
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua, sudah menyempatkan diri membaca karyaku ini. Semoga karya ini dapat menghibur kalian semua ya. Oh ya, jika berkenan ayo gabung ke GC aku dan kalian bisa juga follow instagram aku di ekapradita_87.
Selamat membaca!
Irene telah bersiap mengunjungi rumah orangtuanya. Ini adalah kali pertamanya menemui keluarganya, setelah kedua orangtuanya, mengusir dengan kasar saat mereka mengetahui bahwa Irene tengah mengandung. Rasa gugup tercampur dengan keraguan di dalam dirinya, ia takut bila kedua orangtuanya masih tidak menerima penjelasannya.
"Jika mereka tetap tidak mau mendengar penjelasan yang aku katakan, bagaimana? Tapi semoga saja dengan aku membawa Ansel, mereka bisa percaya bahwa selama ini penilaian mereka kepadaku itu salah," batin Irene masih mematung di depan cermin.
Saat ini Irene masih mematung melihat segala perubahan dirinya pada pantulan cermin. Semenjak kehamilannya, ia berubah 180 derajat, menjadi acuh dengan penampilannya dan menggunakan make up seperlunya. Saat ini saja, Irene hanya mengenakan kemeja berwarna merah dengan corak bunga-bunga yang membuat tampilannya terlihat sangat sederhana, berbeda dari biasanya. Walau begitu, Irene masih tampak manis dengan bibir merah dan matanya yang berbinar.
Setelah selesai dengan semua itu, kini Irene langsung keluar dari kamarnya dan menunggu kedatangan Ansel yang masih bersiap di dalam kamarnya.
"Ternyata laki-laki itu lebih lama dandannya daripada aku. Sebenarnya apa yang dilakukannya sampai selama ini?" gerutu Irene melihat waktu yang melingkar pada pergelangan tangannya.
Irene mulai bosan menunggu, karena sudah 1 jam, Ansel tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia sebenarnya ingin masuk ke dalam dan menarik tubuh suaminya itu. Namun apalah daya, ia takut jika nanti apa yang dilakukannya, malah akan merusak mood Ansel, yang nanti bisa membuatnya berubah pikiran untuk menemaninya pergi.
Beberapa menit kemudian, Ansel keluar dari kamar dengan santainya tanpa ada rasa berdosa sedikitpun, atas apa yang dilakukannya. Ansel hanya menatap Irene sejenak, lalu kembali melangkah melewati tubuh Irene yang hanya termangu, menatap geram wajah Ansel.
"Dasar laki-laki itu sungguh egois. Aku sudah menunggu lama, tapi dia tidak ada basa-basinya kepadaku. Jangankan meminta maaf, tersenyum pun tidak," gerutu Irene di dalam hatinya, yang akhirnya hanya bisa memendam rasa kesalnya dan langsung mengekor di belakang tubuh Ansel.
Tiba-tiba saat menuruni anak tangga, pandangan Irene tampak kabur dan kepalanya terasa pening. Ia pun menggenggam pegangan anak tangga dengan erat, untuk membantunya menopang tubuhnya. Namun Ansel masih terus melangkah dan tidak mengetahui apa yang terjadi pada Irene, karena pandangan matanya, hanya fokus dengan langkahnya saja. Ia seolah benar-benar tak menganggap Irene sebagai istrinya, yang seharusnya melangkah sejajar, bukan malah jauh di depannya dan seolah mengabaikan keberadaannya.
Sungguh kasihan nasib Irene, menjalani kehamilannya seorang diri, tidak ada perhatian yang ia terima, baik dari sang suami atau kedua orangtua yang saat ini masih memusuhinya.
__ADS_1
Tidak ada pertanyaan apakah kehamilannya baik-baik saja atau menawarkan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan, seperti yang dilakukan oleh banyak pasangan lain, ketika dianugerahkan seorang anak.
Padahal saat ini kondisi Irene bisa dikatakan kurang sehat, karena nafsu makannya sangat menurun dan ia sering merasakan mual sampai muntah-muntah, hal yang sebenarnya memang lumrah dialami oleh wanita hamil pada trisemester pertama ini.
