
Selamat membaca!
Selesai dengan acara ulang tahun yang telah Ansel siapkan untuk istrinya tercinta. Kini keduanya tampak bersiap untuk menuju kantor polisi. Ya, tepatnya hari ini adalah hari pembebasan Bella setelah dirinya terbukti tak bersalah dan dinyatakan bebas oleh pihak kepolisian.
Walau Isco tetap tak mengakuinya selama diinterogasi oleh polisi. Namun, Benjamin berhasil mendapatkan pengakuan dari sang pelaku yang hendak menabrak Dyra di sebuah mall. Saat kejadian, pria itu memang mengaku sebagai orang yang disuruh oleh Bella dan sama sekali tak menyebut nama Isco sebagai dalang dibalik semuanya, tapi berkat ancaman yang Benjamin berikan kepada pria itu. Pria tersebut langsung mengakui bahwa ternyata dirinya telah disuruh oleh Isco untuk menjerat Bella ke dalam penjara. Alasannya tak lain dan tak bukan karena harta kekayaannya ingin kembali dikuasainya, setelah sempat ia pindah tangankan kepada Bella.
Waktu itu sebelum Benjamin pergi ke hotel tempat Isco menginap, pria yang merupakan bodyguard paling disegani di seluruh kota London itu, terlebih dulu datang ke kantor polisi untuk menemui pria yang memang menjadi pelaku penyerangan terhadap Dyra. Pria itu bernama Lee Seung, usia sekitar 26 tahun dan sudah memiliki seorang anak perempuan yang bernama Shin Hye.
Pertemuan itu berlangsung singkat di ruang kunjungan narapidana dan di awali dengan bantahan oleh Lee karena ia tetap kekeh terhadap pengakuannya yang mengatakan bahwa Bella adalah orang yang menyuruhnya untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadap Dyra.
"Baiklah jika kau tetap tak mengakuinya. Aku akan membunuh seseorang yang sangat berarti untukmu." Benjamin pun beranjak pergi dan meninggalkan Lee sendiri di tempat duduknya dengan kebimbangannya.
"Apa maksudnya mengancam demikian?" tanya Lee yang kemudian mulai menyadari sesuatu yang Benjamin tinggalkan di atas meja.
"Foto ini," ucap Benjamin mengambil foto tersebut dan mulai melihatnya. Saat pandangannya mulai menyadari perkataan Benjamin, pria bermata sipit itu langsung bangkit dan mengejar Benjamin, hingga ke ambang pintu ruangan.
"Tuan, Tuan, tunggu!" Lee meraih tangan Benjamin dan menahan langkah kakinya. Kini napasnya tampak terengah-engah karena telah berlari dengan sekuat tenaganya untuk menyusul Benjamin.
Sementara itu Benjamin hanya menyeringai penuh kemenangan saat rencananya ternyata memang berhasil. "Jadi bagaimana?" tanya Benjamin sambil melepas cengkraman tangan Lee pada lengan kekarnya.
"Baik Tuan, saya akan mengakui semuanya, tapi saya mohon jangan sakiti putri saya." Lee mengatakan semuanya dengan raut memohon dan penuh kesungguhan.
"Tentu, lagipula saya tidak ingin menyakiti anak kecil bila tidak terpaksa." Benjamin kembali melangkah masuk untuk menuju tempat yang tadi ditinggalinya.
__ADS_1
Setelah keduanya kembali duduk saling berseberangan, Benjamin pun mulai meraih sebuah alat perekam yang memang telah disiapkannya dan ia mulai menyalakan alat itu tanpa sepengetahuan pria yang kini terus menatapnya dengan penuh keraguan.
"Ayo cepat ceritakan saya tidak punya banyak waktu!" titah Benjamin dengan gurat amarah yang tampak jelas di raut wajahnya.
Pada akhirnya pria itu pun mulai mengatakan hal yang sebenarnya terjadi dan Benjamin mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu sebuah pengakuan bahwa bukan Bella yang telah menyuruh pria itu membunuh Dyra, melainkan Isco.
"Baiklah, urusan kita sudah selesai. Maaf soal ancaman itu karena saya berkata bohong. Saya tidak akan tega menyakiti anak kecil, apalagi anak Anda itu sangat lucu. Oh ya, saya pasti akan membantu Anda agar masa tahanan Anda bisa berkurang!" Benjamin pun beranjak pergi setelah menyimpan alat perekam yang telah digunakannya di dalam saku celananya.
Pria bernama Lee Seung itu benar-benar tertipu dengan ancaman Benjamin. Namun, perkataan Benjamin di akhir kalimat itu membuatnya merasa telah melakukan hal yang benar karena memang tidak sepantasnya ia memberikan pengakuan palsu hanya karena uang yang disodorkan oleh Isco. Bayaran dengan jumlah besar yang cukup untuk membiayai operasi anaknya yang menderita meningitis.
