
Sebuah karya dengan cerita baper, action dan ending mengharukan di dalamnya. Seorang wanita bernama Alice harus menikah dengan seorang Raymond Weil, seorang CEO yang sangat arogan.
Novel ini sudah tamat, yuk bantu Author buat nambahin views-nya. Terima kasih sahabat semua.
Selamat membaca!
Di dalam kamar, Darren sudah bersiap dengan stelan kantor, lengkap dengan jas hitam juga dasi yang melingkar pada kerah kemejanya. Sementara itu Dyra yang baru keluar dari bathroom, masih mengenakan bathrobe yang membalut tubuh indahnya. Mereka memang sudah sejak pagi menghabiskan aktivitas bersama di dalam bathroom dengan berendam air hangat dan melakukan olahraga pagi dengan saling memberi kenikmatan satu sama lain.
Entah kenapa semenjak hamil, Dyra menjadi lebih manja kepada Darren. Bahkan gejolak dalam dirinya begitu menggebu, hingga membuatnya sering meminta terlebih dahulu untuk melakukan hubungan suami-istri.
"Hubby, maaf ya, karena keinginanku yang aneh-aneh kamu jadi terlambat ke kantor," ucap Dyra sambil mengalungkan kedua tangan pada leher suaminya.
Darren mengembangkan senyuman dari kedua sudut bibirnya. "Tidak apa sayang, aku malah senang bila kamu yang memintanya terlebih dulu. Bahkan jika kamu menginginkan aku untuk tidak ke kantor hari ini, aku tidak masalah sayang."
Dyra menggelengkan kepalanya tanda ia tak setuju dengan perkataan Darren. "Jangan sayang, kita kan masih bisa melakukannya malam nanti."
Darren menempelkan dahinya pada kening Dyra, membuat wajah keduanya begitu dekat hingga tak terelakkan lagi, sebuah pagutan mesra mereka lakukan kembali, seolah tak puas dengan apa yang telah keduanya lakukan selama berjam-jam di dalam bathroom.
Dyra terus memainkan lidahnya hingga menyapu bersih setiap rongga mulut Darren, begitu juga Darren yang tak mau kalah dari Dyra. Pria tampan itu sangat lihai memainkan lidahnya untuk memberikan sensasi yang luar biasa saat keduanya berciuman, sensasi yang membuat seorang Dyra Anastasya merasa kecanduan dengan ciuman yang Darren berikan.
Setelah beberapa menit saling memagut mesra, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar disertiai suara Owen yang memanggil nama Darren dengan pelan. Keduanya pun seketika melepas ciuman mereka.
"Sudah biarkan saja, sayang!" titah Darren yang kembali melanjutkan hobi barunya dengan meremas bukit kembar Dyra, setelah berhasil melepaskan bathrobe yang dikenakan oleh Dyra.
__ADS_1
Namun, baru saja Darren hendak mengulumnya dengan cepat Dyra langsung menghalangi kepala Darren sambil beringsut untuk merenggangkan jaraknya yang sudah begitu rapat dengan tubuh Darren. Jarak yang begitu dekat, hingga membuat adik kecil milik Darren yang sudah menegang benar-benar terasa di permukaan kulitnya.
Dyra lalu mengambil bathrobe yang terjatuh di dasar lantai dan kembali mengenakannya. Setelah itu ia merapikan dasi yang kini terlihat miring pada kerah kemeja Darren dan tak hanya itu, Dyra juga meluruskan jas yang dikenakan suaminya.
"Sudah selesai, Hubby. Kamu itu benar-benar sangat tampan," puji Dyra dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ya sudah kalau begitu aku jalan dulu ke kantor ya, sayang. Oh ya, kamu tidak perlu turun, tetaplah di kamar! Jika ingin apapun panggil Erin dengan menelponnya. Nanti aku tidak akan pulang malam, karena setelah meeting selesai aku akan langsung pulang dan biar Owen yang menyelesaikan pekerjaanku lainnya."
"Iya sayang, kamu tidak perlu mencemaskan aku," jawab Dyra dengan senyum yang terlukis di wajah cantiknya.
Darren mengecup kening istrinya dengan lembut, sebelum ia keluar dari kamar. Sementara itu Dyra, melanjutkan langkah kakinya untuk menuju walk in closet untuk mengambil pakaian yang akan dikenakannya. Namun, tiba-tiba ia melihat tas kerja Darren yang tertinggal di atas nakas.
"Kamu ini gimana sih, Hubby? Kenapa tas kamu yang sepenting ini bisa tertinggal? Tapi ini pasti karena ulahku yang selalu mengganggunya dengan kemanjaanku." Dyra langsung menyambar pakaian untuk dikenakannya dengan tergesa-gesa.
🍂🍂🍂
"Selamat pagi, Tuan," ucap Owen menepikan sejenak keraguan yang masih bergelut dalam pikirannya.
"Pagi, Owen. Kenapa baru cuti satu hari kau sudah masuk?" tanya Darren yang aneh dengan perubahan Owen yang tiba-tiba saja menghubunginya semalam.
"Iya Tuan, ada hal penting yang ingin saya ceritakan, tapi tidak bisa di rumah ini karena saya takut Nyonya Dyra mendengarnya."
Langkah Darren terhenti di pertengahan anak tangga. Ia menatap wajah Owen dengan sorot matanya yang tajam. "Katakan ada apa? Aku sangat mengenalmu, Owen. Pasti ini hal yang sangat penting sampai saat kamu mengatakannya, terdengar gugup di telingaku."
Owen mengesah kasar. Ia pun sudah tak memiliki alasan untuk menyimpan rahasia yang ia ketahui lebih lama lagi.
__ADS_1
"Aku harus mengatakan ini pada Tuan Darren, karena aku ingin tahu apa pendapatnya dan apa yang harus aku lakukan setelah ini, sedangkan kondisi wanita itu sampai saat ini masih koma," batin Owen memutuskan.
"Katakan sekarang, Owen!" titah Darren mengulangi kalimatnya.
Perintah Darren langsung membuyarkan lamunan Owen. "Begini Tuan, ini tentang Nyonya Bella."
Darren terhenyak kaget dengan rasa heran yang saat ini langsung menaungi pikirannya.
"Apa maksudmu? Bella? Tapi kenapa setelah sekian lama kita tidak pernah membahas Bella, sekarang kau ingin membicarakannya?" tanya Darren dengan kedua alis yang saling bertaut.
Owen tercekat dengan tanggapan Darren. Ia pun mulai menguatkan dirinya untuk mengatakan rahasia yang sudah tak bisa ia tutup-tutupi lagi dari Darren.
"Maafkan aku Tuan, sebenarnya aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu dengan Nyonya Dyra. Namun, bagaimanapun juga Nyonya Bella pernah menjadi bagian dari hidupmu di masa lalu, jadi kau harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya," batin Owen sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
▶️ Berikan komentar kalian.
Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua.
📢 Jangan lupa vote yang banyak ya.
▶️ Mampir juga ke novelku yang lain, sudah tamat, Istri Ketiga Mas Bram :
__ADS_1