
Selamat membaca!
Terlihat di pelataran rumah kediaman Darren, sebuah mobil baru saja tiba. Dokter Evran pun keluar dari mobil dan langsung disambut oleh salah satu pelayan yang memang ditugaskan Darren untuk menunggunya.
"Selamat pagi, Dokter!" sapa seorang pelayan dengan tubuh tambunnya, yang bernama Dori.
"Baik Dori, bagaimana kabarmu? Sepertinya berat badanmu bertambah ya? Apakah kau tidak menjalankan diet seperti yang aku katakan?" jawab Evran yang sudah mengenal setiap pelayan di rumah kediaman Darren, karena memang Evran sudah lama menjadi dokter pribadi untuk keluarga Darren.
"Baik Dokter, hanya saja aku sulit sekali mengontrol makanku, Dok."
"Diet itu niat, Dori. Jika tidak bagaimana ada wanita yang akan menyukaimu, jika badanmu segemuk ini?"
Dori tercekat kaget. Namun, dengan cepat ia menampiknya. "Ah, Dokter malah nyumpahin sih, jadi menurut Dokter, Erin tidak akan menyukai aku ya?"
"Mungkin tidak jika tubuhnya masih seperti ini. Besok datanglah ke apartemenku! Aku akan membuatmu kurus dalam satu bulan."
Dori pun terlihat memikirkan dan mempertimbangkan tawaran yang dokter itu katakan padanya.
"Baik Dokter, saya mau. Nanti saya akan izin kepada Tuan Darren."
"Oke Dori, harus tetap optimis ya. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu ya."
"Silahkan Dokter." Sebuah senyuman mulai mengembang dari kedua sudut bibir Dori, saat secercah harapan timbul di dalam dirinya.
Sementara itu, Evran kini sudah melewati ruang tamu. Ia pun mulai mengedarkan pandangan untuk melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Inilah saatnya aku mengembalikan titipan yang Irene berikan padaku," batin Evran mengingat saat terakhir bertemu Irene.
Evran mulai menaiki anak tangga untuk menuju kamar Dyra yang terletak di lantai atas.
๐๐๐
Sinar matahari kini memancarkan cahayanya semakin terik, karena waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 10.00, setengah jam berlalu sejak kedatangan Evran ke rumah ini.
Di bagian lain di sisi rumah, Erin terlihat sedang menyendiri. Ia duduk termangu sambil memangku kedua tangan, pikirannya saat ini begitu hanyut dalam kesedihan, setelah Owen mengakhiri hubungan yang sudah mereka jalani selama 1 tahun ini.
"Kenapa kamu tega, Owen? Kamu mengakhiri hubungan kita, di saat perasaanku sedang sayang-sayangnya," lirih Erin yang mulai meneteskan bulir kesedihan dari sudut matanya.
Dori menghentikan langkah kakinya, ketika kedua matanya tanpa sengaja melihat Erin yang sedang menangis.
Tiba-tiba Dori tersentak kaget, hingga membuatnya gelagapan, saat dari belakang tubuhnya, sosok Darren muncul yang di awali dengan sebuah deheman.
Dori pun memberi salam dengan setengah membungkuk kepada Darren.
"Pagi Tuan Darren."
"Ya pagi, kamu itu bukannya langsung mendekati Erin, malah hanya menontonnya dari sini. Memangnya kamu pikir, tangisannya seperti film bioskop. Sudah sana, jika kamu menyukainya dekati dan tanyakan kenapa dia menangis!" titah Darren sambil menepuk pundak Dori, ia sudah tahu bahwa Dori sudah sejak lama menyukai Erin. Namun, sejak hubungan Erin dan Owen semakin dekat, Dori pun secara perlahan menjauh dari Erin. Bahkan untuk melupakan Erin, Dori sampai ingin mengundurkan diri untuk berhenti bekerja, tapi karena kebaikan hati Darrenlah, Dori pun akhirnya diizinkan untuk cuti selama 1 bulan lamanya.
"Tapi Tuan, saya tidak berani," ucap Dori gugup.
"Tadi kamu kan bilang, kalau kamu lebih tampan dari Owen, lantas kenapa kamu terlihat cemas! Sudah cepat, sana!" Darren mendorong tubuh Dori yang tambun, hingga akhirnya sosoknya terlihat oleh Erin yang dengan cepat mengusap air mata pada kedua pipinya.
__ADS_1
Erin tidak ingin bila Dori mengetahui kesedihannya saat ini, ia pun memasang wajah datarnya dan berusaha untuk kuat menahan kepedihannya.
"Dori, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Erin menautkan kedua alisnya.
Dori masih terdiam dan belum menjawab apa yang Erin tanyakan padanya. Ia terus melangkah sambil menatap wajah Erin dengan tatapan mata yang teduh.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Dori yang langsung duduk, walau Erin belum menjawab apa yang Dori tanyakan.
"Perasaan aku belum jawab deh."
Dori pun terkekeh lucu, ketika wajah Erin berubah jadi begitu menggemaskan. Hatinya seakan bergetar, hingga membuat cinta di dalam hatinya semakin membuncah.
"Inilah yang membuatku selalu merindukanmu, walau satu bulan ini aku terus melupakanmu, tapi yang aku dapat hanyalah sebuah kegagalan," batin Dori masih menatap kagum wajah Erin yang terlihat begitu cantik baginya.
Erin tak bisa membohongi perasaannya, jika ia sedikit terhibur dengan kedatangan Dori. Setidaknya saat ini, dirinya dapat melupakan rasa sakitnya, karena ditinggalkan oleh Owen.
"Mungkin aku harus membuka hatiku untuk Dori. Sekarang Owen adalah masa lalu untukku, aku harus bisa melupakannya," batin Erin memutuskan walau masih terasa berat.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.
__ADS_1