Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Takut Kehilangan


__ADS_3

Selamat membaca!


Tengah malam setelah mereka selesai melakukan hubungan suami-istri, Irene terlihat sangat gelisah karena merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perutnya. Namun, ia merasa tak enak bila harus membangunkan sang suami yang saat ini tertidur dengan sangat lelap dalam dekapannya.


"Perutku kenapa terasa sakit sekali ya?" tanya Irene yang mulai beringsut dan melepas tangannya dari tubuh Ansel.


Sakit yang semakin meremas bagian dalam perutnya. Membuat wanita itu merintih dan Ansel pun perlahan mulai terjaga dari tidurnya.


"Irene, kamu kenapa?" tanya pria itu yang seketika langsung bangkit saat kedua matanya mulai melihat sang istri kesakitan di sampingnya.


"Enggak tahu nih, aku juga bingung soalnya enggak biasanya seperti ini, Ansel." Irene benar-benar tak dapat lagi menahan rasa sakit pada perutnya hingga bulir-bulir bening mulai membasahi manik matanya yang saat ini terpejam karena menahan rasa sakit itu.


"Irene, apa kamu kuat kalau berjalan sendiri?" tanya Ansel yang kini mulai panik sambil mengusap punggung istrinya itu.

__ADS_1


"Sakit banget, Ansel. Sepertinya aku enggak kuat jalan deh." Irene menjawabnya dengan air mata yang semakin menetes deras hingga membasahi kedua pipinya.


"Aku akan menggendongmu. Sekarang kita ke rumah sakit ya!" Tanpa membuang banyak waktu, pria itu dengan cepat meraih sebuah tas pinggang yang langsung ia lingkarkan pada tubuhnya dan mulai memasukkan dompet juga ponsel miliknya juga Irene ke dalam tas tersebut. Setelah siap dengan semua barang bawaannya, kini Ansel langsung merengkuh tubuh Irene yang masih meringkuk kesakitan di atas ranjang.


"Ya Tuhan, perutku sakit banget," gumam Ansel yang mulai merasakan sakit pada bekas jahitan di perutnya. Namun, ia tak ingin membuat Irene ikut cemas dengan keadaannya hingga akhirnya Ansel pun merahasiakan semua itu dari sang istri.


Ansel kini terus melangkah membawa tubuh Irene keluar dari kamar hotel. Langkahnya tampak begitu berat dengan beban dan rasa sakit yang ia rasakan secara bersamaan, ditambah lagi rasa cemas akan kondisi sang buah hati yang saat ini berada di dalam kandungan Irene, membuat pria itu benar-benar terlihat sangat kacau.


"Tidak apa-apa sayang, lagipula sebentar lagi juga kita sampai di lift. Sabar ya, kamu tahan dulu, tapi anak kita gimana ya? Apa dia tidak apa-apa sayang? Sumpah saat ini aku cemas banget." Ansel begitu takut kehilangan sang buah hati yang sangat dicintainya, ia tak ingin jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada kandungan Irene.


"Iya sayang, semoga saja anak kita tidak apa-apa ya. Aku juga bingung karena ini pertama kalinya aku merasakan sakit yang luar biasa seperti ini." Jawaban Irene tak mampu dicerna dengan baik oleh Ansel. Maklum saja, ini adalah pengalaman pertama baginya dan ia benar-benar tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya saat ini.


"Ya Tuhan, aku mohon jagalah anak dan istriku. Aku tidak ingin kehilangan mereka," batin Ansel yang terus berharap dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


Saat langkah pria itu hampir tiba di depan lift, seorang pegawai hotel tiba-tiba melintas di depannya dan melihat raut wajah Ansel yang begitu kewalahan saat menggendong Irene.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu? Kalau Anda mau saya bisa bawakan kursi roda ke sini Tuan?" tanya seorang pegawai hotel yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Ansel.


"Iya sudah, tolong cepat ya, Nona!" Ansel pun mulai mengatur ritme napasnya yang sudah terdengar sangat payah sambil menunggu kedatangan pegawai hotel yang menawarkan sebuah kursi roda padanya.


"Syukur hotel ini menyediakan kursi roda ya sayang." Irene dapat bernapas dengan lega saat ini karena ia sudah dapat membaca dari raut wajah suaminya itu bahwa Ansel benar-benar kewalahan menahan berat tubuhnya yang saat ini tengah mengandung anaknya.


"Ansel, aku bersyukur karena kamu saat ini telah berubah menjadi suami yang begitu perhatian. Aku sangat bahagia, apalagi ketika melihat kecemasan di raut wajahmu, aku benar-benar dapat melihat jika kamu sangat takut kehilanganku juga calon anak kita," batin Irene dengan manik mata yang saat ini tampak berkaca-kaca karena terharu dalam kebahagiaannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2