
Selamat membaca!
Ansel terpelanting hingga tubuhnya jatuh tepat di depan mobil tersebut. Suara benturan yang terdengar keras membuat Irene menghentikan langkah kakinya dan menoleh untuk melihat ke arah sumber suara.
"Ansel ...." Kedua mata wanita itu membulat sempurna saat melihat suaminya terkapar di depan mobil dalam kondisi sudah tak sadarkan diri.
Sadar akan kesalahannya karena egonya telah membuat Ansel menjadi celaka, Irene pun berlari dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Ia langsung menghampiri tubuh Ansel yang sudah dikerumuni oleh beberapa pengunjung hotel lainnya. Termasuk sang penabrak yang ternyata adalah Tania dan Steve.
"Pria itu kan yang tadi bertemu denganku di apartemen saat aku mengembalikan ponselnya. Pria yang juga telah menolong Oma," batin Tania melihat wajah Ansel yang ternyata adalah pria yang sudah dua kali ditemuinya.
"Ansel, bangun Ansel!" Irene terus meneriaki Ansel agar sadar dan menjawab pertanyaannya. Saat ini, Irene tengah duduk bersimpuh dan meletakkan tubuh Ansel dalam pangkuannya.
"Irene." Steve seketika dibuat terkejut saat melihat Irene menangis terisak sambil meratapi kondisi pria yang ditabraknya.
Tania pun menoleh menatap kakaknya yang ternyata mengenal sosok wanita yang saat ini terus meratapi kondisi Ansel.
"Ternyata Steve mengenal wanita itu dan dia bernama Irene," batin Tania sambil melihat Irene yang sangat cemas dengan kondisi Ansel saat ini.
__ADS_1
Kecelakaan yang memang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan Steve karena tiba-tiba Ansel melintas di depan mobilnya hingga membuatnya tertabrak.
Panggilan Steve membuat Irene, menoleh ke arahnya. "Steve, ternyata kamu yang sudah menabraknya?" Irene menanyakan itu dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Maafkan aku Nisa, pria itu tiba-tiba muncul begitu saja."
"Maaf Nona, Kakak saya memang tidak bermaksud menabraknya. Pria ini yang salah karena melintas di depan mobil kami tanpa melihat kondisi jalan sebelum menyeberanginya." Tania membela sang kakak yang memang sesuai dengan kenyataan yang ada.
Irene hanya diam dan kembali menatap Ansel yang saat ini masih belum sadarkan diri.
"Memang siapa pria itu, Irene? Kenapa kamu sepertinya sangat mengenalnya?" tanya Steve dengan kening yamg berkerut dalam.
"Ya Tuhan, ternyata pria itu adalah suami Irene dan aku telah menabraknya," batin Steve yang begitu termangu dengan rasa bersalahnya.
"Kak, lebih baik kita bawa dia segera ke rumah sakit!" Tania menyadarkan lamunan Steve yang langsung mendekati Ansel untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
Steve mulai mengangkat tubuh Ansel dibantu dengan beberapa orang pengunjung laki-laki lain yang ada di sekitar tempat kejadian. Saat itu, Lucas tak berada di sana karena ia tidak mengetahui bahwa Ansel tertabrak mobil.
__ADS_1
Setelah berhasil membawa masuk tubuh Ansel ke dalam mobilnya, Steve langsung memutari mobilnya untuk segera duduk di kursi kemudi. Tania pun sudah duduk di samping Steve, begitu juga Irene yang tengah meletakkan kepala Ansel di atas pangkuannya.
"Ansel bertahanlah! Maafkan aku karena rasa trauma ini masih begitu menyakitkanku. Aku mohon berikan aku kesempatan Tuhan, untuk bisa hidup kembali bersama suamiku," ucap Irene begitu lirih yang telah dipenuhi penyesalan di dalam dirinya.
Sementara itu Steve, mulai melajukan mobilnya dan mobil pun bergerak sangat cepat membelah lalu lintas kota Birmingham. Namun, kala itu kondisi jalanan terlihat sangat padat, sehingga membuat Steve kembali harus memperlambat kecepatan mobilnya.
"Sial, macet." Steve memukul kemudinya setelah mobilnya terhenti akibat lalu lintas yang semakin memadat.
Tiba-tiba saja napas Ansel berubah menjadi tak beraturan. Saat itu pikiran Irene benar-benar dipenuhi rasa takut akan kehilangan suami yang sebenarnya masih sangat dicintainya. Namun, karena trauma akan masa lalu atas semua perlakuan kejam Ansel, membuatnya sulit untuk dapat mengakui isi hatinya.
"Ansel, kamu kenapa?" Irene semakin panik, saat tiba-tiba napas Ansel seketika terhenti. Bahkan wanita itu sampai meletakkan jemarinya di depan hidung suaminya untuk memastikan apa Ansel masih bernapas atau tidak.
Tangisan Irene pecah seketika, saat jemarinya tak dapat merasakan hangatnya napas Ansel. Pikirannya seketika membeku dan hanya dapat menangis dengan terisak. Ia pun sampai meneriaki nama suaminya beberapa kali, yang terdengar begitu pedih. Teriakan yang membuat Steve dan Tania menjadi panik karena mau bagaimanapun jika Ansel sampai tiada masalah ini akan menyeret Steve dalam kasus hukum.
"Kenapa Irene?"
"Ansel, Steve ...." Irene tak dapat melanjutkan perkataannya, karena ia benar-benar sudah tak mampu lagi berkata-kata selain hanya menangis dan terus menangis.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️