Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
7 Hari Penuh Luka


__ADS_3

Selamat membaca!


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Irene terus berupaya menguatkan dirinya, agar bisa sabar menghadapi sikap kasar suaminya yang sering melukai hatinya, lewat perkataan maupun sikapnya yang kejam.


Irene saat ini hanya termangu menatap ke arah luar jendela. Walaupun duduk bersebelahan dengan Ansel, namun sepanjang perjalanan keduanya sama-sama hanya diam, tak saling berkata sepatah kata pun.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, kini mobil yang dikendarai oleh Owen, mulai memasuki pelataran rumah. Kedatangan mereka sudah dinantikan oleh kedua pelayan, yang langsung membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan kursi roda.


Setelah tiba di dalam kamar, Irene menatap ke arah Ansel yang saat ini tengah duduk bersandar di atas ranjang. Wajahnya terlihat begitu murung, terkadang hal itulah yang membuat Irene merasa iba terhadapnya.


"Andai kamu bisa selalu bersikap baik padaku, mungkin aku tidak perlu pergi dari hidupmu Ansel," batin Irene dengan kedua mata yang sudah berkabut penuh air mata.


Hari demi hari terus Irene lewati dengan penuh kesabaran, atas sikap Ansel yang tak pernah berubah padanya. Sudah tujuh malam ini Irene dan Ansel tidur satu kamar, namun tidak satu ranjang karena Irene tidur di sofa, sedangkan Ansel tidur di ranjangnya seorang diri. Hal itu tak jadi masalah untuk Irene, karena alasannya tidur satu kamar, adalah agar ia lebih mudah untuk menjaga Ansel. Apalagi di saat suaminya itu membutuhkan sesuatu atau sekedar pergi ke toilet, ia ingin selalu ada untuk dapat membantunya.


Tiba-tiba saja sebuah perintah itu terlontar dari mulut Ansel. Sebuah perintah yang tak memikirkan perasaan orang lain, bahkan bisa dibilang perintah arogan itu, lebih baik dari perintah seorang pelatih satwa terhadap binatang peliharaannya.


"Aku haus, buatkan aku jus alpukat!" perintah Ansel kepada istrinya, namun ia enggan untuk bicara lebih lembut agar terkesan sopan.


Irene yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas sofa segera bangkit. Ia mengucek matanya yang sudah terasa berat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam.


"Mau pakai es atau tidak?" tanya Irene yang mulai menunjukkan sikap dinginnya.


"Tidak! Harusnya kamu tidak perlu bertanya mengenai masalah sepele seperti itu! Bukankah ini sudah malam?" ketus Ansel, sengaja membentak Irene.


Irene tak lagi terkejut setiap kali Ansel membentaknya, itu sudah seperti makanan sehari-hari baginya.


"Kalau aku bertanya, pakai gula atau susu salah tidak? Karena aku tidak tahu selera jus alpukatmu seperti apa."

__ADS_1


"Gunakan otakmu untuk berpikir dong, bodoh! Tentu harus pakai keduanya, karena aku tidak suka pahit."


Irene menekan dadanya yang terasa begitu perih. Ia tak menjawab perkataan Ansel dan segera membalikkan tubuhnya untuk pergi keluar dari kamar.


Beberapa menit berlalu, Irene kembali ke dalam kamar dengan membawa satu gelas jus alpukat di atas sebuah nampan, lalu ia meletakkan nampan itu di atas nakas dan meraih gelas yang sudah berisikan jus alpukat untuk disodorkan kepada Ansel.


"Ini, minumlah!" ucap Irene sembari menyodorkan gelas yang berada di genggamannya.


Ansel mengangkat tangan dan mulai meraba-raba sekitar, berusaha meraih gelas yang tentunya berisi jus alpukat kesukaannya.


Sudah cukup lama Ansel meraba, namun belum juga menyentuh gelas yang berada di hadapannya, sama seperti yang sudah-sudah terjadi.


Irene menghela napas berat sembari menggelengkan kepala. Ia mencoba untuk lebih sabar lagi dan membuang rasa egonya yang sudah mulai malas berbuat baik kepada Ansel.


