
Selamat membaca!
Darren sudah melangkah menyusuri lorong menuju sebuah ruangan yang sudah diberitahukan oleh Owen.
Malam itu dengan cahaya lampu yang temaram, membuat suasana kala itu terlihat sangat romantis. Kedua mata Darren terkesiap dengan apa yang saat ini dilihatnya, ia kagum dan tak menyangka bahwa Dyra telah menyiapkan semua keindahan ini.
Darren mulai menyungging senyumannya, ketika kedua bola matanya sudah berhasil menemukan, sosok wanita yang dicintainya. Dyra terlihat sedang duduk di sebuah meja, sambil membalas tatapan mata suaminya yang membuat pandangan mereka saling bertaut dalam.
Darren perlahan mulai mendekat ke arah Dyra. Namun pandangan mata mereka tetap saling menatap tak teralihkan.
"Hubby, duduklah. Maaf ya aku membuat rencana seperti ini."
Darren mengedikkan bahunya, tanda ia tak masalah dengan semua yang Dyra lakukan saat ini.
"Makasih Hubby, aku hanya ingin kita mengingat sebuah momen, saat kamu memberikan gantungan ini padaku. Apa kamu ingat?"
Darren kini duduk di samping Dyra, ia pun mulai tersenyum malu, karena apa yang dilakukannya dulu, pada akhirnya diketahui oleh Dyra.
"Apa kamu marah?" tanya Darren menautkan kedua alisnya.
Tiba-tiba Dyra memeluk erat tubuh suaminya yang membuat Darren terhenyak. "Aku tidak mungkin marah, malah aku bodoh karena baru tahu sekarang."
Darren mengusap punggung Dyra untuk membalas pelukan erat dari istrinya itu. Momen yang romantis di tempat yang indah, sungguh malam itu membuat keduanya begitu hanyut dalam kebahagiaan.
__ADS_1
Dyra melepas pelukannya, ia mulai mengambil beberapa surat yang memang selalu di simpannya dengan rapi. Sementara itu Darren hanya menatap dengan kerutan di keningnya.
"Surat itu, jangan-jangan Dyra menyimpan semua surat yang aku berikan," gumam Darren menerka-nerka.
"Pasti kamu kaget ya, Hubby. Semua surat ini adalah surat yang kamu berikan padaku," ucap Dyra tersenyum manis dengan binar di kedua matanya.
Raut wajah Darren mulai memerah, menahan rasa malunya. Namun pada akhirnya ia dapat bernapas lega, karena akhirnya Dyra mengetahui semua yang telah dilakukannya dulu.
Dyra mulai membuka selembar surat, lalu sesekali ia tersenyum menatap wajah Darren.
"Ini surat pertama yang kamu berikan."
Dyra, semoga gantungan ini bisa membuatmu tersenyum. Percayalah! Jika kamu pernah merasa kehilangan, mungkin itu hanyalah kebahagiaan yang tertunda..
Aku penggemar rahasiamu.
Darren salah tingkah menghadapi pertanyaan Dyra, ia tak menjawabnya dan hanya menggaruk kepalanya saja, walau sebenarnya tak terasa gatal sama sekali. Namun itu dilakukan hanya untuk mengusir rasa canggung, yang mulai menyelimuti dirinya.
"Tak usah merasa bersalah, karena aku bahagia kamu melakukan semua ini. Berkat surat inilah aku jadi bisa melewati masa sulit dalam hidupku saat itu." Dyra memberikan kecupan pada pipi suaminya.
"Itu sebagai ucapan terima kasihku yang dulu tidak bisa aku ungkapkan secara langsung padamu."
"Aku bersyukur kamu tidak marah padaku. Dulu memang hanya itu yang bisa aku lakukan, mencintaimu dalam diam, yang bahkan aku sendiri tidak tahu sampai kapan cinta itu akan terus tumbuh, tapi semakin aku berusaha menghilangkannya, cinta itu terus ada dan semakin bersemi di dalam hatiku. Hingga pada akhirnya aku tahu, bahwa aku mencintaimu untuk seumur hidupku." Darren menggenggam erat tangan Dyra lalu memberikan kecupan dalam pada keningnya.
Dyra kini balik tersipu malu dengan semua kalimat-kalimat cinta yang terlontar dari mulut suaminya.
"Terima kasih ya, Hubby. Andai dari dulu kamu mengatakannya secara langsung, mungkin rasa sakit karena Ansel tidak akan pernah aku rasakan."
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, tapi asal kamu tahu, saat itu rasa sakit yang aku rasakan, mungkin sama dengan apa yang kamu alami. Rasa sakit yang muncul, ketika Ansel mengatakan padaku bahwa ia mencintaimu dan bahkan ingin menikah denganmu. Setelah itu yang aku lakukan hanyalah mengurung diri di dalam kamar. Aku menjadi sangat hancur, tapi semakin aku tenggelam dalam kesedihan, perlahan aku mulai mengerti bahwa cinta sejati itu tidaklah menuntut lebih, yang terpenting asalkan melihatmu bahagia, maka itu akan menjadi kebahagiaanku juga."
Dyra pun tersenyum dengan ungkapan hati Darren. Ia mengusap punggung tangan suaminya sebagai tanda bahwa semua masa kelam sudah terlewati dan saat ini yang ada hanyalah kebahagiaan dimana mereka kini telah dipersatukan oleh takdir, karena Tuhan tidaklah tega memisahkan dua insan yang sebenarnya saling mencintai.
"Aku bersyukur karena Tuhan memberikan aku laki-laki yang begitu tulus mencintaiku. Bahkan sejak dulu kamu sudah selalu melindungiku."
"Terima kasih juga, karena kamu mau membuka hatimu untuk bisa mencintaiku."
Suasana semakin haru kala itu. Terlebih saat Dyra mulai membacakan kembali surat itu satu persatu, hingga membuat raut wajah Darren kembali memerah.
"Surat ini sewaktu mobilku rusak dan aku harus kerepotan naik kendaraan umum yang padat. Saat aku kembali ke rumah, aku sangat terkejut ketika sebuah mobil keluaran terbaru sudah terparkir di halaman rumahku."
Semoga mobil ini bisa menjadi teman terbaikmu, melindungimu dan mengantarmu sampai ke tempat manapun yang kamu inginkan.
Aku penggemar rahasiamu.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Jangan lupa vote kalian ya.
Terima kasih.
Mampir juga ya karyaku yang ini sudah tamat.
__ADS_1