Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Bella Pasrah


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Bella yang hendak masuk ke dalam taksi, ternyata sudah ditunggu oleh dua orang petugas polisi yang sudah sejak lama menunggunya.


"Maaf apa Anda yang bernama Chivana Arabella?" tanya salah satu petugas polisi itu yang kini berada di hadapan Bella.


Bella pun langsung dapat membaca akan maksud kedatangan dua petugas polisi itu.


"Kedua polisi ini pasti akan menangkapku, jika aku membiarkan diriku tertangkap, aku tidak akan bisa mencari bukti kejahatan Isco. Sekarang aku harus bagaimana?" gumam Bella dengan raut cemas di wajahnya.


"Iya betul saya Bella."


"Kalau begitu bisa ikut dengan kami, karena Anda ditangkap karena dugaan penyerangan terhadap saudari Dyra Anastasya, di sini sebagai pelapor saudara Darren Ethan Lee, mantan suami Anda sendiri."


"Tapi bukan saya pelakunya, apa saya harus ditangkap sedangkan saya tidak melakukan semua itu?" protes Bella coba menjelaskan pada kedua petugas polisi itu.


"Anda bisa jelaskan di kantor polisi saja Nona, karena pria yang Anda tugaskan untuk menghabisi Nona Dyra mengatakan bahwa Anda yang telah memerintahkannya, jadi semua bukti benar-benar mengarah kepada Anda."


Bella mengesah kasar, ia pun pasrah dan bersedia untuk ikut dengan kedua petugas polisi itu.


"Kau memang pintar Isco, pasti kau telah membayar pria itu!" gumam Bella pasrah dengan penangkapannya.


...🌺🌺🌺...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, mobil yang dikendarai oleh Will mulai memasuki pelataran bandara. Sementara itu mobil Benjamin melaju terus menuju parkiran bandara.


"Kita sudah sampai sayang, menurut kabar dari Ansel, dia kan tiba kurang lebih sekitar 15 menit lagi," ucap Darren memberitahu Dyra yang langsung disambut dengan penuh keceriaan oleh Cassandra.


Will memberhentikan mobilnya di tempat yang Darren perintahkan. Setelah itu ia bergegas keluar terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil.


"Hore, kita sampai, aku mau lihat pesawat Daddy, Mommy."


Dyra mengusap lembut wajah Cassandra.


"Iya sayang, ayo kita lihat pesawat ya."


Ketiganya pun keluar dari mobil setelah Will membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Silahkan Tuan dan Nyonya!" ucap Will sambil membukakan pintu mobil untuk majikannya turun.


"Terima kasih Uncle Will," jawab Cassandra sambil turun dari mobil.


"Sama-sama Nona cantik."


Dyra menuntun tangan Cassandra dan melangkah terlebih dulu di depan Darren. Sementara itu Darren masih terlihat memberikan sebuah perintah pada Will, terkait parkir kendaraannya.


"Nanti saya akan menghubungimu Will, parkirlah dulu."


"Baik Tuan."


Darren kembali melangkah menyusul Dyra juga Cassandra yang tak jauh berada di depannya. Namun, tiba-tiba seorang pria bule terlihat menghampiri Dyra yang membuat Darren mempercepat langkah kakinya.


"Siapa pria itu? Apa dia ingin melukai Dyra?" gumam Darren begitu cemas.


Saat pria itu hendak mendekati Dyra, Benjamin menepuk pundak pria itu. "Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Benjamin menginterogasi seorang pria yang coba mendekati Dyra.


Dyra pun menoleh melihat ke arah Benjamin yang sedang berbicara dengan seorang pria asing. "Siapa pria itu ya?" tanya Dyra dengan suara yang pelan.

__ADS_1


Darren pun tak lama datang dan langsung mendekat ke arah Dyra juga Cassandra.


"Hubby, siapa pria itu ya?" tanya Dyra kepada suaminya yang belum menemukan jawabannya.


"Aku sendiri tidak tahu sayang, biar aku tanyakan Benjamin dulu ya."


Namun, baru saja Darren hendak menghampiri Benjamin, Dyra meraih tangannya dengan raut penuh rasa cemas. Ia trauma dengan kejadian yang telah menimpanya satu bulan lalu sewaktu di mall. Maka itu ia tak ingin Darren meninggalkannya.


"Hubby, tetaplah di sini!"


