
Selamat membaca!
Suasana saat itu begitu hening, Dori masih belum mengatakan apapun, walau mereka sudah duduk di sofa ruang tamu sejak 10 menit yang lalu.
"Dori, kenapa diam saja? Ada apa dengan Erin?" tanya Owen yang sudah tak sabar menunggu Dori mengatakan sesuatu.
Dori pun mulai menatap Owen dengan sorot mata yang tajam, ada keyakinan dalam dirinya saat ini untuk mengatakan hal yang sebenarnya tak ia harapkan. Namun, demi wanita yang dicintainya ia harus melakukan hal ini.
"Aku mohon Owen, kembalilah pada Erin. Dia sangat mencintaimu."
Perkataan Dori sontak membuat Owen tercengang. Bukankah Dori adalah orang yang selama ini paling tidak suka, ketika melihatnya berdua dengan Erin, lantas kenapa saat ini ia malah memintanya untuk kembali kepada Erin? Pertanyaan itu langsung memenuhi isi kepala Owen.
"Bukankah kau mencintainya, terus kenapa kamu mau mengalah demiku?" tanya Owen dengan kening yang berkerut dalam.
"Karena aku ingin melihat Erin bahagia. Lebih baik aku yang menangis daripada harus melihatnya menangis karena kehilanganmu," ungkap Dori yang membuat Owen begitu tak menyangka dengan apa yang didengarnya.
"Tapi aku melakukan semua itu, agar kau bisa memiliki kesempatan untuk dekat dengan Erin. Lagipula saat ini perasaanku masih bimbang dengan pilihanku."
"Maksudmu?" tanya Dori yang tak mengerti dengan pilihan yang dimaksud oleh Owen.
"Aku juga jatuh cinta dengan seorang wanita, Dori. Wanita itu selalu menghantuiku, sejak pertemuan pertamaku dengannya di rumah sakit, sejak itu aku tak bisa menghilangkan wajahnya dari ingatanku. Jujur aku juga masih mencintai Erin, tapi aku tahu kau pun mencintainya, jadi aku pikir lebih baik aku melepas Erin, agar kau bisa mendekatinya."
__ADS_1
Dori begitu geram mendengar perkataan Owen tentang wanita lain yang ditemuinya. Rahangnya kini mengeras dengan gurat amarah di raut wajahnya. Pria tambun itu mendekati Owen dan menarik kerah kemeja Owen dengan kasar.
"Kau bodoh jika melepas cinta yang sudah lama kau miliki demi seorang yang baru kau kenal! Jangan sakiti Erin, lupakan wanita itu dan kembalilah kepada Erin!"
Owen melepaskan cengkraman tangan Dori dan menghempaskan tubuh pria tambun itu, hingga Dori terlempar ke atas sofa.
"Ini hidupku Dori, biarlah aku yang memilih mana jalan yang harus aku pilih! Sama sepertimu, jika memang kau mencintai Erin, kejar dia dan dapatkan hatinya! Kau jangan menyuruhku untuk membuatnya bahagia, kenapa tidak kau saja yang berusaha melakukan itu?"
Kali ini perkataan Owen seolah benar. Dori seakan tertampar oleh perkataannya sendiri. Ia kini hanya diam dan tak menjawab dengan sepatah kata pun.
"Sudahlah kau membuang waktuku untuk menemui Tuan Darren," ucap Owen sambil beranjak dari posisinya dan mulai melangkah untuk menaiki anak tangga.
"Tuan Darren sedang pergi bersama Nyonya Dyra ke sebuah mall," ucap Dori memberitahu.
Langkah Owen terhenti saat akan menaiki anak tangga. Raut wajahnya berubah panik dan ia dengan cepat kembali mendekat ke arah Dori dan menangkup kedua sisi lengannya.
"Katakan mereka pergi ke mall mana, Dori?" tanya Owen mengguncangkan tubuh Dori dengan keras.
Dori tercengang dan gugup atas kekasaran Owen yang tiba-tiba, pikirannya menjadi bingung tentang alasan apa yang membuat Owen berubah panik seperti ini.
"Aku tidak tahu Owen, Tuan Darren tidak mengatakan akan ke mall mana!" jawab Dori dengan bibir gemetar dan gugup.
__ADS_1
Owen melepaskan kedua tangannya dan langsung mengambil ponsel yang berada di dalam saku jasnya.
"Sial, Nyonya Dyra dalam bahaya kalau begini! Bodoh kau Owen, kenapa kau membuang waktu berhargamu?" ucap Owen sambil coba terus menghubungi Darren.
Namun, setelah beberapa kali mencoba panggilan teleponnya tak mendapat respon dari Darren, karena di tempat yang berbeda Darren dan Dyra masih berada di dalam bioskop dan tak memungkinkan untuknya menjawab panggilan telepon dari Owen. Walau memang Darren pun belum mengetahui, jika Owen saat ini sedang menghubunginya beberapa kali. Darren sengaja mengatur ponselnya agar senyap tanpa dering dan getar, karena ia tak ingin waktunya terganggu saat bersama Dyra.
"Kenapa tidak dijawab, Tuan Darren?" Owen semakin memusatkan pikirannya. Hingga akhirnya ia teringat akan sosok Will yang saat ini pasti sedang menemani Darren dan Dyra.
"Oh ya Will," ucap Owen yang langsung menghubungi sahabatnya itu.
"Kenapa tidak diangkat Will?" Owen pun kini memutuskan untuk pergi ke sebuah mall yang terdekat jaraknya dari posisi rumah kediaman Darren.
Pria itu berlari dengan cepat meninggalkan Dori yang masih heran dan bingung dengan maksud perkataan Owen. Namun, ia tak berani bertanya di saat Owen sedang menampilkan raut wajah penuh amarah seperti itu.
Setelah berada di dalam mobil, Owen langsung memacu kecepatan mobilnya.
"Semoga Tuan Darren dan Nyonya Dyra ada di Coex Mall, karena memang mall itulah yang terdekat dari sini. Semoga saja!" ucap Owen mengernyitkan dahinya dengan sorot mata penuh harap.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
__ADS_1