
Selamat membaca!
Setelah memberi materi di kelas selama satu jam, akhirnya Dyra kembali ke ruang dosen. Paras cantiknya terlihat pucat, mungkin karena faktor kelelahan karena kemarin ia harus mengurus masalah Irene dan Ansel. Belum lagi sampai malam ia masih berada di rumah sakit dan sepulang dari itu pun Dyra tak langsung tidur, ia masih harus memadu kasih dengan Darren untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
"Entah kenapa aku merasa pusing?" tanya Dyra dalam hatinya setelah merasakan kepalanya yang berdenyut.
Tak berapa lama kemudian, Bian yang memang sudah sejak lama memperhatikan Dyra, kini datang menghampirinya dengan raut wajah yang cemas.
"Kamu tidak apa-apa Dyra? Kelihatan kamu sedang kurang sehat. Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja? Biar aku yang mengendarai mobilmu."
Dyra hanya menoleh sejenak menatap Bian, lalu ia kembali memalingkan wajahnya, hingga membuat Bian kecewa.
"Kamu masih marah denganku?" tanya Bian dengan hati-hati.
"Aku tidak marah, malah aku sudah lupa dengan rasa sakitnya. Saat ini aku hanya membatasi saja, lagipula aku sudah menikah Bian dan kamu harus tahu itu."
Bian mengerutkan keningnya dalam. "Tapi bukankah pernikahanmu dengan Ansel gagal dan akhirnya Darren menggantikan posisi Ansel, agar pernikahan megah itu tetap berlangsung. Aku hadir di sana Dyra, aku melihat wajah sendumu saat itu."
Dyra tersentak kaget dengan semua yang dikatakan Bian padanya. Ia pun bangkit dan menatap wajah Bian dengan raut wajah yang tegas.
"Terus maksudmu apa?" tanya Dyra menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Jadi kamu itu menikah tanpa dasar cinta kan?" Bian menebak yakin, sesuai dengan apa yang dilihatnya sewaktu acara pernikahan itu.
"Kamu salah Bian! Seiring berjalannya waktu aku mencintainya, bahkan ternyata suamiku itu dua kali lebih baik darimu Bian."
Dyra pergi begitu saja meninggalkan Bian, yang tercekat kaget dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Dyra.
Sementara itu Bian hanya termangu, setelah Dyra secara mentah-mentah telah menolaknya dengan tegas.
"Berarti sudah tidak ada kesempatan untuk kita bersama lagi. Padahal aku masih mencintaimu, dulu aku memang bodoh telah mengkhianati wanita yang sudah dengan tulus mencintaiku," batin Bian begitu perih dalam penyesalannya.
"Tapi aku akan tetap mencintaimu, Dyra." Bian menatap kepergian Dyra yang semakin jauh meninggalkannya.
Setelah selesai dengan semua urusannya di rumah sakit. Darren kini sudah berada di kantornya. Namun saat ini pikirannya tak bisa fokus dengan pekerjaannya, karena terbagi memikirkan Dyra yang sudah sejak tadi belum juga mengabarinya.
"Lebih baik aku duluan saja yang menghubunginya." Darren meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja. Kemudian ia mulai menghubungi Dyra.
Satu sampai 10 menit, panggilan telepon Darren masih belum tersambung. Hal ini membuatnya semakin cemas dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi melihat kondisi Dyra secara langsung di kampus.
"Tidak biasanya Dyra lama menjawab teleponku," batin Darren merasa sangat cemas.
__ADS_1
Darren terlihat melangkah dengan tergesa, hingga membuat Misya sekretarisnya langsung menyapanya dengan beberapa pertanyaan.
"Tuan, Anda mau pergi kemana?" tanya Misya sekretaris Darren yang terlihat cantik mengenakan blazer pink dipadupadankan dengan rok mini rample berwarna hitam.
"Saya akan pergi ke kampus."
"Tapi Tuan, bagaimana meeting nanti dengan Tuan Denis?"
"Saat ini yang lebih penting adalah keadaan istri saya. Saya tidak peduli dengan yang lain, pending saja meetingnya dan rubah schedule jadi besok, tapi jika Denis keberatan batalkan saja kerjasama dengan perusahaannya."
"Baik Tuan, nanti akan saya sampaikan kepada Tuan Denis," jawab Misya yang tak lagi membantah perintah dari Darren, karena saat ini raut wajah pria itu terlihat tegas dengan rahangnya yang mengeras.
Darren kembali melanjutkan langkahnya, menuju sebuah lift khusus yang memang hanya diperuntukkan untuk dirinya saja.
"Aku harus segera tiba di kampus. Hatiku benar-benar cemas memikirkan Dyra, tapi ada apa ya dengannya? Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku?" batin Darren penuh tanya memenuhi isi kepalanya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
__ADS_1
Terima kasih ya atas dukungan kalian sejauh ini, karena SCM sudah mendekati akhir episode dan nantinya akan berlanjut ke novelku yang baru dengan judul Ansel & Irene.