
Selamat membaca!
Ansel terpaku dengan keraguan yang saat ini telah menguasai dirinya. Diamnya pria itu membuat Irene menjadi penasaran dan bertanya-tanya tentang siapa gerangan yang berada di seberang sana hingga membuat suaminya hanya termangu diam dengan raut tegang di wajahnya.
"Ansel, kamu kenapa?" tanya wanita itu yang saat ini merasa cemas.
Irene pun meraih lengan suaminya dan mulai mengguncangkannya hingga membuat Ansel tersadar dari lamunannya. Pria itu langsung mengarahkan pandangan matanya dengan menatap wajah Irene.
"Kenapa Ansel?" tanya Irene mengulang pertanyaannya kembali karena Ansel hanya menatapnya tanpa bicara sepatah kata pun.
Sadar bahwa diamnya membuat Irene menjadi cemas, Ansel pun mulai membuka suaranya, walau terdengar sangat terbata.
"A-mma ternyata masih hi-dup." Ansel menutupi ponselnya dengan sebelah tangan dan menjauhkan dari mulutnya agar perkataan yang diucapkannya tak didengar oleh Bella dari seberang sana.
Jawaban yang terlontar dari mulut Ansel, membuat Irene jadi sangat kebingungan karena yang ia ketahui, bahwa ibu dari suaminya itu sudah meninggal 4 tahun silam. Waktu yang tidak sebentar untuk dapat menyimpan rahasia kematiannya, pikir Irene yang benar-benar dibuat kaget dengan perkataan Ansel.
__ADS_1
"Coba tanyakan kepada Ibumu, Ansel! Aku akan menunggumu." Irene memberikan waktu kepada Ansel agar suaminya bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan ibunya selama 4 tahun ini. Wanita itu pun menunggu Ansel dengan kembali duduk di sofa.
"Halo, A-mma." Ansel mengawali percakapannya kembali dengan terbata saat lidahnya terasa kelu mengucapkan kata Amma.
"Ansel, Amma minta maaf karena selama ini telah dibutakan oleh cinta masa lalu yang membuat Amma sampai meninggalkan kamu juga Ayahmu." Bella begitu lirih mengatakan semua penyesalan itu. Namun, penyesalan Bella tak serta merta dapat membuat Ansel memaafkannya, saat ini pria itu menampilkan amarah yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Seenaknya kamu meminta maaf setelah semua kebohongan yang kamu lakukan!"
"Ansel, tolong jangan membenci Amma! Amma menyesal, maafkan Amma, Ansel." Bella terus memohon dengan isak tangis yang mulai terdengar dari seberang sana.
"Sudahlah tidak usah menghubungiku lagi. Sebaiknya kamu pergi saja karena baik aku dan Ayah, telah menganggap kamu sudah tidak ada. Lagi pula saat ini Ayah sudah bahagia dengan Dyra. Jadi jangan pernah datang lagi di kehidupan kami!" Ansel secara sepihak memutus sambungan telepon itu lalu memijat dahinya yang mulai terasa pening.
"Ansel, kamu jangan marah-marah begitu. Mau bagaimanapun dia adalah Ibumu, sebaiknya maafkan dia dan berikan kesempatan untuknya." Irene menyentuh pundak suaminya yang saat ini terlihat kalut dengan wajah yang memerah. Ada bulir bening yang sudah menganak di kelopak mata pria itu, yang membuat Irene dapat membaca, bahwa apa yang dikatakan oleh Ansel kepada ibunya, sungguh membuat perasaannya ikut merasakan sakit.
"Tapi dia telah membohongiku selama 4 tahun, kamu tidak tahu Irene, bagaimana kesedihanku dan juga Ayah karena kehilangan Amma. Aku tidak bisa memaafkannya." Amarah Ansel semakin jelas terlihat dari rahangnya yang kini sudah mengeras. Kemarahan yang membuat Irene teringat akan sosok pria itu, pria yang telah menyia-nyiakan cintanya hingga ia memutuskan untuk pergi dari Korea.
__ADS_1
Irene pun beringsut menjauhi Ansel saat suara tinggi sang suami memenuhi seisi ruangan kamar. "Aku takut jika mendengar suara itu. Suara itu masih melekat erat dalam ingatanku saat kamu membentak dan mengusirku. Bahkan dengan suara itu kamu pun pernah mengatakan kepadaku bahwa aku hanyalah pembawa sial untukmu." Irene memutar tubuhnya untuk menutupi raut sedih di wajahnya dari Ansel yang saat ini merasa sangat bersalah karena telah membuat Irene ketakutan.
"Irene aku minta maaf. Aku hanya sedang marah terhadap Amma dan bukan padamu. Maafkan aku karena seakan-akan aku menganggapmu adalah dirinya sampai aku meluapkan amarahku padamu." Ansel melangkah dan merapatkan tubuhnya hingga pria itu melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Irene dari belakang, lalu meletakkan kepalanya untuk bersandar di atas bahunya.
"Aku minta maaf ya, sayang." Ansel mengatakan semua itu dengan penuh kesungguhan. Ia sadar akan kemarahannya terhadap Bella membuat momen indah yang sempat tercipta dengan Irene menjadi hancur berantakan.
"Iya aku tahu kamu sangat marah, tapi tolong jangan ingatkan aku dengan sosok dirimu yang dulu. Aku mohon, bantu aku untuk melupakan trauma masa laluku itu!" lirih Irene dengan begitu tulus. Ia sangat mengerti bahwa kesungguhan Ansel dengan mencarinya ke kota Birmingham adalah sebuah tanda jika Ansel telah menyesali segala perbuatan yang pernah dilakukan padanya.
"Aku janji, tadi adalah terakhir kalinya kamu mendengar aku marah. Maafkan aku ya sayang." Ansel memutar tubuh Irene dan melupakan sejenak amarah yang sempat memuncak karena kebohongan Bella. Kini keduanya saling berhadapan dengan sorot mata yang bertaut dalam.
"Aku mencintaimu, Irene. Aku ingin menjadi suami yang terbaik untukmu. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu." Ansel mulai mengambil sebuah kotak perhiasan dari dalam saku jasnya dan menyodorkan kotak itu sambil membukanya ke hadapan Irene.
Sebuah perhiasan yang membuat memori di dalam pikiran Irene jadi tertarik mundur ke belakang. Memori saat dirinya masih bersama Suga, kekasihnya.
"Bagaimana bisa perhiasan itu sama persis dengan yang Suga berikan padaku dulu? Kenapa aku jadi merasa Ansel adalah Suga, apalagi sorot matanya, aku masih sangat mengenali mata itu, mata yang begitu teduh saat menatapku. Mata yang selalu berhasil membuatku merasa nyaman saat memandangnya. Ya Tuhan, aku sangat merindukannya? Maafkan aku Suga karena kehamilanku, pernikahan kita jadi batal dan semua impian kita harus terkubur dalam-dalam," batin Irene masih terpaku menatap kotak yang berisi kalung perhiasan itu.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️