
Selamat membaca!
Malam dengan gemerlap bintang membuat langit Birmingham kala itu terlihat begitu indah. Saat ini Irene sedang bersama Ansel, menikmati keindahan itu dengan duduk bersantai di sebuah kursi yang memang tersedia untuk keduanya di sana.
"Ansel, aku sangat bahagia karena kita sudah bersama lagi. Semoga setelah ini tidak akan ada masalah apapun yang dapat memisahkan kita lagi." Irene masih terus menyandarkan kepalanya pada dada Ansel yang mendekapnya dengan erat.
"Iya sayang, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu dan selamanya kita akan selalu bersama," ucap Ansel sambil mengusap sebelah pipi istrinya dengan lembut.
Saat ini keduanya terus menatap langit yang masih terlihat indah dengan bintang dan cahaya bulan yang saling berdampingan.
"Kamu lihat bulan itu!" tunjuk Ansel ke arah bulan yang berpijar terang di langit.
"Iya, aku lihat." Irene menautkan kedua alisnya dan begitu antusias ingin mendengar lanjutan perkataan dari Ansel.
__ADS_1
"Bulan itu akan terlihat indah bila berdampingan dengan bintang, sama halnya dengan aku. Aku bisa sebahagia ini, itu semua karena kamu ada di sampingku," ucap Ansel dengan sorot matanya yang teduh, ada kesungguhan yang terlihat dari manik mata pria itu saat mengatakan semua isi hatinya saat ini.
"Terima kasih Ansel, aku pun sangat bahagia dengan adanya kamu di sampingku." Irene tak mampu lagi menahan bulir bening yang sudah sejak tadi menganak di kelopak matanya. Saat ini keduanya sudah merubah posisi duduknya dengan saling berhadapan.
"Aku yang terima kasih karena kamu sudah mau memberikanku kesempatan. Kesempatan yang mungkin tidak akan bisa aku dapatkan, jika seandainya kamu masih mengeraskan hatimu." Ansel terus menatap kedua mata Irene yang tengah berkaca-kaca karena situasi yang saat ini begitu mengharukan untuk keduanya.
Keduanya sesaat membeku tanpa suara dan hanya saling menatap. Tatapan yang semakin dalam itu membuat wajah keduanya perlahan mulai mendekat hingga akhirnya sorot mata Ansel kini langsung terfokus pada bibir merah Irene. "Bolehkah aku menciummu?" tanya Ansel dengan suaranya yang berbisik.
Irene hanya mengangguk dan semakin tenggelam dalam sorot mata Ansel. Saat itu embusan napasnya begitu hangat menerpa wajah suaminya yang kala itu tampak tak berkedip menatap wajahnya. Perasaan yang mereka rasakan saat ini, mampu membuat darah keduanya berdesir hebat hingga menuntun bibir mereka untuk saling bertemu dan pagutan mesra itu tak dapat lagi terelakkan.
Setelah 15 menit menghabiskan waktu dengan saling memagut, kini baik Ansel dan Irene sama-sama memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar. Langkah yang cepat, membuat tubuh mereka kini sudah berada di atas ranjang.
"Irene, apakah boleh aku menyentuhmu lagi seperti dulu? Kali ini aku ingin melakukannya karena memang aku mencintaimu."
__ADS_1
Irene tampak gugup dengan sorot mata suaminya yang saat ini sudah berada di samping tubuhnya. "Tentu saja boleh, sayang. Aku itu 'kan istrimu, apa pun boleh kamu lakukan. Namun, ada 3 hal yang tidak boleh?"
Ansel mengangkat kedua alisnya dengan penuh tanda tanya. "Apa itu, sayang? Katakanlah!"
Irene pun tersenyum sebelum mulai menjawab pertanyaan Ansel yang saat ini dibuat semakin penasaran. "Pertama kamu tidak boleh menyakitiku lagi seperti dulu, kedua kamu tidak boleh jatuh cinta dengan wanita lain, dan ketiga kamu harus selalu mencintaiku juga anak kita seumur hidupmu."
"Hanya itu sayang?" Ansel terus menatap dalam manik mata Irene yang saat itu juga melihatnya.
"Ya hanya itu."
"Tak perlu kamu memintanya, aku pasti akan melakukan semua itu." Tanpa banyak berkata lagi, Ansel langsung melabuhkan ciumannya kembali pada bibir merah Irene. Keduanya pun saling memagut hingga membuat bibir mereka terasa semakin panas.
Malam itu berlangsung sangat panjang karena untuk pertama kalinya sejak menikah, Ansel dan Irene saling berbagi kenikmatan. Keduanya seakan lupa waktu karena mereka melakukannya hingga larut malam dan entah berapa banyak keduanya mencapai puncak kenikmatan yang membuat tubuh mereka saat ini, terlihat basah oleh buliran keringat.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️