Irene masih diam mematung, sambil terus memegang erat pegangan tangga. Ia tenggelam dalam lamunannya, meratapi nasib yang kini harus dijalaninya. Hidup tanpa perhatian dan cinta dari suaminya.
Tiba-tiba Ansel menepuk pundak Irene agar tersadar dari lamunannya. "Hei, apa kau tuli, dari tadi aku memanggilmu tapi kau tak menjawabnya?!" tanya Ansel terdengar ketus.
Irene menelan ludahnya dengan kasar. "Ma-maaf Ansel, tadi aku hanya sedikit pusing," jawab wanita itu yang kini berusaha menguatkan kondisinya yang sebenarnya lemah.
Ansel tersenyum kecut, "Ayo buruan, kenapa kamu hanya diam melamun saja?" ucap Ansel dengan suara yang terdengar keras, agar terdengar oleh Irene yang masih berada di pertengahan anak tangga.
Wanita berwajah sendu itu segera mengangguk, tanpa menjelaskan keadaannya lebih lanjut. Ia pun langsung mempercepat langkah kakinya, untuk menghampiri Ansel yang sudah tersulut amarahnya.
Rahang wajah Ansel kini terlihat mengeras dengan sorot mata yang tajam, menatap penuh amarah.
Ansel menerawang penuh tanda tanya, ia sebenarnya sudah mulai membaca, apa yang sebenarnya terjadi pada Irene, jika melihat dari raut wajahnya. Namun kepekaan Ansel terhadap Irene yang sangat minim, membuatnya menepis rasa cemas yang baru beberapa detik, hinggap di dalam pikirannya.
Ansel kembali melanjutkan langkahnya menuju keluar rumah. Setelah tiba di samping mobil yang memang sudah terparkir di sana, ia langsung masuk ke dalam, tanpa menunggu Irene yang masih jauh berada di belakangnya.
Setibanya didekat mobil, Irene terlihat bingung harus duduk di bangku depan atau belakang, karena Ansel meninggalkannya tanpa memberi perintah.
"Aku harus duduk dimana ini? Kursi depan atau belakang ya," tanya Irene dalam hatinya penuh tanda tanya.
Saat Irene masih mematung di samping mobil, Ansel yang sudah tidak tahan dengan gerakan Irene yang terkesan lamban, langsung membuka kaca mobil dengan raut wajah yang geram.
__ADS_1
"Irene, kenapa sih kau itu terlihat seperti orang bodoh? Sebenarnya jadi tidak, pergi ke rumah orangtuamu?"
Irene terhenyak dengan bentakan Ansel, ia pun dengan cepat mengangguk. "Jadi kok." Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut wanita yang kini terlihat sangat gugup.
"Kalau begitu kenapa kau tidak masuk ke dalam mobil? Apa kau berniat untuk berjalan kaki? Ya sudah sana jalan kaki saja, aku tidak akan melarangmu!"
Ansel menginjak pedal gas mobilnya, hingga mobil mulai melaju menjauhi Irene, yang seketika langsung berlari untuk mengejar mobil itu dan meminta Ansel agar berhenti.
"Ansel tunggu! Aku tidak mungkin jalan kaki, karena rumah orangtuaku sangat jauh dari rumah ini," teriak Irene agar permintaannya terdengar oleh Ansel.
Ansel menyeringai puas, karena berhasil mengerjai Irene untuk berlari mengejarnya.
"Ansel tolong berhenti, perutku sakit..." Langkah kaki Irene yang semula berlari, kini terhenti dengan perut yang terasa nyeri luar biasa.
Irene meremas perutnya dengan erat, wajahnya meringis kesakitan.
🌸🌸🌸
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.
Jangan lupa berikan like dan vote kalian ya.
Mampir juga ke karyaku yang lainnya, sudah tamat lho, Istri ketiga Mas Bram - kisah Biru dalam menjalani statusnya sebagai istri ketiga Mas Bram, pastinya banyak pelajaran hidup di dalamnya yang Insya Allah bisa sangat bermanfaat.
__ADS_1