
Selamat membaca!
Ansel masih terduduk lemas di atas ranjang. Baru kali ini ia merasa bersalah pada Irene, yang ternyata menyimpan seribu luka atas semua sikap dan ucapannya selama ini.
"Irene, pada awalnya aku memang tidak terima atas kabar kehamilanmu. Aku juga tidak rela melepas Dyra untuk hidup bersamamu. Sebenarnya aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran, dengan tidak mencintaimu, agar kelak saat anak itu lahir aku bisa kembali bersama Dyra."
Ansel terus meratapi semua kesalahan yang selama ini dilakukannya pada Irene. Ia tak habis pikir kenapa hatinya bisa begitu buta dan bodoh, hingga tak dapat membaca ketulusan dari seorang wanita yang selama ini selalu berada dekat dengannya, sampai akhirnya Tuhan pun membuat kedua matanya menjadi benar-benar buta.
"Selama ini aku menganggap, kamu itu sangat membenciku. Aku pikir, kamu ingin menikah denganku hanya demi sebuah status yang ingin kamu kejar yaitu menjadi seorang istri dari keluarga yang kaya raya di kota ini. Ternyata selama ini aku salah..." Ansel mengesah kasar, ia tertunduk dengan rasa bersalah yang begitu menyayat hatinya. Pria itu sangat rapuh, hingga tak dapat membendung air mata dari kedua sudut mata arogannya.
Ansel kini memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Ia sebenarnya ingin menemui Irene untuk meminta maaf dengan semua yang telah dilakukannya selama ini. Namun, apa daya matanya tak dapat melihat untuk menuju ke arah dimana Irene berada saat ini.
Selama Ansel buta, Irene adalah cahaya untuknya menunjukkan jalan yang bisa ia lalui, tapi sekarang semua kembali gelap, saat Irene tak lagi ada di sampingnya.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Ansel dapat melangkah tanpa cahaya itu? Sebuah pertanyaan yang membuat Ansel saat ini begitu takut kehilangan Irene. Wanita yang kebaikannya tertutupi oleh kebencian yang membutakan mata hatinya. Kebencian yang timbul, karena ia harus kehilangan cinta Dyra yang hampir saja dinikahinya.
"Apakah ini saatnya aku harus belajar menerima kehadiran Irene dalam hidupku? Terlebih dia tengah mengandung anakku dan selama ini semua pikiranku tentang Irene adalah sebuah kesalahan. Irene bukanlah wanita yang hanya memikirkan harta dan harta saja, malah ia tak pernah sekalipun meminta atau menuntut semua itu," batin Ansel mulai mengungkapkan isi hatinya.
Sementara itu Irene yang sedang larut dalam kesedihannya, terlihat berlari menuju taman yang terletak di belakang rumah. Ia duduk di sebuah kursi dan menumpahkan air mata yang sudah tak dapat dibendungnya lagi. Irene menangis dengan terisak. Rasa sakit dalam dadanya kini semakin menyesakkan, hingga membuatnya begitu rapuh.
"Sudah saatnya aku pergi. Sekarang aku tak peduli lagi dengan keadaan Ansel. Maafkan aku Amma, maafkan aku Ayah, aku sudah berusaha sekuat tenagaku, menahan rasa sakit atas semua hal yang Ansel lakukan, tapi ternyata aku tidak sanggup. Aku menyerah." Suara tangisan Irene begitu keras, luapan rasa sakit yang membatin di dalam hatinya, kini benar-benar terlampiaskan sepenuhnya.
Irene mencoba untuk kuat, walau keadaan hatinya saat ini begitu hancur. Jangankan untuk tersenyum, mengusap air mata dengan kedua tangannya saja tak dapat ia lakukan. Semua persendian dan sekujur tubuh Irene benar-benar lemah seperti tak bertulang.
Irene pun kini bangkit dari posisi duduknya. Ia mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya, untuk menatap langit hitam yang bertabur bintang-bintang cantik di atas sana.
Beberapa detik Irene hanya diam, sambil memandangi arah langit yang membentang luas.
__ADS_1
"Tuhan... Apa aku tidak pantas untuk bahagia?" tanya Irene yang berteriak dengan keras, bersama rasa sakit yang begitu terasa di dalam hatinya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Jangan di skip baca pengumuman ini ya sampai habis :
Hampir tiba beberapa hari lagi, dimana cerita ini akan pecah jadi dua novel yang berbeda :
"Apakah ada kesempatan untukku menebus semua kesalahanku pada Irene?"
Pertanyaan yang pasti akan terjawab, saat nanti kalian baca novel ini. Inilah perjalanan Ansel mencari cinta Irene yang hilang, setelah sembuh dari kebutaan. So, pastinya penasaran dengan kisahnya kan.
__ADS_1