Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Mandiri


__ADS_3

Selamat membaca!


Irene dan Erin kini sudah berada di dapur. Erin terlihat mempersiapkan segala bahan-bahan masakan, untuk mulai mengajarkan kepada Irene.


"Terima kasih ya, Erin, kamu sudah mau membantuku. Oh iya, apa kamu pernah memasak untuk Ansel? Dia biasanya suka sarapan pakai menu apa?" tanya Irene yang percaya bahwa Erin lebih mengenal Ansel daripada dirinya yang tidak tahu apa-apa.


"Kembali kasih, Nona. Saya pernah puluhan kali memasak untuk Tuan Ansel saat dia merindukan masakan Ibunya, dia bilang masakan saya mirip rasanya dengan masakan Nyonya Bella."


"Berarti aku tidak salah, meminta bantuan pada Erin untuk mengajari masak," gumam Irene tersenyum manis.


Irene sudah tak sabar untuk mulai belajar memasak, ia yakin dan sangat percaya diri bahwa Ansel akan menyukai masakannya setelah mendengar cerita dari Erin.


Erin kini mulai menyebutkan nama-nama bumbu dapur lebih dulu, karena ilmu memasak Irene masih sangat rendah.


Setelah Irene memahami dan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak menu kesukaan Ansel, ia bergegas untuk memulai pengalaman pertamanya dalam memasak.


Dua jam lebih Irene berkutat di dapur bersama Erin yang mengajarkannya penuh rasa sabar, akhirnya masakan Irene pun sudah matang dan siap untuk disajikan, bertepatan dengan Ansel yang baru keluar dari kamar hendak turun menuju ruang makan.


Irene segera menyusun masakannya di atas meja makan dengan rapi, senyum bahagia terus menghiasi wajah cantiknya karena berhasil membuat beberapa macam menu untuk suaminya dan ia berharap semoga Ansel menyukainya.



Setelah tiba di ruang makan, Ansel langsung duduk kursi yang biasa ia tempati, wajahnya menampilkan raut heran melihat Irene, yang sudah berada di dapur sejak ia menuruni anak tangga.


"Apa kamu yang memasak semua ini?" Akhirnya Ansel bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.


Irene mengangguk. "Iya Ansel, aku memasak ini spesial untuk sarapanmu. Semoga kamu suka dengan masakanku," ucap Irene penuh keraguan, ia tak yakin bahwa Ansel akan menyukai hasil masakannya.


Ansel mengangkat kedua alisnya dengan santai, ia tak percaya Irene bisa memasak menu sebanyak ini seorang diri.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa langsung menanyakan kebenarannya pada Erin, bahwa aku memasaknya sendiri. Erin yang telah mengajariku untuk memasak menu ini," ucap Irene mencoba menjelaskan, seolah dapat membaca isi pikiran suaminya.


"Betul Tuan, Nona Irene memasaknya sendirian tanpa bantuan saya," tutur Erin yang masih berada di ruang makan, setelah membantu Irene menyusun makanan di meja makan.


"Siapa yang memasak, itu tidak penting! Menurutku yang terpenting aku harus makan sebelum pergi keluar rumah."

__ADS_1


Tanggapan Ansel membuat Irene patah hati, karena suaminya tidak menghargai hasil jerih payahnya. setelah menghabiskan waktu dua jam lamanya. Irene hanya mampu mengelus dadanya untuk tetap sabar, menanggapi semua sikap Ansel.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri Tuan dan Nona, selamat menikmati sarapan bersama." Erin pun berlalu meninggalkan ruang makan.


Irene duduk di kursi yang berseberangan dengan tempat duduk Ansel, ia mulai meraih mangkuk kecil untuk diisi beberapa lauk. Raut bahagia di wajahnya kini telah sirna, setelah Ansel memupuskan lewat perkataannya.


Sementara itu Ansel, saat ini mulai mangaduk semangkuk bibimbap dan mencampurkan saus gochujang agar terasa pedas. Ansel mulai melahap suapan pertama ke dalam mulutnya dan langsung mengunyahnya, namun seketika gerakan mulut Ansel terdiam sejenak untuk merasakan rasa lezat dari bibimbap yang ia makan, rasa enak ini tidak asing di lidahnya, mirip dengan masakan yang sering dimasak oleh Bella dulu, saat ibunya masih hidup beberapa tahun yang lalu.