Darren kembali melihat Dyra, yang saat ini menampilkan raut wajah penuh ketakutan. Pria itu pun mengerti maksud istrinya dan memutuskannya untuk tetap berada di samping Dyra.


"Baiklah sayang, kita tunggu saja kabar dari Benjamin."


Keduanya masih terus melihat dengan seksama ke arah Benjamin, yang masih melakukan percakapan dengan pria asing yang baru kali ini mereka temui. Namun, tiba-tiba Cassandra yang sudah tak sabar untuk melihat pesawat, menarik tangan Dyra dengan raut menggemaskan pada wajahnya.


"Mommy, kenapa kita berhenti, ayo dong Mommy!" ucap Cassandra.


Dyra pun langsung berlutut hingga wajahnya sejajar dengan wajah Cassandra. "Sayang, tunggu sebentar ya. Kita tunggu Uncle Benjamin dulu!" ucap Dyra coba membuat Cassandra mengerti.


"Baiklah Mommy, aku akan sabar menunggu." Cassandra tersenyum dan melihat ke arah pria yang sedang bersama Benjamin.


"Anak pintar," ucap Dyra sambil mengusap pucuk rambut Cassandra.


Setelah lama menunggu, Benjamin pun datang menghampiri Darren yang sudah sejak tadi menunggunya.


"Ada apa Benjamin?" tanya Darren dengan raut penuh tanda tanya.


"Begini Tuan, pria itu mengaku kalau dia adalah Ayah dari Cassandra dan dia memang berada di Korea untuk mencari keberadaan anaknya. Namun, karena tidak juga ditemukan, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Inggris."


Darren tersentak kaget mendengarnya, tapi ia tak begitu saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Saya sudah mengatakan hal itu Tuan, tapi dia sudah menunjukan semua buktinya, pesan WhatsApp dari Ibunya yang meninggalkan Cassandra di mall, juga bukti lainnya."


Darren mengerutkan keningnya dalam dengan kedua tangan yang bersedekap.


"Tapi kenapa Cassandra tidak mengenali pria itu, Benjamin?" tanya Darren dengan raut wajahnya yang penuh tanya.


"Itu karena mereka telah bercerai sejak Cassandra masih berusia 7 bulan, Tuan. Sejak itu komunikasi hanya melalui pesan WhatsApp saja, tapi Tuan tidak perlu cemas! Karena beliau tidak akan memaksa Cassandra untuk ikut bersamanya, yang terpenting putrinya saat ini dalam kondisi yang baik dan ia sudah tahu keberadaannya."


Tiba-tiba suara panggilan terdengar dari kejauhan. Sosok Ansel terlihat oleh kedua mata Darren yang seketika langsung menoleh ke arah sumber suara, ketika suara itu begitu dikenalinya. Bukan hanya Darren, Dyra pun ikut melihat ke arah Ansel yang berada jauh di depan sana dan sedang menuju ke arah mereka.


"Oke baiklah Benjamin, berikan nomor ponselku saja. Itu anakku sudah datang, aku harus menyambutnya dulu."


"Baik Tuan, silahkan!"


Darren mulai melangkah bersama Dyra mendekat ke arah Ansel. Namun, kedua mata mereka tampak dikejutkan dengan sosok wanita yang melangkah di samping Ansel.


Raut wajah Darren dan Dyra seketika tampak semakin bahagia, dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibir mereka.


"Hubby, lihatlah itu ...."


...🌺🌺🌺...


Sementar itu di tempat lain, tepatnya di dalam sel tahanan. Bella tampak pasrah dengan apa dihadapinya saat ini. Wanita itu kini hanya tinggal menunggu kedatangan Ansel yang sudah dihubunginya, walau hanya dengan sebuah pesan.


"Semoga Ansel membaca pesanku karena hanya dia yang akan percaya jika aku tidak melakukan semua itu."

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, seorang petugas polisi datang mendekatinya.


"Nona Bella, ada seseorang yang ingin bertemu Anda." Petugas polisi itu langsung membukakan sel tahanan.


"Siapa ya? Apa itu Ansel?" tanyanya dalam hati dengan kening yang berkerut dalam.


Bella pun keluar dari sel tahanan, mengikuti langkah petugas itu yang menuntunnya ke sebuah ruangan, dimana ia akan bertemu dengan seseorang yang ingin menemuinya.


