Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Awal Bahagia


__ADS_3

Selamat membaca!



Satu Minggu kemudian, sejak peristiwa penusukan itu terjadi. Saat ini Irene terlihat sedang menyusuri lahan hijau dengan batu nisan yang berjajar di sepanjang kiri dan kanannya. Kala itu, ada perasaan sedih yang begitu mendalam karena Irene merasa sangat bersalah atas kematian seseorang.


Setelah menyusuri jalan setapak, kini Irene sudah berdiri tepat di makam yang bertuliskan nama Kevin Howard pada batu nisannya.


"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud untuk membunuhmu. Aku hanya ingin menyelamatkan sahabatku, tanpa berpikir bahwa kehidupanmu itu sangat berarti untuk keluargamu," batin Irene menahan rasa sedih di kedalaman hatinya.


Tak berapa lama kemudian, Ansel yang baru selesai memindahkan mobilnya karena menghalangi mobil pengunjung makam lainnya, kini tepat berdiri di samping Irene untuk menenangkan sang istri yang saat ini terlihat sangat bersedih.


"Sayang, sudahlah. Jangan kamu tangisi terus, ingat semua ini bukanlah kesalahanmu. Sebaiknya kita doakan saja, semoga beliau bisa tenang di sana bersama Ibunya," ucap Ansel yang baru kemarin diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit.


Saat ini proses penyembuhan Ansel berlangsung sangat cepat. Keinginannya untuk sembuh benar-benar sangat membantu proses pemulihannya pasca operasi. Ya, walaupun Ansel masih harus datang untuk melakukan cek up ke rumah sakit dalam beberapa Minggu ke depan.

__ADS_1


"Iya sayang. Aku hanya takut, jika waktu itu aku sampai kehilangan kamu, apa jadinya aku saat ini?" Irene mengatakan semua itu sambil menatap dalam kedua manik mata Ansel yang saat ini juga tengah melihatnya.


"Aku bersyukur karena masih diberikan kehidupan oleh Tuhan. Terima kasih ya karena selama aku di rumah sakit, kamu selalu menemaniku. Maafkan aku, jika aku terlalu merepotkanmu," ucap Ansel dengan kedua manik mata yang saat ini tengah berkaca-kaca, saat mengingat semua yang dilakukan oleh Irene selama dirinya dirawat di rumah sakit.


Irene yang tak sanggup membendung kesedihannya karena teringat saat dimana dirinya hampir kehilangan suami yang sangat dicintainya. Kini langsung melabuhkan tubuhnya pada pelukan Ansel. Pelukan itu tak berlangsung lama karena setelah itu, keduanya kembali berdoa dengan sungguh-sungguh untuk Kevin agar arwahnya bisa tenang di alam sana.


Selesai dengan urusannya di pemakaman, kini keduanya mulai melangkah untuk kembali ke area parkiran mobil, di mana Ansel memarkirkan kendaraannya di sana. Setibanya di dalam mobil kini Ansel bersiap untuk mengendarai mobilnya.


"Sekarang sesuai janjiku waktu itu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Ansel dengan penuh senyuman sambil mengusap kedua pipi istrinya yang masih tampak basah oleh sisa-sisa air mata.


"Tidak sayang, aku sudah baik kok. Nih, lihat sudah tidak sakit." Ansel berlaga sok kuat agar Irene tak mencemaskan kondisinya yang sebenarnya masih sering terasa nyeri, apalagi bila luka itu tersentuh oleh Irene saat memeluknya.


Irene menaikkan sebelah alisnya dengan sorot mata yang tajam menatap wajah Ansel yang menurutnya sedang menutupi sesuatu darinya.


"Kamu yakin sudah sembuh, coba sini aku pegang." Irene mulai menunjuk luka Ansel pada bagian perut sebelah kanannya, ia mulai mengarahkan telunjuknya untuk sekadar mencolek luka yang masih dibungkus perban yang melingkar pada perutnya.

__ADS_1


Namun, Ansel beringsut untuk melakukan pertahanan agar Irene tak berhasil menyentuh lukanya. Walaupun semua gerakan itu malah membuat nyeri pada luka Ansel terasa semakin menyakitkan. Pria itu pun mengaduh hingga membuat Irene kembali menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap.


"Sudah ah, kita ke hotel saja. Kita tunda dulu ke tempat yang kamu katakan itu. Sekarang ini yang terpenting adalah kesembuhan kamu karena seminggu lagi kita akan datang ke acara pernikahan Nisa dan setelah acara itu aku ingin pulang kembali ke Korea bersamamu."


Ansel pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali karena kebohongannya, akhirnya terbongkar juga oleh sang istri yang ternyata lebih pintar darinya.


"Okelah sayang. Aku menurut saja, sekarang ayo kita kembali ke hotel!" Ansel pun menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya.


Irene terus menatap wajah suaminya dengan dalam. Ada binar kebahagiaan yang tersirat dari sorot matanya. Kebahagiaan akan kehidupannya yang baru bersama Ansel dan anak yang saat ini ada di dalam kandungannya.


"Aku ingin pulang bersamamu untuk memulai kehidupan kita yang baru. Semoga ini semua adalah awal dari kebahagiaan pernikahan kita ya, sayang," batin Irene sambil menatap suaminya dengan penuh harap.


Saat ini, mobil mulai bergerak dengan perlahan untuk meninggalkan area parkiran di pemakaman. Pemakaman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2