...🌺🌺🌺...
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam lamanya, kini Ansel dan Irene sudah berada di kantor polisi untuk menjemput kepulangan Bella yang telah bebas dari segala tuntutan hukum.
"Ansel." Bella melangkah maju dan ketika sudah berada di hadapan putranya, wanita paruh baya itu langsung mendekap tubuh Ansel dengan erat.
"Terima kasih ya Ansel karena kamu telah mempercayai, Amma. Kamu satu-satunya orang yang percaya kalau Amma bukanlah pelakunya. Terima kasih karena kamu sudah membebaskan, Amma dari penjara."
Ansel mulai mengurai pelukannya erat dari Bella dan menangkup kedua sisi wajah sang ibu dengan penuh kelembutan. "Aku percaya karena Amma itu wanita yang baik dan tidak jahat. Walau aku kecewa dengan semua kebohongan Amma, tapi mau bagaimanapun Amma tetaplah orang tuaku dan itu tidak akan berubah selamanya. Sekarang berhentilah menangis, kita pulang ke rumah yuk, Amma!" ucap Ansel dengan penuh haru sambil mengusap air mata yang berlinangan di kedua pipi Bella.
"Pulang kemana Ansel?" tanya Bella saat hendak mengikuti langkah Ansel.
"Pulang ke rumah aku, Mah. Aku dan Irene hari ini akan pulang ke sana dan aku sudah mengatakan kepada Ayah, kalau Amma akan tinggal bersamaku. Oh ya, Amma, apa Amma percaya jika aku mulai besok juga akan mulai bekerja di perusahaan Ayah?"
__ADS_1
Bella begitu terkejut saat mendengarnya karena putra yang dikenalnya dulu adalah seorang yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang dan lebih senang berkumpul dengan teman-teman.
"Amma bersyukur karena kamu sudah jauh berubah dan Amma sangat bahagia, Ansel," ucap Bella yang sudah lama sekali tak bertemu dengan putranya dan saat ini ia seperti tak mengenali Ansel karena putra satu-satunya itu telah jauh berubah, jauh lebih baik.
"Semua berkat Irene, Amma." Pujian Ansel membuat Irene seketika malu dan membuat rona merah di wajahnya mulai terlihat.
"Enggak Amma, aku tidak melakukan apapun. Ansel bisa seperti itu ya karena dirinya sendiri, Amma."
Bella pun maju dua langkah dan membuat posisinya kini berada di hadapan Irene yang masih menyangkal pernyataan jujur dari suaminya.
"Terima kasih ya, kamu telah membuat putraku ini menjadi laki-laki sejati yang penuh tanggung jawab dan Amma bahagia karena sebentar lagi kamu Ansel akan menjadi seorang Ayah. Ingat! Kamu harus menjadi seperti Ayah kamu, pria yang sangat menyayangimu, Ansel," ungkap Bella dengan berderai air mata. Terlebih saat itu kenangan yang dilewati bersama Darren seketika hadir bergantian di dalam pikirannya.
"Amma tidak usah menangis, aku ikhlas melakukan semua itu karena aku mencintai Ansel, Amma. Aku ingin anak dalam kandunganku ini merasakan kebahagiaan memiliki keluarga yang utuh," ucap Irene sambil mengusap air mata pada wajah Bella yang terlihat begitu sendu.
Kedua wanita yang sangat istimewa di hati Ansel itu pun saling berpelukan dan membuat suasana di dalam kantor polisi semakin terasa haru.
"Aku bahagia Tuhan dengan semua ini. Aku mohon jagalah kebahagiaan ini agar tetap utuh selamanya. Saat ini aku bersyukur karena kebaikan hati Suga seperti melekat di dalam diriku. Terima kasih Suga, berkat sisi positif darimu, aku jadi mengerti bahwa menjadi pria yang baik itu adalah hal yang sangat membanggakan untukku," batin Ansel dengan senyum kebahagiaan yang terulas dari kedua sudut bibirnya.
...🌺🌺🌺...
...Tamat...
Tidak semuanya setiap perjalanan cinta berjalan seperti yang kita harapkan. Terkadang hambatan itu justru yang dapat menguatkan suatu hubungan. Jangan pernah jadikan awal perjalanan sebagai penilaian akhir untuk menentukan ending suatu hubungan. Bisa saja justru yang lebih langgeng itu adalah hubungan yang sudah dikuatkan di awal dengan segala ujian yang datang.
__ADS_1
Tetaplah jadi orang baik yang setia dan selalu memperlakukan orang yang kita cintai dengan baik. Jangan silau dengan harta karena cinta dan keluarga lebih dari segalanya.