
Selamat membaca!
Irene masih berada dalam dekapan Ansel yang belum juga melepaskan tangannya dari tubuh Irene.
"Bagaimana caraku melepaskan pelukan ini?" gumam Irene mulai kehabisan udara yang semakin berkurang untuk bisa dihirupnya, karena pelukan Ansel semakin lama, semakin kuat.
Irene akhirnya mulai menggunakan tenaga sekuat-kuatnya, setelah ia hampir kehabisan napas. Tak berapa lama kemudian, pelukan Ansel terlepas, namun hal ini membuat Ansel mulai menggeliat sambil mengerjapkan kedua matanya sesekali.
Ansel sedikit membuka mata dan seketika terhenyak kaget melihat posisinya yang begitu rapat dengan Irene, ia langsung beringsut mundur, dengan kedua bola mata yang kini sudah membulat sempurna, menatap ke arah Irene yang juga sudah bangkit dan duduk di atas ranjang.
"Ngapain kamu peluk-peluk aku?" tanya Ansel terdengar ketus.
Kening irene mengerut dalam, ia bingung dengan sikap Ansel yang suka menyalahkan orang lain atas kelakuan yang diperbuatnya sendiri.
"Ansel sepertinya kamu halu deh, yang meluk duluan itu kamu! Buktinya pas aku bangun tidur kamu memelukku dengan erat, sampai aku sangat sulit bernapas!" jawab Irene dengan kesal.
Ansel sejenak diam. Namun sikap egoisnya membuatnya langsung membantah segala perkataan Irene.
"Kamu tuh yang halu! Mana mungkin aku mau memelukmu! Lain kali jangan ngidam tidur satu ranjang lagi denganku, merepotkanku saja."
Raut wajah Irene seketika sendu, perkataan Ansel seperti mencabik-cabik hatinya, membuatnya terluka.
__ADS_1
"Bayimu sendiri yang menginginkannya, Ansel. Bukan aku!" protes Irene dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena Ansel mengatakan dirinya selalu merepotkan saja.
Ansel seolah tak menghiraukan air mata yang sebenarnya sangat terlihat jelas olehnya, sudah menganak di kelopak mata Irene. Ia masih menatap Irene dengan rahang mengeras dan sorot mata yang tajam.
"Terserah padamu, Irene! Pokoknya aku tidak mau lagi mendengarmu merengek ingin kita tidur bersama! Cukup ini menjadi yang terakhir." Setelah menyelesaikan perkataannya, Ansel bangkit dari ranjang dan berlalu menuju bathroom, dengan sengaja ia membanting pintu sekeras-kerasnya agar Irene tahu bahwa dirinya sedang sangat marah.
Irene terlonjak kaget mendengar suara bantingan pintu yang begitu kencang, ia segera turun dari ranjang untuk keluar dari kamar Ansel yang tidak menginginkan kehadirannya. Bulir-bulir air mata yang sudah menganak di kedua matanya, kini mulai berlinang seiring langkahnya yang sedang meninggalkan kamar Ansel untuk menuju kamarnya.
"Kenapa sih, hidupku selalu disalahkan oleh mereka yang berbuat salah? Padahal jelas-jelas Ansel yang memelukku duluan, tapi kenapa aku yang disalahkan, hingga harus mendapatkan perkataan menyakitkan darinya? Apa perkataan yang keluar dari mulutku tidak pantas untuk dipercayai lagi? Lalu aku harus meluapkan beban di hatiku pada siapa? Jika suamiku sendiri tidak menginginkan keberadaanku."
Irene menekan dadanya kuat-kuat untuk menguatkan hatinya yang saat ini terasa rapuh.
"Sebenarnya aku lelah harus bertahan dengan orang yang tidak menginginkan kehadiranku, tapi aku bisa apa selain menahan diri untuk tetap kuat sampai anak ini lahir?" batin Irene begitu lirih.
"Ya, aku harus kuat demi anak ini, kasihan dia kalau harus lahir tanpa seorang Ayah. Aku tidak ingin anakku menjadi bahan ejekan teman-temannya jika tidak mempunyai Ayah. Persetan dengan rasa sakit yang aku rasakan!" Irene mengepalkan Kedua tangannya dengan erat, hanya dirinya sendirilah yang mampu menguatkan dan memaksa ia untuk bertahan lebih lama lagi demi bayi yang di kandungnya.
Langkah Irene terhenti ketika sudah sampai di depan pintu kamar, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.
"Lebih baik aku belajar memasak dengan Erin di bawah, siapa tahu melalui makanan yang aku buat mampu meluluhkan hati Ansel, setidaknya dia mau belajar untuk mulai menerima kehadiran bayi yang ada dalam perutku dan mau menyayanginya."
Irene pun menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya sebelum turun ke lantai bawah. Ia tidak ingin pelayan-pelayan melihatnya bersedih, terutama Erin yang memang ditugaskan Darren untuk memata-matai mereka.
__ADS_1
Setibanya di lantai bawah, Irene mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Erin, akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya dan Irene segera menghampiri Erin dengan setengah berlari.
"Erin, apakah kamu bisa membantuku masak sarapan untuk suamiku?" tanya Irene dengan wajah berbinar penuh harap.
Erin mengangguk sembari tersenyum hangat.
"Tentu saya bisa membantu Nona untuk melakukan hal mudah seperti itu. Mari kita pergi ke dapur."
Irene tersenyum puas saat tak mendapat penolakan dari pelayannya yang sangat baik.
"Semoga lewat masakan ini, aku dapat mengambil hati suamiku. Aku harap Ansel bisa sedikit luluh, setidaknya ia bisa menyayangi anak yang sedang aku kandung ini, karena anak ini adalah darah dagingnya sendiri," batin Irene penuh harap.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak atas dukungan kalian, jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya.
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain :
__ADS_1