"Tunggu di sini ya Nona!" titah petugas polisi yang lalu meninggalkan Bella sendiri di dalam ruangan tempat dimana para tahanan mendapat kunjungan.


Tak lama kemudian, seorang pria mulai memasuki ruangan yang membuat kedua mata Bella menatap tajam penuh amarah. Ia sangat terkejut ketika Isco saat ini sudah duduk di hadapannya.


"Untuk apalagi kau datang ke sini!"


Isco terkekeh lalu menampilkan seringai menakutkan yang terbentuk dari kedua sudut bibirnya.


"Sabar Bella. Aku hanya ingin tahu, bagaimana rasanya berada di dalam penjara?"


Bella kini membalas apa yang tadi Isco lakukan, ia pun terkekeh lebih keras dari pria yang saat ini terheran-heran melihat ekspresi Bella.


"Kenapa kau tertawa?" geram Isco bertanya.


"Lebih baik kau persiapkan dirimu, karena sepulang anakku dari Birmingham, dia yang akan membuktikan jika aku tidak bersalah dan kaulah yang setelah itu akan membusuk di dalam penjara ini!"


Kening Isco mengerut dalam. Perkataan Bella yang telah didengarnya hanyalah seperti gertakan kecil untuknya.


"Aku tidak takut, Bella! Lagipula bagaimana cara anakmu itu bisa membuktikan kesalahanku?"


"Kenapa kau bertanya Isco? Apa kau mulai takut? Sebaiknya kau pulang dan persiapkan dirimu untuk mendekam di dalam penjara ini menggantikan aku!"


Isco begitu kesal dengan perkataan Bella, terlebih saat melihat raut wajah wanita itu tampak begitu menyebalkan yang seolah-olah merendahkannya.


"Sudahlah kau jangan berharap anakmu dapat membebaskanmu! Lebih baik kau tanda tangani surat ini, maka aku akan membantumu untuk dapat bebas dari penjara."


"Surat apa ini?" Bella mulai mengambil sebuah kertas yang disodorkan oleh Isco padanya.


"Jika kau bersedia menandatangani pemindahan harta kekayaan yang telah aku berikan padamu dulu. Maka aku akan membantumu, agar bebas dari hukumanmu!"


Bella kini mulai menyadari bahwa apa yang direncanakan Isco, semata-mata hanyalah untuk menyingkirkannya, agar ia bisa kembali mendapatkan harta kekayaannya.


"Jadi kau ingin hartamu kembali, maka itu kau merencanakan semua ini!"


"Sudahlah tanda tangani saja, jangan terlalu lama bertanya! Apa kau mau, masa tuamu harus berakhir di dalam penjara?"


Bella berpikir sejenak, karena apa yang Isco katakan memang ada benarnya. Walau awalnya ia sangat ragu untuk menandatanganinya. Namun, demi dapat menebus waktu yang telah ia sia-siakan dulu, saat ia meninggalkan Ansel kecil dan memilih untuk hidup bersama Isco. Bella pun langsung mengambil sebuah bolpoin yang Isco berikan dan mulai menandatangani surat pengalihan itu.


"Sudah, ambillah semua hartamu! Karena saat ini aku sudah tak membutuhkannya lagi! Sekarang cepat kau bebaskan aku!"


Isco pun bangkit dari posisi duduknya sambil terkekeh penuh kemenangan. "Kau memang bodoh Bella! Aku tadi hanya berbohong, karena aku tidak akan mungkin membebaskanmu. Jadi sebaiknya nikmati saja sisa hidupnya di dalam penjara!"


Bella pun tersulut amarahnya dan seketika bangkit untuk menghampiri Isco. Ia menyerang tubuh pria yang saat ini telah membohonginya dengan membabi buta, hingga Isco pun berteriak dan tak lama kemudian, dua petugas polisi datang untuk melerai perkelahian mereka.


"Kau jahat Isco! Aku sungguh menyesal telah mengenalmu, kau jahat Isco!"


Kedua petugas polisi itu kini sudah memegangi tubuh Bella dan langsung membawanya kembali ke dalam sel tahanannya.


"Ingat Isco, suatu saat Tuhan yang akan menghukummu! Ingat itu Isco!" kecam Bella berteriak dengan penuh amarah yang saat ini sudah semakin menjauhi Isco, yang hanya tersenyum licik menatapnya.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


__ADS_2