Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Janji Ansel


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah selesai mendapatkan penanganan dari Dokter dan mengambil resep obat di apotik rumah sakit, kini Ansel dan Irene terlihat sudah kembali berada di dalam mobil menuju hotel tempat mereka menginap.


"Irene, maafkan aku ya, semua ini karena kesalahanku yang terlalu berlebihan saat kita bercinta," ucap pria itu kepada sang istri dengan suara berbisik di akhir kalimatnya, agar tak terdengar oleh pengemudi taksi yang berada di depan mereka.


Irene pun coba menepis rasa bersalah yang saat ini tengah menaungi suaminya dengan senyuman. "Ansel, ini bukan kesalahanmu, tapi kita saja yang tidak tahu tentang kehamilan itu. Ya, wajar saja karena ini anak pertama kita. Jadi maklum kalau kita itu sama-sama masih dalam tahap belajar dan tidak tahu menahu tentang masalah ini, apalagi saat ini kita sedang jauh dari keluarga." Irene meraih tangan Ansel dan memangku di atas pahanya. Ia terus menggenggam kedua tangan suaminya dengan erat dan menatap manik mata pria itu yang saat ini dipenuhi dengan rasa bersalah.


"Iya pokoknya aku tidak akan melakukan itu lagi sampai usia kandungan kamu memasuki trimester terakhir. Aku tidak mau, jika sesuatu yang buruk sampai terjadi dengan anak kita." Ansel mengatakan semua itu sambil terus menatap dalam kedua mata Irene yang seketika langsung berkabut karena begitu terenyuh dengan kecemasan sang suami terhadap anak yang dikandungnya.


Melihat air mata Irene yang saat itu menganak di kelopak matanya, Ansel pun mulai menangkup kedua sisi wajah sang istri dengan penuh kelembutan. Ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari paras cantik istrinya yang saat ini sedang terlihat sendu.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis? Sudah ya Irene jangan menangis lagi. Aku minta maaf!" Pria itu mulai mengusap air mata yang menetes secara bergantian dari kedua sudut mata Irene dengan rasa bersalah yang masih memenuhi isi pikirannya.


"Tidak sayang, aku menangis bukan karena kamu, tapi aku bahagia karena melihat kamu sudah sangat berbeda. Kamu bukan lagi Ansel yang kejam, arogan, dan selalu menyakitiku. Kamu ingat enggak saat itu? Waktu aku ingin tidur didekatmu karena permintaan anak kita, tapi kamu malah mengusirku hingga aku memutuskan untuk duduk bersandar di depan pintu kamarmu dan ternyata saat itu aku tak sadarkan karena kedinginan."


Ansel sesaat memutar ingatannya kembali ke masa-masa itu, masa dimana pria itu berlaku sangat kejam terhadap Irene yang sedang mengandung anaknya. "Iya aku ingat Irene. Aku benar-benar menyesal karena terlalu bodoh, hingga menyia-nyiakan waktu yang berharga saat bersamamu dulu. Sampai akhirnya aku mulai merasa kehilanganmu. Terlebih saat kamu jauh dariku, aku begitu tersiksa karena tak lagi bisa menatap wajahmu, tapi sekarang aku sudah ada di sini, aku akan selalu menjagamu sampai akhir hidupku."


Ansel pun merengkuh tubuh sang istri yang saat itu semakin berlinang dengan air mata kebahagiaan. Namun, tiba-tiba suara teguran dari sang pengemudi taksi memecahkan suasana haru yang sedang terjadi kala itu.


Perkataan dari sang pengemudi membuat keduanya jadi merasa iba dan seketika langsung melepaskan pelukannya. "Maafkan kami jika saya jadi membuat Anda teringat akan istri Anda. Memangnya kalau boleh tahu, kenapa istri Anda meninggal?" tanya Ansel dengan keningnya yang berkerut dalam.


Sang pengemudi sejenak diam tanpa suara hingga akhirnya pria itu menjawab pertanyaan Ansel, walau dengan suara yang begitu lirih. "Istri saya meninggal karena saya terlambat membawanya ke rumah sakit ketika ia hendak melahirkan anak pertama kami, Tuan." Mendengar jawaban itu, Ansel langsung menggenggam tangan Irene dengan erat dan menatap dalam manik mata sang istri yang menyiratkan sebuah ketakutan. Ketakutan bahwa ia bisa saja bernasib sama dengan istri dari sang pengemudi itu.

__ADS_1


"Kami berdua turut berduka cita atas kematian istri Anda, saya harap Anda bisa kuat dalam menjalani ujian ini, tapi saya yakin jika Istri Anda saat ini sudah bahagia di surga sana."


"Iya terima kasih, Tuan." Pengemudi itu kembali fokus memacu kendaraannya membelah lalu lintas kota Birmingham yang kala itu terlihat renggang karena memang waktu sudah sangat larut malam.


Sementara itu Ansel terus menggenggam tangan istrinya sambil menyentuh wajah cantik Irene yang saat ini masih tampak ketakutan. Maklum saja, kehamilan pertama memang akan membuat siapa pun wanita pasti gugup menjalaninya. Terlebih ketika mendengar pengalaman-pengalaman buruk dari orang lain.


"Kamu jangan takut ya, Irene! Aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan membiarkan kamu melewati proses kehamilan nanti seorang diri." Ansel memberi ciuman lembut pada kening Irene yang membuat wanita itu kini sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Terima kasih ya sayang, semoga apa yang kamu katakan, benar-benar terjadi saat tiba waktunya nanti." Irene pun meletakkan kepalanya dengan bersandar pada pundak Ansel sambil terus menatap wajah suaminya yang saat ini benar-benar membuatnya kagum dengan semua tanggung jawabnya.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2