
Selamat membaca!
Beberapa saat kemudian, Ansel pun keluar dari bathroom dengan senyuman semringah yang menghiasi wajah tampannya. Saat ini ia sudah tak sabar lagi untuk sesegera mungkin memulai mandi pertamanya bersama Irene.
"Sayang, semuanya sudah siap. Ayo kita mandi sekarang!" titah Ansel seraya meraih tangan Irene yang saat ini terasa begitu dingin.
"Hei sayang, kenapa tanganmu dingin sekali?" tanya Ansel dengan kening yang berkerut dalam.
"Aku grogi tahu, kenapa sih kamu pakai meminta kita mandi bersama segala?" Irene mengerucutkan bibirnya dengan kedua mata yang memicing.
Ansel tertawa kecil melihat kegugupan Irene yang terlihat amat menggemaskan. "Ya ampun sayang, kamu kok lucu banget sih, masa diajak mandi bareng kamu malah gugup sampai tanganmu dingin begini. Sudah ya, kamu jangan cemas dan jangan malu, masa sama suami sendiri malu-malu sih."
Pria itu pun segera merengkuh tubuh Irene dan mulai menggendongnya untuk dibawa masuk ke dalam bathroom.
"Sayang, aku bisa jalan sendiri tahu. Tolong turunkan aku sekarang juga!" protes Irene sambil menendang-nendang kedua kakinya.
"Aku akan menggendongmu sampai ke dalam bathroom, jangan protes ya sayang!"
__ADS_1
Seketika perkataan Ansel membuat Irene menutup mulutnya rapat-rapat. "Tenang, Irene, tenanglah. Katanya mau belajar jadi istri yang baik untuk suamimu, itu artinya kamu jangan menolak apapun yang dia inginkan. Kamu harus menuruti semua kemauannya dan melayaninya sebaik mungkin, agar Ansel tidak sampai berpaling pada wanita lain!" batin Irene memarahi dirinya sendiri.
Begitu tiba di dalam bathroom, Ansel menurunkan tubuh Irene dari gendongannya hingga sang istri berdiri di hadapannya. Pria itu segera merapatkan posisinya dengan Irene untuk mulai membukakan pakaian yang masih melekat menutupi tubuh istrinya.
Kali ini Irene tak memberikan penolakan apa pun, ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Ansel melakukan apa saja pada dirinya.
Ansel telah berhasil melucuti semua pakaian Irene tanpa menyisakan sehelai benang pun yang menutupi tubuh seksinya. Kali ini pria itu merasa tak dapat menahan hasratnya lagi karena menatap tubuh molek sang istri yang membuat hasratnya seketika kembali memuncak.
Namun, Ansel tiba-tiba kembali teringat akan kejadian sewaktu Irene mengalami kontraksi setelah mereka berhubungan suami-istri di Birmingham. Ingatan itulah yang membuat Ansel merasa sedih karena harus menahan hasratnya, agar tak melakukannya sampai Irene melahirkan buah hati mereka.
"Ya Tuhan, cobaan apa ini? Rasanya aku ingin terus dekat dengan Irene, tapi aku harus dapat menahan hasratku ini," batin Ansel kemudian menelan salivanya bulat-bulat bersama hasrat yang tak dapat dilampiaskan.
"Kamu masuk ke dalam bathub ya, aku mandiin kamu duluan deh."
Irene mengangguk patuh dan segera melangkah masuk ke dalam bathub yang di atas permukaannya terdapat busa tebal dengan aroma jasmine yang menyegarkan. Wanita itu pun lantas langsung menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami.
Ansel yang juga telah melepaskan seluruh pakaiannya, ikut menyusul masuk ke dalam bathub dan duduk di belakang tubuh Irene yang saat ini terlihat sangat gugup karena posisinya saat ini menjadi begitu rapat dengan Ansel di dalam bathub.
__ADS_1
"Ini benar-benar membuatku gugup," batin Irene dengan wajahnya yang memerah karena menahan malu dengan pengalaman pertama mandi bersama Ansel.
Ansel kini melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Irene dan mulai mengusap perut istrinya yang terasa sudah membuncit. Bahkan dirinya saat ini dapat merasakan, bahwa di dalam sana ada kehidupan dari sang buah hati mereka.
"Sayang, kira-kira anak kita lagi ngapain ya di dalam perutmu? Aku dapat merasakan gerakannya, apakah itu detak jantungnya?" tanya Ansel dengan penasaran dan antusias.
"Sepertinya iya deh, sayang. Aku sering merasakan gerakannya ketika malam hari dan mau tidur."
"Apa kamu merasa tidak nyaman setiap malam?" tanya Ansel lagi yang mencoba membuka percakapan demi percakapan untuk meredakan hasratnya yang telah memuncak.
"Tidak sayang, aku nyaman-nyaman saja kok. Apalagi semenjak ada kamu, aku jadi semakin nyaman tidur dengan ayah dari bayi kita berdua ini." Irene menjawabnya dengan suaranya yang terdengar lembut. Bahkan saat ini ia menyandarkan kepalanya di atas dada Ansel, berusaha untuk membuat dirinya senyaman mungkin dengan posisinya saat ini.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang aku akan keramasi rambut kamu ya," Ansel pun langsung mengambil sebotol sampo yang masih berada dalam jangkauan tangannya untuk segera memulai aktivitas mandi mereka agar cepat terselesaikan.
Irene tersenyum bahagia dengan pengalaman yang saat ini ia alami. Namun, tak begitu dengan Ansel yang tengah menahan hasrat yang menggebu dalam dirinya.
"Aku harus menyelesaikannya sesegera mungkin atau aku tidak dapat menahan hasrat ini! Walau aku sangat tersiksa karena harus menahan semua ini sampai Irene melahirkan," batin Ansel yang merasa sangat kacau dan terlihat menghela napasnya yang berat berkali-kali.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️