Wanita itu meraih tangan Ansel yang masih meraba udara, digenggamnya tangan halus itu dan diarahkan untuk memegang gelas yang menjadi tujuan pencariannya.


Ansel segera meneguk jus alpukat buatan Irene yang terasa pas di lidahnya, tekstur dan rasa manisnya sangat enak sesuai dengan keinginannya. Tanpa membutuhnya waktu lama, Ansel telah menghabiskan satu gelas jus tanpa tersisa, hingga lidahnya menyapu sekitar bibir yang meninggalkan jejak jus tersebut.


"Nih sudah habis, letakkan lagi gelasnya karena aku tidak tahu dimana harus meletakkannya!" titah Ansel menyodorkan gelas ke hadapannya yang tidak ada siapa-siapa, karena saat ini Irene berada di sampingnya.


Irene menerima gelas itu dengan segera sebelum terjatuh. "Apa kamu membutuhkan sesuatu lagi?"


"Aku lapar, tapi aku ingin makan bubur. Buatkan aku bubur abalone!"


Dahi Irene mengerut dalam, ia tidak tahu bagaimana cara memasak bubur abalone. Pernah sekali Irene menonton acara memasak di televisi, chef itu menunjukkan cara membuat bubur abalone dengan mencampurkan beras dan kerang dari pulau Jeju, namun ia lupa apa saja bahan yang disebutkan chef di televisi itu selain kedua bahan di atas.


"Hmm, Ansel. Aku tidak bisa memasak bubur." Irene memilih berkata jujur.

__ADS_1


"Tidak bisa atau malas!"


"Serius aku tidak bisa, karena Erin baru sempat mengejariku resep masakan menu sarapan waktu itu. Aku belum belajar pada Erin cara memasak bubur."


"Ah, kau ini sangat berbeda dengan Dyra! Tidak bisa diandalkan sepertinya! Selama dua tahun Dyra selalu bisa masak apa yang aku inginkan, tidak sepertimu yang tidak pintar dan selalu mengandalkan orang lain baru bisa masak!" Lagi dan lagi, Ansel kembali melukai perasaan Irene dengan membandingkan istrinya dengan Dyra yang saat ini sudah menjadi ibu sambungnya.


"Cukup ya, Ansel. Cukup! Kamu tidak perlu menghinaku terus, aku tahu aku tidak akan pernah menjadi baik di matamu, walau aku selalu berusaha untuk bisa menjadi yang terbaik. Mungkin selamanya aku tidak akan pernah bisa menjadi yang berguna dan dapat selalu kamu andalkan, karena aku bukan wanita yang kamu cintai. Aku juga sadar bahwa keberadaanku di sini tidak kamu inginkan sedikit pun. Aku hanya pengganggu di hidupmu, pembawa sial, perusak kebahagiaanmu, tapi please Ansel, berhenti menghinaku terus menerus, karena aku juga manusia biasa sama sepertimu, aku bisa lelah dan kesabaranku bisa habis bila harus terus mendapat cacian darimu!"


Irene menangis dengan terisak meluapkan rasa sakit yang selama tujuh hari ini terus ditahannya. Perlakuan Ansel benar-benar semakin melukai perasaannya, sangat kejam dan seperti tak memiliki hati. Wanita berparas sendu itu kini melangkah pergi meninggalkan Ansel begitu saja keluar dari kamar, dengan membanting pintu itu keras-keras.


Sementara itu Ansel yang mendengar ungkapan hati Irene, hanya dapat terdiam dan tersentak, hingga membuat hatinya ikut bergetar.


"Apa aku terlalu kejam? Apa aku tidak memiliki perasaan? Apa semua itu benar adanya?" batin Ansel dipenuhi dengan beragam pertanyaan dalam dirinya yang terus berkecamuk.


🌸🌸🌸


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak ya atas dukungan kalian semua.


Jangan lupa like dan vote ya.


Mampir juga ke dua judul karyaku yang lain :



__ADS_1


__ADS_2