Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Hancur


__ADS_3

Selamat membaca!


Ansel masih tak terkendali melampiaskan segala kekesalan atas keadaan yang saat ini ia terima. Namun semua berubah tatkala suara Dyra mulai menyelinap masuk ke dalam rongga telinganya. Suara dari wanita yang sampai saat ini masih sangat dicintainya, walau sudah tak mungkin untuk dapat ia miliki lagi.


Darren memilih untuk mendekat ke arah Irene, yang entah kenapa hanya diam mematung dari tempatnya, menahan isak tangis sambil menatap Ansel.


"Kamu tidak terluka?" tanya Darren khawatir akan kondisi menantunya saat itu, yang terlihat begitu sesak menahan kesedihannya.


Irene tak menjawabnya, ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Darren kepadanya. Wanita itu memilih untuk tetap diam, ia tak mau kehadirannya diketahui oleh Ansel, yang sudah mengusirnya secara kasar dan tidak menginginkan keberadaannya.


"Ansel, tolong kendalikan dirimu! Percayalah semua akan baik-baik saja." Dyra terus mendekat ke arah Ansel, sampai akhirnya ketika ia tiba di samping ranjang, Ansel langsung merengkuh dan memeluk erat tubuh Dyra, hingga membuatnya terkesiap begitu kaget.


"Sekarang aku buta, harusnya saat ini aku sedang bahagia bersamamu, tapi malah semua kesialan ini terus menimpaku. Aku benci wanita itu, aku membencinya karena dia hanya membawa kesedihan untuk hidupku." Ansel menangis dalam pelukan Dyra, ia terus meracau, mempersalahkan semua yang telah menimpa dirinya adalah karena kehadiran Irene dalam hidupnya.


Hati wanita mana yang tidak terluka mendengar suaminya mengatakan hal yang demikian. Namun Irene berusaha kuat, ia tahu jika air mata tidak akan bisa merubah segala penilaian Ansel terhadapnya.


"Maafkan aku Ansel. Andai aku tahu jika pernikahan kita akan seperti ini, mungkin aku akan memilih untuk membesarkan anak ini seorang diri..." Irene menjeda suara hatinya yang merintih menahan rasa sakit.


Irene mengusap air matanya sembari menarik napasnya dalam.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir, semua keinginanmu pasti akan segera terjadi. Aku akan pergi sejauh-jauhnya dari hidupnya untuk selamanya," sambung Irene memutuskan jalan yang akan dipilihnya.


Darren terus melihat ke arah Dyra dan Ansel, ada rasa cemburu yang datang menyapanya. Namun dengan cepat Darren menampik semua itu jauh-jauh.


Dyra dan Darren kini saling menatap, pandangan mereka bertaut dalam. Dyra seolah mengirim sebuah pesan lewat sorot matanya, yang dapat dibaca oleh Darren dengan sangat baik, pria tampan itu pun tersenyum ke arah istrinya, yang saat ini sedang dibalut keraguan dalam hatinya.


"Aku mengerti Hubby. Saat ini aku adalah Ibu dari Ansel, jadi aku harus menguatkannya, tak peduli anggapannya terhadapku seperti apa, yang terpenting bagiku, dia bukan lagi pria yang aku cintai, melainkan seorang anak yang aku sayangi," batin Dyra yang kini sudah yakin dengan apa yang harus dilakukannya.


Dyra mengusap punggung Ansel dengan lembut, sosok keibuan muncul di sini. Setiap perkataan yang terlontar dari mulut Dyra, bagaikan sihir yang dapat membuat amarah Ansel seketika mereda, bahkan saat ini Ansel sudah kembali merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.


"Kamu harus kuat dan sabar Ansel. Percayalah semua ini hanya sementara, nanti setelah kita dapat donor mata untukmu, kamu sudah dapat melihat lagi. Sekarang kamu istirahat, agar kondisi kamu tidak memburuk ya. Tidak usah berpikir yang macam-macam, karena semua yang menimpamu saat ini adalah tanda jika Tuhan masih menyayangimu. Cobalah renungkan setiap kesalahan apa yang telah kamu perbuat, mungkin Tuhan ingin kamu memperbaikinya. Amma dan Ayahmu akan berusaha secepatnya menemukan pendonor untukmu."


Dyra sudah menyelimuti tubuh Ansel dengan selimut. Ia pun memerintahkan kepada Irene untuk mendekat ke arahnya, namun tanpa sebuah suara. Irene pun melangkah dengan perlahan, hingga kini ia sudah menggantikan posisi Dyra di samping ranjang.


"Tidurlah Ansel, Amma akan menemanimu di sini." Dyra seolah duduk di sebuah kursi yang ditariknya mendekat ke arah Ansel, walau sebenarnya itu adalah Irene.


Dyra mulai menjauh untuk mendekat ke arah Darren, yang terlihat begitu hancur, melihat kondisi anaknya seperti sekarang ini.


"Aku harus segera menemukan pendonor mata yang cocok untuk Ansel, aku tidak ingin Ansel terlalu lama hancur," lirih Darren menatap tegas penuh keyakinan, bahwa ia akan dapat menemukan pendonor itu.

__ADS_1


Dyra menggenggam tangan suaminya dengan erat, ia mencoba menguatkan Darren yang saat ini benar-benar terlihat rapuh.


"Percayalah Hubby, semua akan kembali baik," ucap Dyra berbisik di telinga Darren, agar Ansel tak mendengarnya.


Keduanya akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan. Mereka membuka dan menutup kembali pintu kamar dengan sangat perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Ansel, yang saat ini sudah terpejam, sambil terus menggenggam tangan Irene yang disangkanya adalah Dyra.


"Andai genggaman ini tertuju untukku, pasti aku akan sangat bahagia Ansel, tapi sayangnya itu bukanlah untukku. Aku menganggapmu suamiku, tapi kamu menganggapku hanya kesialanmu saja, bahkan ketika perhatian juga cintaku deras untukmu, kamu malah memilih untuk berteduh dan menghindarinya," batin Irene merasa perih di lubuk hatinya.


Bersambung✍️


🌸🌸🌸


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih banyak.


Tetap sabar ya menunggu update selanjutnya.


Mampir untuk mengisi waktu kalian :

__ADS_1



__ADS_2