"Masakannya sangat mirip seperti Amma, enak dan lezat. Ternyata dia belajar dengan sungguh-sungguh bersama Erin agar menghasilkan makanan seenak ini, walau aku sering menyakitinya," batin Ansel mulai tersentuh sambil sesekali menatap dalam wajah Irene.


Irene melirik Ansel yang terdiam tak melanjutkan makannya. "Ansel, apa masakanku tidak enak?" tanyanya penuh rasa cemas.


Ansel menggeleng. "Biasa saja!" jawabnya berbohong karena gengsi untuk mengakui.


"Hmm, maaf kalau rasanya masih jauh dari yang kamu inginkan, tapi aku akan belajar lagi agar rasanya bisa sempurna untuk lidahmu."


Ansel tak menjawab dengan ucapan, ia hanya menaikkan kedua alis sembari mengedikkan bahunya sebagai jawaban terserah.


Irene memilih diam dan tak bertanya lagi, ia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Ambilkan koper saya yang berada di dalam kamar, keduanya kamu masukkan ke mobil saya!"


Irene segera mengalihkan pandangannya ke arah Ansel, setelah mendengar apa yang Ansel katakan kepada pelayan itu.


"Baik Tuan, laksanakan." Pelayan itu pun pergi untuk menjalankan perintah majikannya.


"Kamu mau kemana pakai bawa dua koper segala?" tanya Irene dengan menautkan kedua alisnya.


"Mau pergi holiday sama sahabat-sahabatku! Dan ingat, kamu tidak boleh mengadukan masalah kepergianku pada Ayah!" ancam Ansel dengan kedua alisnya yang saling bertaut.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Irene dengan ragu.


"Tidak boleh! Aku ingin pergi liburan dengan tenang tanpa gangguan darimu." Ansel menajamkan sorot matanya.

__ADS_1


"Aku janji, tidak akan mengganggumu selama liburan. Aku bosan terus berdiam diri di rumah," pinta Irene memohon dengan wajah memelas.


"Itu urusanmu, bukan urusanku. Bukankah kamu yang menginginkan aku menikahimu, agar kamu bisa tinggal di rumah mewah dengan fasilitas yang lengkap dan bisa menikmati makanan enak setiap harinya. Sekarang terima saja nasibmu menjadi istri dari keluarga kaya raya, dengan menghabiskan waktu di istana ini!"


Irene menelan salivanya dengan kasar, sungguh ia kehabisan kata-kata untuk menjawab perkataan Ansel, yang sangat menyudutkannya.


"Kalau begitu, apa boleh aku minta uang untuk keperluan kuliah dan biaya hidup sehari-hari? Besok aku harus masuk kuliah, karena masa cutiku sudah habis."


"Aku tidak mau memberikannya! Lagipula aku sudah mengeluarkan banyak uang, untuk membiayai liburan bersama sahabat-sahabatku." Ansel menolak dan tak menghiraukan Irena yang saat ini semakin bersedih.


Mata Irene membulat sempurna, ia tidak menyangka dengan jawaban Ansel. "Kenapa kamu jadi lebih mementingkan biaya liburanmu, daripada biaya kuliah istrimu sendiri?"


"Apa haknya kamu protes? Jadi sekarang kamu mulai berani mengatur-aturku?"


Irene memejamkan matanya sekilas, untuk memendam rasa kecewanya dalam hati.


"A-aku tidak berniat melarangmu, tapi aku benar-benar butuh uang buat bayar semester di kampus dan tabunganku tidak cukup untuk membayarnya."


"Hei, kamu ini kan masih muda, masih sehat, kenapa kamu tidak bekerja saja agar menjadi lebih berguna dan menghasilkan. Jadi wanita itu harus mandiri seperti Dyra, jangan bergantung dengan meminta uang dan merepotkan orang lain!"


Ansel pun berlalu pergi meninggalkan Irene yang diam mematung dengan kepala yang menunduk dalam. Ia pergi tanpa kata pamit, hanya ucapan kasar yang Ansel tinggalkan untuk istrinya di rumah


Irene terus menatap Ansel yang semakin menjauh darinya.


"Sekarang aku harus kembali bekerja, agar mendapatkan uang untuk keperluan juga biaya kuliahku," batin Irene merasakan pedih yang teramat dalam.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian.


Like dan juga vote di setiap episodenya ya.


Mampir juga ke karyaku yang ini ya :

__ADS_1



__ADS_2