Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Keadilan Untuk Suga


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah mengumpulkan segala keyakinan untuk menyeret Joo Won ke dalam penjara, kini Irene bersama Ansel sudah berada di sebuah kantor polisi yang terletak di kota Seoul. Kedatangan mereka bertepatan dengan Benjamin yang menyeret Isco secara paksa untuk masuk ke dalam kantor polisi.


"Benjamin, jadi bagaimana? Apakah pria ini sudah mengakui segala kejahatannya?" tanya Ansel yang dapat didengar oleh Isco yang langsung mengelak.


"Kejahatan apa yang kalian maksud?" tanya Isco yang berpura-pura tidak tahu dengan maksud perkataan Ansel dan Benjamin.


"Sudahlah, jangan banyak mengelak dasar kau banci! Ayo cepat masuk! Maaf Tuan, sebaiknya saya bawa saja dulu bajingan ini ke hadapan polisi, biar polisi yang menginterogasinya saja, tapi jika dia mengelak saya punya bukti yang menguatkan kalau dia bersalah," ucap Benjamin sambil menyeret tubuh Isco yang melangkah dengan gontai karena luka tembak pada sebelah kakinya. Namun, Benjamin tidak mempedulikan semua itu karena baginya yang terpenting adalah tugas yang diberikan oleh Darren berhasil ia tuntaskan.


"Baik Benjamin, selesaikan urusan Isco. Aku akan mengurus masalah yang lain terlebih dulu."


Mereka pun berpisah dan menuju tempat yang berbeda, walau masih di gedung yang sama.


Setibanya di ruang pelaporan, Ansel pun mulai membuat laporan bersama Irene. Namun, sayangnya laporan yang dibuat oleh keduanya tak memiliki cukup bukti untuk menyatakan bahwa Joo Won bersalah dalam masalah ini. Lagipula masalah itu sudah berlangsung lama dan akan sangat sulit teridentifikasi jika tidak disertakan dengan bukti yang kuat.

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya saya bisa mendapatkan bukti jika korbannya sudah meninggal?" tanya Ansel kepada petugas polisi yang bertugas menerima pelaporan.


"Maaf Tuan, kami bertindak secara rasional. Mana mungkin kornea mata yang telah didonorkan kepada Anda bisa menuntun Anda untuk menemukan pelaku penganiayaan si pendonor? Itu tidak masuk akal, sedangkan hukum itu bertindak sesuai fakta dan logika. Maaf Tuan, sebaiknya Anda pergi dan kumpulkan bukti-buktinya dulu sebelum melaporkan masalah ini. Lagipula Nona, bukankah itu Kakak kandung Anda sendiri, sebaiknya jika punya masalah dengan saudara tidak usah memfitnah Kakak Anda sendiri, kasihan Nona!" Perkataan petugas polisi itu membuat Ansel seketika langsung menggebrak meja yang berada di hadapannya.


"Jaga ucapan Anda, Tuan! Jika Anda bukan polisi saya mungkin akan mematahkan mulut Anda karena telah mengatakan hal itu kepada istri saya. Sesuai yang Anda inginkan, saya akan carikan bukti-bukti yang akan membuat Anda meminta maaf kepada saya!" kecam Ansel yang langsung bangkit dari posisi duduknya dan menggenggam tangan Irene untuk ikut pergi.


Namun, tindakan Ansel membuat petugas polisi itu tersulut amarahnya, hingga ia tak mengizinkan Ansel untuk pergi begitu saja setelah apa yang dilakukannya, seolah tidak menghargai petugas polisi sama sekali.


"Jaga mulutmu anak muda! Sebaiknya anak sepertimu harus dikasih pelajaran dengan mendekam di balik jeruji besi ya." Tangan petugas polisi itu pun melayang ke arah wajah Ansel. Namun, tiba-tiba tangan itu ditahan oleh seseorang yang mendadak hadir dan tepat berdiri di belakang tubuh Ansel.


"Tuan Darren." Petugas polisi itu sampai kesulitan menelan salivanya sendiri saat mengetahui bahwa laki-laki yang tadi hendak dipukulnya adalah anak dari seorang pengusaha terkenal di seluruh kota Korea.


"Jika Anda mau bukti saya ada bukti surat yang ditulis tangan oleh korban sebelum meninggal dan kesaksian dari Kakak kandung korban yang bernama Felicia."


"Ya petugas, saya mempunyai bukti jika memang Joo Won dan teman-temannya-lah yang melakukan penyerangan kepada adik kandung saya, Suga." Felicia mengatakan semua itu dengan begitu lirih.

__ADS_1


Petugas polisi itu pun terdiam dan saat ini ia benar-benar langsung menghargai laporan yang sempat dikatakan oleh Ansel dan Irene tentang Suga.


"Baiklah, Tuan Darren silahkan duduk, tapi tolong masalah ini jangan disebar luaskan ke media dan jangan sampai Anda laporkan kepada atasan saya." Permintaan pria itu langsung diiyakan oleh Darren dengan sebuah syarat yang langsung disanggupinya.


Permintaan untuk menangkap Joo Won beserta ketiga teman-temannya dan mengusut tuntas masalah ini dengan mulai melakukan penyelidikan agar kasus ini segera dilimpahkan ke kejaksaan untuk disidangkan.


Saat ini, baik Ansel dan Irene sudah dapat bernapas dengan lega karena pada akhirnya, Suga bisa beristirahat dengan tenang di tempat yang tak bisa dilihat oleh mereka saat ini, yaitu surga.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️


Cerita ini hanya pemikiran Author saja dan tolong jangan dilibatkan dengan kenyataan yang ada, walau tidak menutup kemungkinan hal yang ada di dalam cerita ini sering kita temui, bukan hanya di dalam negeri ataupun di luar negeri.


Ketika hukum semakin ke bawah akan menjadi tumpul dan semakin ke atas akan semakin lancip.

__ADS_1


__ADS_2