Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Bodoh


__ADS_3

Selamat membaca!


Irene menatap nanar tubuh suaminya yang masih tergeletak lemas dan tak berdaya di atas ranjang pesakitan, dengan seluruh bagian wajahnya yang dibalut kain perban. Bulir kesedihan terus menetes entah berapa banyak yang sudah ia jatuhkan dari kedua bola matanya yang tak kunjung istirahat, setelah menghabiskan hari demi hari dengan air mata. Jantungnya berdegup sangat cepat dan diikuti getaran tubuh Irene yang masih tak percaya melihat keadaan Ansel yang tadi pagi masih terlihat baik-baik saja, namun saat ini sedang terbaring lemah tak berdaya, bahkan kondisi mengalami kebutaan.


Irene yang masih berada di ambang pintu, mulai menguatkan diri dengan melangkah maju, untuk lebih dekat dengan Ansel. Ia melangkahkan kakinya yang terasa begitu lemah, seperti tak bertulang.


Perlahan namun pasti, langkah Irene mulai terhenti dan saat ini wanita itu sudah termangu menatap Ansel dengan berdiri di sisi ranjang. Tak lama kemudian, Irene duduk di bangku yang tersedia di samping ranjang. Irene menyandarkan tubuhnya sesaat, seolah masih tak percaya dengan kenyataan yang saat ini dilihatnya.


Irene mencoba untuk menghentikan air mata yang terus menghujam seolah tak ingin berhenti menetes, jemarinya yang halus terus mengusap wajahnya yang sangat basah oleh air mata. Irene juga berusaha mengatur napasnya yang masih tak beraturan, karena tersedu-sedu efek menangis terlalu lama. Ia terus menguatkan hatinya demi Ansel dan buah hati yang sedang dikandungnya.


"Ansel..." ucap Irene yang terdengar begitu pedih.


Tangan Irene bergerak untuk dapat menyentuh punggung tangan Ansel yang saat ini terpasang selang kecil, jalan untuk masuknya cairan infusan.


"Ansel, kenapa bisa begini? Kenapa kamu tidak berkendara dengan hati-hati?" tanya Irene yang sama sekali tak mendapatkan jawaban.


Air mata mulai kembali berlinang membasahi wajah Irene yang terlihat sendu.


"Harusnya kamu mendengarkan aku, untuk tidak pergi bersama mereka. Andai kamu tetap berada di rumah mungkin semuanya akan tetap baik-baik saja, kamu sehat dan Amma tidak mengetahui kelakuanmu yang sebenarnya kepadaku." Irene mulai menggenggam sebuah tangan yang masih lemah, dengan sengaja ia mengeratkan genggamannya kuat-kuat, berharap Ansel segera sadarkan diri.


Tak berapa lama, sesuatu terjadi pada Ansel. Jemarinya perlahan bergerak, hingga membuat Irene langsung melepaskan genggaman tangannya. Irene pun terhenyak dengan senyum yang mulai terbit di wajahnya. "Ansel, akhirnya kamu sadar," lirihnya dalam hati.

__ADS_1


Ansel masih membuka matanya dengan sangat perlahan, merasakan rasa sakit yang begitu terasa di sekujur tubuhnya. Namun tiba-tiba ia mulai aneh dengan kondisinya yang tak dapat melihat cahaya, walau saat ini kedua matanya sudah terbuka dengan lebar.


"Siapapun yang ada di ruangan ini? Aku mohon nyalakan lampunya. Kenapa gelap sekali? Dimana aku?" Ansel meracau dengan berbagai pertanyaan yang belum mampu dijawab oleh Irene.


Wanita itu masih menatap iba dengan apa yang saat ini terjadi. Ia tak sampai hati mengungkapkan kenyataan, bahwa saat ini Ansel sudah tidak akan dapat melihat lagi, karena kornea matanya mengalami kerusakan. Namun walau begitu, ia masih memiliki harapan untuk dapat melihat seperti sedia kala, asal Ansel dapat memperoleh donor kornea untuk kedua matanya.


Irene mencoba menguatkan dirinya sambil menekan dadanya dengan erat.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Irene semakin bingung untuk bicara.


"Siapa itu?" tanya Ansel yang mendengar suara isak tangis, mulai menyelinap masuk ke dalam rongga telinganya.


Ketika pertanyaannya masih tak mendapat jawaban dari siapapun, Ansel kembali meracau dengan beragam pertanyaan lainnya.


Irene yang masih terisak coba membuka mulutnya, namun lidahnya tiba-tiba menjadi kelu. Ia pun kembali diam, termangu dan terus menangis, beberapa menit ia masih seperti itu, namun saat pertanyaan Ansel mulai dipenuhi oleh amarah, ia pun mau tak mau menjawabnya.


"Jawab pertanyaanku! Siapapun orang yang ada dekat denganku?" teriak Ansel dengan lantang yang kini mulai tersulut amarah.


"Maafkan aku Ansel, aku bingung harus mengatakannya darimana padamu?" lirih Irene dengan suara terisak.


Ansel terkesiap ketika suara yang pertama dikenalnya adalah suara dari seorang wanita yang sangat dibencinya.

__ADS_1


"Irene! Eh, bodoh kenapa kamu bingung? Kamu itu tinggal nyalakan saja lampunya, cepatlah aku sudah mulai bosan dengan gelap ini," ucap Ansel dengan suara meninggi.


"Saat seperti ini kamu masih bicara seenakmu saja, apa kamu tidak bisa baik sedikit saja kepadaku?" protes Irene dengan batin yang terluka.


"Sampai kapanpun aku tidak akan berubah terhadapmu. Kamu harus paham itu!" tegas Ansel yang tak memperdulikan perasaan Irene sama sekali.


Irene menangis semakin terisak mendengar cacian yang terlontar dari mulut Ansel. Gemuruh hati yang kian meronta mulai membuatnya tersulut amarah, Irene pun merasa jengah dengan semua perilaku Ansel yang masih saja menyombongkan dirinya.


"Sekarang kamu itu buta! Apa kamu masih bisa menghinaku lagi? Bahkan merendahkanku!" ungkap Irene dengan linangan air mata penuh rasa sakit.


Ansel terperanjat tak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Irene.


"Ini tidak mungkin! Si bodoh ini pasti sudah berbohong padaku." Ansel menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia benar-benar merasa bahwa semua yang dikatakan oleh Irene hanyalah sebuah bualan belaka.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian?


Ayo vote dong aku selalu perhatikan ranking vote SCM tidak beranjak, apakah kalian tidak mempunyai niat untuk menaikkan novel ini masuk ke jajaran 20 besar ranking vote.

__ADS_1


Aku yakin kalian adalah pembaca setia SCM yang baik hatinya. Jadi jangan ragu untuk vote sebanyak-banyaknya.


Terima kasih banyak.


__ADS_2