Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Menyedihkan


__ADS_3

Selamat membaca!


Akhirnya Darren pun memberitahu tentang Ansel kepada Dyra dan benar saja apa yang ditakutkan oleh Darren, saat itu Dyra maupun Irene benar-benar sangat terpukul dengan apa yang mereka ketahui. Walau saat itu Dyra sedang dalam posisi membenci Ansel, karena perlakuan yang tak sepantasnya kepada Irene, namun tetap saja bulir kesedihan itu lolos juga dari mata indahnya.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Dyra tak pernah berhenti menguatkan hatinya. Ia tak ingin terlihat lemah, karena saat ini di sampingnya ada sosok wanita yang harus ia kuatkan, yaitu Irene.


Irene terus menangis dengan terisak, napasnya terdengar begitu sesak. Ia tak pernah berpikir bila suaminya harus mengalami kecelakaan seperti sekarang ini.


"Kamu harus kuat Irene. Percayalah Ansel akan baik-baik saja," ucap Dyra walaupun terdengar lirih.


"Iya Amma, hanya saja aku benar-benar tidak menginginkan semua ini terjadi. Aku memang sangat berharap Ansel sadar dan memperlakukan aku dengan baik layaknya seorang istri untuknya, tapi aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi, Amma. Jika harus seperti ini, aku tak mengapa bila terus diperlakukan dengan kejam oleh Ansel. Aku ikhlas Amma, asal Ansel baik-baik saja."


Irene semakin menangis sesenggukan tak tertahankan, sementara Dyra hanya bisa menatap dengan penuh rasa iba.


"Menangislah Irene, jika setelahnya kamu bisa kuat, karena itu yang kamu butuhkan saat ini. Setelah ini kamu harus merawat suamimu dengan sabar dan maafkan Amma jika harus menunda untuk menegur Ansel," tutur Dyra lalu kembali fokus menatap ke arah depan untuk memacu kecepatan mobilnya.


Irene pun mengangguk sembari terus mengusap air mata yang tak berhenti menetes.


Setelah 35 menit, mobil yang dikendarai oleh Dyra telah sampai di area parkiran rumah sakit. Dyra dengan cepat memarkir mobilnya dan bergegas untuk keluar bersama Irene.


Keduanya melangkah panjang, memasuki lobi rumah sakit dan langsung menuju ruang UGD seperti yang telah diberitahu oleh Darren. Sorot mata Dyra menatap jauh, sosok suaminya yang saat ini sedang tertunduk lesu, duduk di kursi panjang, depan ruang UGD.

__ADS_1


Dyra mempercepat langkahnya. Sementara Darren yang mulai membaca kehadiran Dyra, seketika langsung bangkit dan keduanya saling berpelukan dengan erat.


"Kamu harus kuat ya, Hubby."


"Terima kasih sayang, tapi bukan hanya aku, kamu dan Irene juga harus kuat."


Tiba-tiba suara yang terdengar lirih, membuat mereka melepas pelukannya.


"Ayah, bagaimana keadaan Ansel saat ini?" tanya Irene masih dalam keadaan terisak penuh air mata.


Darren tercekat dan langsung diam sejenak. Ia memang belum menyampaikan hasil diagnosa dokter, bahwa saat ini Ansel mengalami kebutaan.


Irene semakin merapatkan jaraknya dengan Darren, ia menuntut jawaban dari mulut Darren yang saat ini masih terkunci rapat tanpa sepatah katapun. Tampak jelas di mata Irene, jika Darren berusaha menutupi kondisi Ansel saat ini.


"Aku mohon katakan padaku, Ayah. Aku ini istrinya, jadi aku patut tahu bagaimana keadaan suamiku saat ini?"


Darren menangkup kedua sisi lengan Irene. Ia menatap dalam menantunya itu, yang saat ini terlihat begitu menyedihkan.


"Kamu harus kuat dengan apa yang akan kamu dengar." Darren lalu melepaskan kedua tangannya dan mengesah dengan kasar sebelum meneruskan perkataannya. "Ansel saat ini mengalami kebutaan," sambung Darren dengan suara yang terdengar tak bertenaga.


"Apa! Ansel buta." Irene memegangi kepalanya yang tiba-tiba seperti berputar. Tubuhnya terasa limbung dengan kedua kaki yang seketika lemah menopang raganya untuk dapat tegar. Sesaat sebelum Irene terjatuh, Dyra berhasil menahan tubuh Irene, yang kemudian ia dudukkan di sebuah kursi.

__ADS_1


"Kamu harus kuat Irene."


Irene menatap wajah Dyra dengan sangat dalam. Pandangan matanya saat ini sudah benar-benar berkabut, ia pun langsung memeluk tubuh Dyra dengan sangat erat, menghamburkan semua kesedihan yang tertahan di dalam hatinya. Rasa sakit atas apa yang didengarnya, bahkan baginya, lebih sakit dari perlakuan semena-mena yang diterimanya dari Ansel.


"Aku mohon Tuhan, berikan suamiku kesempatan untuk dapat melihat kembali," batin Irene berdoa dengan penuh ketulusan, seolah ia tak merasa sakit atas perlakuan yang telah didapatnya dari Ansel selama ini.


Tiba-tiba seorang petugas medis menghampiri Darren. "Maaf mengganggu Tuan Darren. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa pasien akan dipindahkan ke ruang rawat VVIP sesuai permintaan, Tuan. Setelah dipindahkan pasien sudah dapat dikunjungi."


"Baik, terima kasih suster."


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih banyak.


Ayo mampir juga ke karyaku yang lainnya :


__ADS_1


__ADS_2