata Dokter itu, mau bagaimanapun anak itu memang darah dagingku sendiri, jadi aku tidak boleh terlalu kejam terhadap Irene," batin Ansel bergumul dengan rasa bimbangnya.


Sementara itu di halaman rumah. Erin masih berdiri di depan pintu, melepas kepergian sang Dokter yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Terima kasih ya Dokter. Semoga Tuan Ansel menjadi lebih perhatian terhadap istrinya," ucap Erin dengan senyum di wajahnya.


"Semoga Erin. Kalau ada apa-apa hubungi saya saja dan jaga wanita itu dengan baik. Terlebih saat ini kondisinya bisa lebih memburuk, jika ia kembali mendapat tekanan dari Ansel."


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like setiap episodenya ya. Terima kasih banyak.


__ADS_2