
Like setiap episodenya dan berikan vote agar SCM bisa masuk jajaran ranking vote..
Selamat membaca!
Dyra memilih membalikkan tubuhnya, agar tidak melihat tubuh suaminya yang saat ini sedang mengenakan pakaian kerjanya. Ia mengambil tas kerja Darren yang tadi sempat ia jatuhkan.
Saat Dyra kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ranjang, ia melihat penampilan Darren yang sudah rapih, mengenakan kemeja putih, jas maroon dan celana hitam. Dyra berinisiatif untuk memakaikan dasi suaminya, sama seperti adegan di film Dil Hai Tumhara yang ia tonton kemarin bersama Darren, dimana seorang suami terlihat memakaikan dasi suaminya yang hendak pergi bekerja.
"Sini aku pakaikan dasinya, Hubby!" Dyra mengambil dasi hitam yang masih tergeletak di atas ranjang dan mulai mengalungkannya di leher suaminya.
"Kamu belajar dari mana, bisa memakaikan dasi? Apa kamu sering memakaikan dasi untuk Ansel?" tanya Darren yang mulai tersulut percikan api cemburu di dalam hatinya.
Dyra berpikir beberapa saat sebelum menjawabnya. "Aku tidak pernah memakaikan Ansel dasi sekalipun, karena dia tidak suka memakai dasi, tapi aku hanya melihat dari film yang kemarin kita tonton, Hubby," ucap Dyra sembari memasangkan dasi suaminya.
Hati Darren lega, karena menjadi orang pertama yang dipakaikan dasi oleh Dyra.
Setelah Dyra selesai memasangkan dasi, Darren menghadiahi sebuah kecupan mesra di kening istrinya dengan lembut.
"Terima kasih, atas setiap kebaikanmu di hidupku, aku harap kebahagiaan yang aku rasakan saat ini, tidak untuk sementara, tapi selamanya. Aku mencintaimu, Dyra Anastasya!"
Dyra membalas kecupan Darren, dengan mengecup bibir tipis yang seksi milik suaminya, karena ia harus berjinjit bila ingin mencapai kening Darren.
"Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih padamu, Hubby. Terima kasih karena kamu sudah setia menungguku selama ini, dan menjagaku selama menjalin hubungan dengan Ansel. Kamu adalah pria luar biasa yang saat ini telah memilikiku, dengan cinta dan ketulusan yang tiada henti kamu berikan padaku."
Darren tak mampu berkata-kata, ia selalu termangu setiap kali mendengarkan kalimat manis yang diucapkan oleh Dyra. Salah satu alasan yang membuat Darren tak dapat berhenti mengagumi seorang Dyra, karena caranya dalam berpikir, juga sikap lembutnya yang sangat keibuan.
__ADS_1
Titik terendah dalam hidup Dyra adalah saat dirinya kehilangan sosok Ansel di hari pernikahan, hingga saat itu pikirannya menjadi kalut dan berulang kali berniat untuk mengakhiri hidupnya. Darren sangat paham itu adalah masa-masa tersulit dalam hidup Dyra, karena pengkhianatan Ansel merupakan mimpi buruk untuknya.
Semua yang terjadi kepada Dyra, membuat Darren berjanji akan selalu membahagiakannya dan tidak akan membuat air mata kembali membasahi kedua pipinya lagi.
"Sudah yuk, Hubby. Kita turun ke bawah sekarang! Kasihan Owen pasti sudah menunggumu lama. Dia juga pasti merasa kesepian karena Erin kamu tugaskan untuk ikut tinggal bersama Ansel."
"Oke sayang, sebentar ya aku pakai sepatu dulu." Darren duduk di tepi ranjang dan mulai memakai sepatunya.
Beberapa detik kemudian Darren telah siap untuk pergi ke kantor, ia pun turun ke bawah ditemani oleh Dyra yang terlihat bergelayut rapat pada lengan Darren.
Dyra menemani suaminya sampai di pelataran rumah, lebih tepatnya sampai Darren berada di samping mobil mewah, yang telah terparkir dengan Owen yang berdiri sigap di samping pintu mobil.
Owen membungkukkan setengah badan sebagai tanda hormat pada kedua majikannya, lalu ia segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Darren untuk naik ke dalamnya.
Darren menyentuh bahu Dyra dengan kedua tangannya, lalu ia kembali mengecup kening istrinya sebelum masuk ke dalam mobil. "Aku berangkat kerja dulu ya, sayang. Jaga dirimu baik-baik di rumah. Jangan nakal selama jauh dariku ya!"
Lalu Dyra sedikit memiringkan kepalanya, untuk dapat menatap Owen yang berdiri tepat di belakang tubuh suaminya.
"Owen, aku titip suamiku ya, jaga dia dengan baik selama bekerja dan ingatkan suamiku makan ketika telah masuk jam makan!" pinta Dyra yang berpesan pada asisten setia milik Darren. "Oh ya satu lagi, tolong kalau ada perempuan nakal yang dengan sengaja mendekati suamiku ini. Segera hubungi aku ya!"
Darren terkekeh balik, mendengar peringatan Dyra pada asistennya. Kini tangannya mengacak rambut Dyra, karena merasa semakin gemas dengan tingkah lucu wanitanya itu.
"Siap Nyonya, laksanakan!" jawab Owen dengan patuh.
"Ya sudah sana kamu masuk, hati-hati di jalan dan jangan ingat aku terus selama bekerja ya, biar fokus kerjanya." Dyra meraih tangan suaminya dan mengecup dalam punggung tangan Darren dengan lembut.
__ADS_1
Darren masuk ke dalam mobil setelah puas mencium kening istrinya dan memeluk tubuh mungil Dyra. Ini adalah hari terberat bagi Darren, karena harus berpisah dari Dyra walau hanya sementara waktu, karena sesungguhnya ia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Dyra, tanpa ada orang lain yang mengganggu kebersamaan mereka.
Darren membuka kaca mobil, lalu ia melambaikan tangan ke arah Dyra dan terus menatap wajah istrinya, sebelum mobil melaju meninggalkan pelataran rumahnya.
Dyra pun membalas lambaian tangan suaminya, sampai mobil Darren menghilang dari penglihatannya, karena sudah keluar dari gerbang rumah.
Dyra menghela napas panjang, sebelum membalikan tubuhnya untuk kembali memasuki rumah.
"Aku sangat mencintaimu, Hubby. Jaga mata dan hatimu hanya untukku ya. Jangan tinggalkan aku, seperti yang Ansel lakukan padaku." Dyra hanya mampu mengucapkan itu dalam batinnya saja, saat Darren tak berada di dekatnya.
Rasa trauma atas sakitnya sebuah pengkhianatan, masih belum hilang sepenuhnya dalam benaknya dan sampai saat ini Dyra masih belum ingin menggantungkan segala harapannya pada Darren, karena takut merasa kecewa untuk yang kedua kalinya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih atas dukungan kalian.
Maaf dua episode kemalaman updatenya, author kecapekan soalnya biasa kalau Minggu main futsal.
Ayo vote, vote, vote ya...
Mampir juga ya ke karyaku yang ini:
__ADS_1