Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Pertemuan


__ADS_3

Selamat membaca!


Tak lama Darren dan Dyra keluar dari kamar Ansel. Owen tiba-tiba menghampiri keduanya dengan raut wajah yang penuh antusias.


"Tuan, ada kabar baik yang ingin saya sampaikan kepada Anda."


"Iya katakan Owen!"


"Begini Tuan, setelah saya mencari informasi di rumah sakit ini, kebetulan ada seorang pasien yang menurut diagnosa dokter, hidupnya sudah tak bisa bertahan lama lagi."


Darren mulai tersenyum mendengar apa yang Owen sampaikan padanya. Senyuman yang terkesan jahat, saat pikirannya mulai menyadari itu adalah suatu kesalahan, karena seharusnya ia bersedih, saat mendengar ada orang lain yang akan kehilangan nyawanya, bukan malah merayakan kabar duka itu dengan penuh suka cita.


"Ya Tuhan, aku tahu ini salah, tapi hanya dengan cara ini, aku bisa mendapatkan pendonor untuk Ansel. Aku mohon mudahkan segala sesuatunya, agar Ansel bisa melihat seperti sedia kala, aku tidak sanggup melihatnya terus menerus hancur," batin Darren menguatkan dirinya, walau semakin lama ia semakin rapuh.


"Tuan," panggil Owen yang langsung membuyarkan lamunan Darren.


"I..yaa.. Owen," ucap Darren terbata.


Darren kembali melihat ke arah Owen, setelah terjadi pergolakan di dalam batinnya. Pergolakan atas sikapnya, dalam menanggapi kabar yang sebenarnya hanya baik untuk dirinya semata, tapi tidak untuk keluarga yang ditinggalkan oleh pasien itu, karena pastinya ini merupakan kabar yang sangat menyedihkan.


"Apa keluarganya bersedia mendonorkan kornea matanya untuk Ansel?" tanya Darren menautkan kedua alisnya dengan secercah harapan yang kini timbul di dalam hati.

__ADS_1


Seketika Owen mengerutkan keningnya dalam. "Istri dari pasien itu tidak menolak, tapi Anda sendiri yang harus datang untuk menemuinya, itu yang dikatakan oleh wanita itu, Tuan."


"Baiklah, aku akan menemuinya. Kau jagalah istriku di sini!" titah Darren yang langsung dijawab dengan sigap oleh Owen.


"Baik Tuan, kamarnya berada dua lantai dibawah ini, dengan nomor A27, Tuan."


Darren kini menatap wajah Dyra yang memang terlihat sangat lelah. "Sayang aku pergi dulu ya, kamu tidak apa-apa 'kan aku tinggal sebentar?" tanya Darren sambil menyentuh pipi istrinya dengan lembut.


"Tidak apa, Hubby. Pergilah temui orang yang Owen maksud. Semoga wanita itu setuju ya untuk mendonorkan kornea mata suaminya untuk Ansel."


"Ya semoga saja, sayang. Aku pergi dulu ya." Darren mulai melangkah menjauh dari Dyra, menuju sebuah kamar yang berada dua lantai di bawah tempat saat ini.


Sementara itu Dyra mulai berdoa dengan penuh harapan, agar Ansel bisa segera mendapat pendonor kornea mata yang cocok dengannya.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


"Aku rasa wanita itu pasti akan memberikannya, namun pasti akan ada harga yang harus aku bayar sebagai imbalannya, tapi apapun permintaan yang wanita itu inginkan, pasti akan aku penuhi, karena saat ini yang terpenting adalah Ansel dapat melihat kembali," gumam Darren terus merenung sambil menunggu lift berhenti di lantai yang ingin ditujunya.


Darren mulai mengamati ruang rawat yang berjajar di sebelah kanannya. Ia mulai meneliti untuk mencari kamar dengan nomor A27 sesuai yang dikatakan oleh Owen. Ruang rawat di sini bisa dibilang mencerminkan latar kehidupan dari pasiennya, karena hanya tersedia ruangan dengan kelas standar, sangat bertolak belakang dengan ruang rawat Ansel yang memiliki kelas VVIP.


"Ini dia kamarnya." Darren menghentikan langkahnya dan mulai mengetuk pintu kamar dengan perlahan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama seorang wanita paruh baya menampakkan dirinya dengan dahi yang mengernyit. "Mau mencari siapa ya?" tanya wanita paruh baya itu dengan pintu yang sedikit terbuka dan hanya terlihat setengah sisi dirinya saja.


"Saya ingin mencari istri dari pasien yang dirawat itu, apa dia berada di dalam?" tanya Darren dengan ramah.


"Oh itu anak saya, tapi dia tidak ada di dalam, baru saja dia keluar. Coba Anda ke balkon yang di sana! Biasanya dia sering menghabiskan waktu berjam-jam di balkon itu." Wanita itu menunjuk ke arah kiri yang memang terdapat pintu yang terbuka lebar dan terdapat balkon di luarnya.


"Terima kasih banyak, maaf bila saya mengganggu waktu Anda." Darren pamit dengan setengah membungkuk, sebagai tanda ia menghormati wanita paruh baya yang kini ada di hadapannya.


Darren mulai menyusuri lorong rumah sakit. Hingga ia akhirnya sudah tiba di ambang pintu balkon, dengan sorot matanya sudah menatap sosok wanita, yang kini sedang termangu menatap ke arah langit dengan tampilan bintang dan bulan yang berpijar indah.



Darren mulai mendekat dengan perlahan, agar kehadirannya tak mengejutkan wanita itu, yang kelihatannya sedang terbebani suatu masalah berat di dalam pikirannya.


"Sepertinya wanita itu benar-benar sangat terpukul tentang kabar suaminya, yang tidak akan dapat bertahan lama untuk hidup," batin Darren menaruh rasa empati terhadap wanita yang terus dilihatnya dengan iba.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian ya?

__ADS_1


Jangan lupa untuk vote ya, agar karya ini bisa masuk 20 besar ranking vote.


Terima kasih semuanya.


__ADS_2