
Selamat membaca!
Setibanya di dalam kamarnya, Ansel sudah berada di atas ranjang bersama Irene yang sejak tadi terus memikirkan apakah suaminya marah padanya karena telah menceritakan pada Dyra tentang masalah yang sedang dihadapinya.
"Sayang, apa kamu marah padaku?" tanya Irene yang semakin bingung dengan keterdiaman Ansel.
"Iya aku marah padamu," jawab Ansel dingin dan masih memalingkan wajahnya untuk tak melihat ke arah Irene.
"Maafkan aku, kalau aku salah karena sudah memberitahu Amma Dyra." Irene tertunduk dengan segala penyesalan yang saat ini begitu terlihat di raut wajahnya.
Namun, tiba-tiba saat bulir kesedihan mulai menetes dari kedua sudut mata Irene, Ansel langsung mengangkat wajah sang istri dengan menyentuh dagu Irene dan membuat pandangan mereka saling bertaut.
"Sayang, maafkan aku. Aku cuma bercanda saja, aku enggak marah kok." Sebuah senyuman mulai terlihat dari kedua sudut bibir Ansel yang mengembang dan langsung disambut dengan sebuah dekapan erat dari Irene yang seketika membuat Ansel terkesiap.
"Jangan bercanda seperti itu lagi ya! Karena wajah dingin kamu seperti itu, mengingatkan aku akan sosok kamu yang dulu." Irene terus memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya pada dada Ansel sambil terus menangis meluapkan segala ketakutan yang sempat menyelimuti dirinya.
__ADS_1
Tangisan Irene membuat pria itu menyesal karena candaannya yang bermaksud hanya untuk mengerjai Irene, malah berujung dengan air mata dari sang istri. "Maafkan aku, sayang." Ansel mulai mengurai pelukan Irene yang masih erat mendekapnya. Kini sorot matanya menatap teduh wajah Irene yang kini telah basah oleh air mata di kedua pipinya.
"A--aku takut kalau kamu seperti dulu lagi." Dengan terbata wanita itu mengungkapkan apa yang ditakutinya. Ya, wajar saja bila Irene benar-benar trauma karena memang setiap luka yang ditorehkan oleh Ansel dalam hatinya masih membekas dan sulit terlupa dari ingatannya.
Ansel mulai menangkup kedua sisi wajah istrinya itu dengan penuh kelembutan dan mulai mengusap air mata yang tertinggal di kedua pipinya. "Sudah ya sayang jangan menangis lagi. Kamu tidak akan pernah melihat aku seperti dulu lagi, aku janji! Maaf ya karena sempat membuatmu jadi teringat kembali tentang kenangan buruk itu."
Irene segera menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa sebuah aba-aba Ansel mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Irene hingga hidung lancip mereka saling beradu, deru napas yang terasa hangat saling menerpa wajah mereka satu sama lain. Begitu jarak keduanya sudah semakin rapat, Ansel mulai mencium bibir tipis Irene dengan penuh kelembutan.
Irene tak menolak sama sekali, ia membiarkan suaminya untuk melakukan apapun atas dirinya karena Irene tidak mau membuat Ansel menahan hasratnya lagi, apalagi jika sampai menunggunya melahirkan buah cinta mereka. Wanita itu kini mulai membalas dan mengimbangi gerakan bibir Ansel yang melahap buas bibirnya.
Suasana di dalam ruangan kamar yang semula hening, kini sudah dipenuhi oleh suara des*han yang saling bersahutan dari keduanya yang saat ini sama-sama tengah memburu kenikmatannya.
Ansel benar-benar mempraktekkan dengan sangat baik nasihat sang ayah yang memberitahukan padanya, bahwa posisi yang baik adalah Ansel memegang kendali atas permainan yang saat ini mereka lakukan, yaitu dengan berada di atas tubuh Irene. Tentunya dengan menyangga berat tubuhnya menggunakan kedua tangan, agar tidak membebani bagian perut Irene yang tengah mengandung buah cinta mereka.
Setelah beberapa puluh menit kemudian, keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan yang berhasil mereka raih secara bersamaan. Tubuh yang penuh dengan keringat kini saling mendekap, setelah Ansel merebahkan dirinya di samping Irene dengan tangan yang masih melingkar pada tubuh istrinya itu. Namun, saat ini rasa cemas kembali mengusik ketenangan Ansel yang langsung menanyakan keadaan sang buah hati di dalam kandungan Irene.
__ADS_1
"Sayang, semuanya aman 'kan? Anak kita baik-baik saja 'kan sayang?" tanya Ansel dengan napas yang terengah.
Irene yang juga sedang mengatur ritme napasnya yang tak beraturan, dengan cepat mengangguk sembari mengulas senyumannya untuk dapat menenangkan suaminya yang saat ini kembali merasa resah. "Anak kita baik-baik saja sayang. Dia bahagia karena telah di tengokin Ayahnya."
Jawaban yang terlontar dari mulut Irene, langsung disambut dengan sebuah senyuman yang mengembang dari kedua sudut bibir Ansel, yang saat ini sudah dapat bernapas dengan lega.
"Syukurlah, itu tandanya aku sudah berhasil melakukan semuanya dengan baik, hingga tidak menyakiti bayi kita." Tangan pria itu mulai meraba permukaan kulit perut Irene lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan.
"Iya, sayang. Besok-besok kamu melakukannya seperti tadi ya, jangan malah menahannya yang akan menyiksa dirimu sendiri."
Ansel tersenyum malu dan segera memeluk erat tubuh Irene sambil membenamkan wajahnya pada dada istrinya untuk dapat menutupi raut wajahnya saat ini yang memerah karena merasa sangat malu.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
__ADS_1