
Selamat membaca!
Setelah mendapatkan tugas dari Darren, Benjamin kini sudah terlihat bergerak untuk mencari keberadaan Isco yang sudah berhasil dilacaknya.
"Jadi pria yang bernama Isco itu masih berada di Staz Hotel Myeongdong 1," ucap Benjamin yang berhasil melacak Isco lewat CCTV rumah sakit dan dari scan wajah yang didapat itulah Benjamin berhasil melacak keberadaan Isco lewat CCTV seluruh kota Seoul.
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Benjamin kini telah tiba di pelataran hotel. Setelah memarkirkan kendaraannya, Benjamin langsung keluar dan memacu langkah kakinya untuk masuk ke dalam lobi hotel.
Setibanya di lobi, pria itu mengarahkan langkah kakinya menuju resepsionis hotel untuk menanyakan dimana kamar pria yang saat ini ingin ditemuinya.
"Selamat siang, Tuan, ada yang bisa saya bantu." Seorang petugas resepsionis menyapa Benjamin yang kini berada di hadapannya.
Benjamin pun mulai menuturkan seluruh data-data Isco yang telah diketahuinya. Namun, pihak resepsionis menolak untuk memberitahukan dimana kamar Isco berada.
"Maafkan saya Tuan, masalah itu menyangkut privasi tamu jadi saya tidak bisa memberitahukannya, tapi menurut data-data yang telah Anda beritahukan, memang betul Tuan Isco menginap di salah satu kamar hotel ini. Saya minta maaf sekali lagi, jika hanya informasi itu yang bisa saya sampaikan."
Benjamin tak kehabisan akal, ia pun langsung menunjukkan sebuah identitas CIA yang membuat petugas resepsionis itu pun akhirnya memberitahukan pada Benjamin, jika Isco berada di lantai 12 kamar nomor 102.
__ADS_1
Setelah mengantongi informasi yang dibutuhkannya, kini Benjamin bergegas menuju sebuah lift yang berada di sudut lobi.
"Tidak percuma aku selalu membawa identitas milik Ethan. Aku memang sudah menduganya, jika akan menggunakannya di hotel ini." Benjamin pun masuk ke dalam lift dan setelah berada di dalam, ia langsung menekan sebuah angka yang menunjukkan lantai berapa yang akan ditujunya.
Tak butuh waktu lama, kini lift telah berhenti tepat di lantai 12 dan setelah pintu lift terbuka, Benjamin langsung melangkah keluar dengan langkah panjangnya. Setibanya di depan kamar 102, Benjamin mulai membuka pintu kamar hotel yang saat ini dalam posisi terkunci. Namun, itu bukan halangan untuk Benjamin karena dengan menggunakan sebuah kartu yang dikeluarkannya dari saku jasnya, pintu pun seketika terbuka dengan mudah.
Benjamin mulai melangkah masuk dengan perlahan. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Isco di dalam kamar tersebut walau kedua matanya telah memindai ke sekeliling ruangan kamar.
"Dimana pria itu?" tanya Benjamin yang terus mencari ke setiap sudut kamar sampai memeriksa ke dalam bathroom.
Namun, saat Benjamin terlihat lengah dari arah belakang tubuhnya terlihat Isco dengan alat pemadam di tangannya hendak memukul kepala Benjamin.
"Siapa kau?" tanya Isco dengan geram.
"Kau tidak perlu tahu siapa tahu? Tapi sebaiknya kau ikut aku untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" kecam Benjamin dengan rahangnya yang mengeras.
"Apa maksudmu?" Isco semakin heran karena ia sama sekali tak merasa memiliki urusan dengan pria yang saat ini berada di hadapannya.
Isco mulai menyerang dengan memberikan pukulan ke arah wajah Benjamin. Namun, dengan mudah pukulan itu dapat dipatahkan oleh Benjamin dan balik menghajar Isco dengan dua pukulan yang bersarang telak pada wajah juga bagian perut Isco.
__ADS_1
Kini Isco mengerang kesakitan dan terlihat semakin kesal dengan perbuatan pria yang tak dikenalnya ini. "Kurang ajar kau!" Isco kembali menyerang kali ini sebuah tendangan coba mengenai tubuh Benjamin, tapi lagi dan lagi, pria yang memiliki bulu tipis pada rahangnya itu mampu mengelak dengan mundur beberapa langkah ke belakang. Namun, tak cukup sampai di situ, Isco dengan cepat memberikan serangan susulan dengan mendaratkan pukulan untuk mengenai rahang Benjamin. Sayangnya, apa yang dilakukan Isco hanya berakhir dengan kegagalan.
"Apa sudah cukup?" tanya Benjamin dengan rahangnya yang mengeras.
Pandangan mata pria itu sungguh tajam menatap wajah Isco yang sudah kelihatan terengah-engah karena kelelahan.
"Apa kau mau ikut denganku untuk mengakui seluruh perbuatanmu ke kantor polisi? Atau aku harus menggunakan cara yang kasar, agar kau mengakuinya! Pilihan ada di tanganmu."
"Sial, pria itu tak bisa aku kalahkan. Sebaiknya aku kabur saja," gumam Isco yang mulai mengamati celah untuknya dapat melarikan diri dari Benjamin yang hendak menangkapnya.
Kini Isco sudah dapat membaca, bahwa saat ini pria yang ada di hadapannya adalah pastilah orang suruhan Darren yang hendak menangkapnya untuk dapat membebaskan Bella dari sel tahanan.
"Bagaimana Isco?" tanya Benjamin dengan kedua alisnya yang saling bertaut.
"Kau mau tahu jawabanku, aku tidak ingin mengakui atau mengikuti perkataanmu." Sebelah tangan Isco mulai mengambil sesuatu yang berada di belakang tubuhnya, sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca. Ia bermaksud akan melempar vas kaca itu ke arah Benjamin dan saat pria itu lengah, barulah Isco akan melarikan diri dengan keluar dari kamar hotelnya. Namun, sayangnya apa yang Isco rencanakan tak berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan karena lemparan vas bunga itu ternyata juga berhasil dihindari oleh Benjamin hanya dengan menggerakkan sedikit kepalanya ke arah kiri dan vas bunga pun melesat melewatinya, hingga pecah membentur dinding yang berada di belakang tubuh Benjamin.
Isco pun sempat berlari dengan sekuat tenaganya, sampai akhirnya tendangan Benjamin yang keras, setelah dirinya berlari dan melompat ke atas meja untuk menjadi tumpuannya menendang, ternyata mampu mengenai tubuh Isco dan membuat pria itu tersungkur kesakitan di lantai.
"Sudah aku bilang Isco! Kau sebaiknya menuruti perintahku untuk ikut dengan sukarela ke kantor polisi!" kecam Benjamin yang mulai terpancing amarahnya karena perlawanan Isco. Kini pria itu pun berlutut dan menjambak rambut Isco dengan keras, hingga membuat pria itu mengerang.
"Kurang ajar pria ini. Aku harus mengambil pistol di dalam laci itu, lalu akan aku bunuh bajingan ini!" gumam Isco masih terus menatap sebuah nakas yang berada tidak jauh dari posisinya terjatuh saat ini.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️