
Selamat membaca!
Setelah selesai dengan acara pertemuan yang berakhir penuh haru dan membahagiakan. Kini Ansel dan Irene sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Will, sementara Darren, Cassandra dan juga Dyra di mobil yang satunya lagi. Mereka pun beriringan untuk kembali pulang ke rumah kediaman Darren.
"Sayang, aku bersyukur karena pada akhirnya kedua orang tuamu sudah bisa memaafkanku, walaupun aku masih menyimpan perasaan bersalah terhadap Kakakmu yang sepertinya masih marah terhadapku."
"Kakak memang agak keras, sayang. Kamu sabar saja ya, tapi setelah kedua orang tuaku menjelaskan semua padanya, aku yakin nantinya dia akan memaafkanmu dan mau mengerti tentang apa yang terjadi. Kamu enggak usah cemas ya, sayang!" jawab Irene sambil mengusap punggung tangan suaminya yang masih digenggamnya sejak mereka masuk ke dalam mobil.
Tak berselang berapa lama, Ansel tiba-tiba terhenyak ketika bayangan di dalam pikirannya kembali hadir dan kali ini kelihatan begitu jelas dalam pengelihatannya. Irene yang melihat semua itu pun menjadi panik, sampai Will yang sedang mengendarai mobil memutuskan untuk menepikan kendaraannya saat teriakan Ansel terdengar semakin keras.
"Ansel kamu kenapa? Apa yang terjadi? Apa yang kamu lihat sampai kamu seperti ini?" tanya Irene menatap cemas kondisi suaminya yang terlihat memegangi kepalanya dengan semburat wajah yang terlihat menahan rasa sakit.
"Tuan, apa mau saya bawa ke rumah sakit saja, Tuan?" tanya Will yang ikut mencemaskan kondisi Ansel.
Pandangan Ansel yang berkabut dengan kepala yang berkunang-kunang membuat kesadarannya hampir hilang. Namun, semakin lama kondisinya mulai berangsur membaik dan Ansel pun mulai mengingat bayangan-bayangan yang tadi sempat hadir dalam pikirannya sambil mengedarkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.
__ADS_1
"Jalan ini, sepertinya pernah aku lewati sebelumnya, Irene. Sekarang aku ingin keluar dari mobil!" Ansel pun bergegas keluar dan membuka pintu mobil tanpa menunggu Will membukakan pintu untuknya keluar. Namun, Will kini sudah berada di luar mobil diikuti dengan Irene yang juga telah keluar untuk menyusul Ansel.
Di luar mobil, Ansel terus memperhatikan jalan setapak yang berada di sisi kirinya dan jalan itu benar-benar terlihat jelas di dalam bayangannya. Sebuah jalan yang pernah dilewati Suga bersama keempat laki-laki yang dengan paksa membawanya ke tepi danau.
"Suga," ucap Ansel dengan terbata mengatakan semua itu.
Irene yang mendengar semua perkataan Ansel menjadi semakin kebingungan. Terlebih saat Ansel menyebut nama mantan kekasihnya.
Ansel pun mendekati Irene dan memutuskan untuk mengatakan apa yang diketahuinya. Ia tak ingin lagi menyembunyikan semua hal yang ia ketahui tentang Suga yang didapatnya dari bayangan-bayangan yang sering bermunculan di dalam pikirannya. Bayangan yang seolah-olah menuntun Ansel untuk menguak sebuah peristiwa yang menjadi alasan dari kematian Suga.
"Sayang, maaf karena aku telah menyembunyikan ini darimu. Sebenarnya Suga itu tiada karena dianiaya oleh empat orang laki-laki di tepi danau sana. Sebuah danau yang selalu hadir di dalam pikiranku."
"Apa benar semua itu Ansel?" tanya Irene memperjelas apa yang telah Ansel katakan padanya. Sesuatu yang membuatnya begitu terkesiap karena selama ia mengenal Suga, pria itu tak pernah sekalipun mempunyai seorang musuh. Bagi Irene, Suga itu adalah pria yang baik dan selalu peduli akan kesusahan orang lain, baik yang dikenalnya ataupun tidak. Jadi bagaimana mungkin ada orang yang tega menganiaya orang yang baik seperti Suga.
__ADS_1
"Iya sayang, sewaktu di Birmingham aku juga sudah memerintahkan kepada Owen untuk menyelidikinya dan hasilnya memang benar Suga meninggal karena dianiaya. Suga itu adalah pendonor mataku dan Owen sudah mengenal Felicia dengan baik, makanya Owen bisa tahu banyak hal tentang Suga dari wanita itu, tapi satu hal yang pasti akan membuatmu terkejut, jika pelaku penganiayaan itu salah satunya adalah Kakakmu," ungkap Ansel menjelaskan dengan panjang lebar. Walau di akhir kalimat ia seperti ragu mengungkapkannya. Namun, ia menilai jika Irene berhak tahu tentang apa yang selama ini tak pernah diketahuinya.
Perkataan Ansel sungguh membuat Irene semakin terkesiap, hingga membuat kedua lututnya terasa lemah untuk dapat menopang raganya. Kini bulir air mata tampak berlinang deras membasahi kedua pipinya tiada henti, ia menangis menahan rasa sesak di dalam dadanya atas semua kenyataan yang telah diketahuinya dari Ansel.
"Ini semua karena kesalahanku, Suga tidak bersalah atas kehamilanku dan dia menjadi korban dari kesalahpahaman yang terjadi di keluargaku. Aku tahu pasti Jo Woon mengira aku hamil karena Suga, makanya dia sampai menganiaya Suga dengan menyuruh ketiga sahabatnya." Irene begitu lirih mengatakan semua itu. Perkataan yang membuat Ansel semakin mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Irene? Apa kita harus melaporkan Jo Woon ke pihak yang berwajib?" tanya Ansel yang membuat Irene menjadi bimbang untuk menjawabnya.
"Aku harus bagaimana? Apa aku tega membiarkan Kakak kandungku masuk ke dalam penjara? Tapi apa Suga bisa tenang di sana, jika pelaku penganiayaannya masih berkeliaran bebas dan tak mendapatkan hukuman yang semestinya atas perbuatannya," batin Irene bergelut dengan keraguannya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️
Baca juga, Aku Bukan Istri Mandul
__ADS_1