
Selamat membaca!
Setelah tiba kamar hotel, Ansel langsung menuju bathroom untuknya membersihkan dirinya dan mengganti pakaian. Sementara itu Irene menunggu di ruang tamu sambil melihat-lihat seisi ruangan.
"Aku enggak nyangka, jika akhirnya Ansel akan menemukanku sampai ke sini," batin Irene yang akhirnya melabuhkan tubuhnya untuk duduk di sofa.
Tak ingin membuat Irene menunggu, Ansel sudah kembali dan langsung mendekati Irene dengan duduk di sebelahnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 yang artinya malam mulai menyelimuti langit dengan sinar bulan yang menggantikan mentari.
"Aku ingin membawamu pulang, Irene." Ansel menatap dalam wajah wanita itu yang saat ini terlihat gugup saat dirinya mulai duduk di sebelahnya.
Tanpa menatap Ansel, Irene yang saat itu masih bimbang dan hanya diam membisu dengan pikirannya yang bimbang. Sampai akhirnya, Ansel menangkup kedua lengan Irene dan menghadapkan tubuh wanita itu untuk berhadapan dengannya.
Di sinilah untuk pertama kalinya Irene menatap dalam kedua bola mata Ansel hingga ia menemukan sebuah kenyamanan di sana.
"Kenapa saat menatapnya hatiku jadi begitu tenang? Ini sangat berbeda dengan yang dulu. Saat ini, aku benar-benar dapat melihat jelas perubahan dalam diri Ansel lewat sorot matanya. Oh Tuhan, aku mohon yakinkan diriku bahwa memang suamiku sudah berbeda dengan yang dulu," batin Irene masih diam dan hanya menatap dalam kedua mata Ansel.
__ADS_1
Tanpa izin dari Irene, Ansel melabuhkan sebuah kecupan pada dahi wanita itu dan sejenak ia terdiam di sana.
"Perasaan apa ini? Kenapa rasa benciku terhadap Ansel seketika hilang dan saat ini aku merasa sangat bahagia karena ternyata suamiku telah berubah menjadi sosok yang sangat aku harapkan dulu," batin Irene dengan ritme jantungnya yang tak beraturan.
Setelah cukup lama mengecup dahi Irene, Ansel pun melepaskan bibirnya dari kening sang istri, lalu kembali menatap dalam wajah cantik Irene dengan penuh kesungguhan.
"Aku mencintaimu Irene. Maaf ya kalau dulu aku sering menyakitimu. Sekarang aku ingin kita memulainya lagi dari awal, apakah kamu mau memberikan kesempatan itu padaku?" Kesungguhan Ansel tak terbantahkan lagi, hingga membuat Irene yang awalnya masih dihantui keraguan, kini seketika hilang dan berubah menjadi keyakinan bahwa pernikahannya dengan Ansel memang harus dilanjutkan.
Irene terlihat mengumpulkan segenap keyakinan dalam dirinya sebelum ia mengatakan jawabannya kepada Ansel. Sementara itu, Ansel masih menunggu dengan penuh rasa cemas. Ia sangat takut bila Irene tak mempercayai apa yang dikatakannya. Namun, harapan itu masih terus digantungkannya dan tak pernah padam.
Setelah lama hening tanpa kata, kini senyuman itu mulai mengembang dari kedua sudut bibirnya. Irene pun terlihat sudah mulai yakin untuk memberikan jawaban yang sangat dinantikan oleh pria yang saat ini ada di hadapannya. "Aku mau Ansel, bukan hanya demi anak kita, tapi karena aku juga mencintaimu."
Perkataan Irene benar-benar membuat Ansel tak dapat menutupi kebahagiaan yang saat ini tengah membuncah dalam dirinya. Pria itu langsung menarik tubuh Irene dan memeluknya dengan erat.
"Terima kasih Irene, terima kasih karena kamu sudah mempercayaiku dan memberikan kesempatan padaku."
__ADS_1
"Iya Ansel, aku juga bahagia." Wanita itu membalas pelukan Ansel dan keduanya pun saling melepas kerinduan yang selama ini tertahan dalam diri mereka karena sempat terpisahkan.
Tiba-tiba momen mengharukan itu harus terjeda, ketika dering ponsel Ansel berbunyi memecahkan keheningan yang ada saat itu. Pria itu pun melepas pelukannya dan kemudian beranjak dari sofa untuk mengambil ponsel yang memang diletakkannya di atas nakas.
Setelah ponsel itu berada dalam genggamannya, Ansel mulai menatap layar pada ponsel dengan mengerutkan keningnya dalam. "Siapa ini?" tanyanya penuh tanda tanya.
Ansel pun menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya, setelah ia menggeser tanda hijau pada layar ponselnya.
"Iya halo, siapa ini?"
"Halo Ansel ...." Perkataan itu terdengar lirih hingga membuat Ansel mulai teringat dengan sosok Bella, ibunya yang telah lama meninggal.
"Tidak mungkin, suara ini ... Amma," ucap Ansel dengan penuh keraguan.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung✍️