Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Ingatan Owen


__ADS_3

Selamat membaca!


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tibalah bagi Darren untuk pulang ke rumah, ia sudah sangat tidak sabar kembali bersama Dyra, yang saat ini sedang mengandung anaknya buah cinta mereka.


"Ayo Will, kita pulang!" titah Darren yang sudah berada di dalam mobil.


"Baik Tuan," jawab Will yang langsung memacu mobilnya meninggalkan pelataran kantor.


Saat itu Will masih dipenuhi oleh rasa bersalah, karena ia tidak menceritakan apa yang telah dilihatnya kepada Darren. Will menyembunyikan semua itu atas kesepakatan Owen, karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan Darren dengan sesuatu yang belum pasti kebenarannya.


"Maafkan aku Tuan, tapi ini harus aku lakukan. Aku harus menahan diri untuk dapat bercerita padamu, sampai semua jelas terungkap," batin Will memutuskan, walau dengan berat hati.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Will tiba di pelataran rumah. Darren tak membuang waktunya, ia bergegas turun dari mobil.


Darren mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan Dyra.


"Kemana Dyra ya?" tanyanya yang tak menemukan sosok istrinya di ruang tamu dan juga ruang keluarga.


Darren kembali melangkah, kini ia sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setibanya di depan pintu kamar, ia tak mengetuk pintu tersebut dan memutuskan untuk langsung masuk mengejutkan Dyra.


"Sayang, aku pulang," ucap Darren dengan suara yang berusaha mengejutkan Dyra, namun yang terjadi adalah Darren sendiri yang termakan dengan kejutannya, saat di dalam kamar pun ia tak menemukan keberadaan Dyra.


Darren mulai panik, ia semakin menajamkan pandangan matanya ke sekeliling ruang kamar, bahkan setiap sudut ruangan tak luput dari penglihatannya.


"Kemana Dyra?" tanya Darren cemas saat belum berhasil menemukan istrinya yang sudah sangat ia rindukan.


Tiba-tiba saat Darren semakin kebingungan, kedua tangan melingkar ke pinggangnya membuatnya terhenyak dan langsung menoleh ke arah belakang tubuhnya.


"Dyra." Darren langsung membalikkan tubuhnya, ia begitu bahagia dengan apa yang kini dilihatnya.


"Kamu itu kemana? Aku tuh panik nyariin kamu," protes Darren yang sudah mulai lega karena manik matanya sudah berhasil menatap wajah istrinya.


Dyra mengembangkan sebuah senyum termanis di wajahnya, salah satu alasan yang membuat seorang Darren begitu menggilai Dyra Anastasya.


"Aku di balkon Hubby, aku lihat kamu seperti kebingungan mencariku, maka itu akhirnya aku ingin mengerjaimu dengan membuatmu terkejut."


"Iya sayang kamu berhasil membuatku cemas. Aku tuh takut kamu pergi atau hilang."


Dyra mengacak-acak rambut Darren dengan raut wajah menggemaskannya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku pergi, memangnya kamu salah apa?" jawab Dyra dengan binar di manik matanya. Ia sangat bahagia melihat sikap Darren yang sangat takut kehilangannya.


"Tadinya aku mau buat kejutan ke kamu, tapi malah kamu yang bikin jantungku hampir saja copot."


"Sudah cepat ganti pakaianmu, aku sudah siapkan makanan untukmu di bawah. Aku tunggu di meja makan ya, sekalian ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


"Apa itu sayang? kenapa tidak sekarang saja, ayolah katakan saja, jangan buat aku penasaran?"


"Tidak Hubby, nanti saja di bawah ya. Sudah ayo sana bersihkan dulu dirimu." Dyra mendorong pelan, tubuh Darren ke arah bathroom.


"Okelah aku mandi dulu. Aku tidak akan lama sayang." Darren memberi kecupan singkat pada bibir Dyra, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju bathroom.


Sementara Dyra langsung mengambil tas kerja milik suaminya, yang diletakkannya dengan sembarang di dasar lantai. Setelah itu Dyra menyiapkan pakaian Darren dan meletakkannya dengan rapi di atas ranjang, lalu ia keluar dari kamar untuk menuju ruang makan.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Di tempat berbeda, Ansel dan Owen sudah berada di bandara. Keduanya terlihat sedang menunggu jam penerbangan menuju Birmingham.


"Tuan, hati-hati di sana. Maafkan aku tidak bisa menemanimu, karena ada hal yang sangat penting harus aku selidiki." Owen coba mengatakan apa yang telah disampaikan kepada Will, namun dengan sangat hati-hati.


Walau kecewa, namun Ansel coba untuk mengerti. "Tidak apa-apa Owen, walau aku tidak tahu apa yang ingin kau selidiki, tapi semoga saja aku berhasil menemukan Irene dan membawanya kembali pulang."


"Terima kasih banyak Owen, tapi kalau aku boleh tahu memang apa yang ingin kau selidiki?" tanya Ansel dengan menautkan kedua alisnya.


"Mungkin Tuan Ansel memang harus tahu," batin Owen memutuskan.


"Begini Tuan, semua ini tentang Ibumu Tuan. Will melihat Nyonya Bella berada di dalam mobil dan terlibat sebuah kecelakaan mobil."


Ansel terhenyak dengan semua yang dikatakan oleh Owen. Namun, bukannya kaget karena mendengar ibunya masih hidup, Ansel malah terkekeh lucu dengan apa yang Owen katakan padanya.


"Tidak mungkin itu Ibuku Owen, di rumah sakit aku bersamanya terus sampai ia mengembuskan napas yang terakhir kalinya. Bisa saja itu hanya mirip Owen, apakah kau tidak tahu bahwa di dunia ini pasti ada banyak wajah yang mirip dengan kita dan bukan tidak mungkin wanita itu hanya mirip dengan Ibuku."


Owen menautkan kedua alisnya dengan segala pikiran yang sudah berkutat di dalam otaknya.


"Maka itu aku harus selidiki Tuan, tapi tolong jangan beritahu Tuan Darren dulu, karena saya tidak ingin mengganggu kebahagiaannya dengan Nyonya Dyra."


Ansel sangat setuju dengan langkah Owen untuk menyembunyikan semua yang belum pasti kebenarannya ini dari ayahnya.


"Baiklah, selidiki dan beritahu aku. Aku usahakan tidak akan terlalu lama berada di Birmingham."

__ADS_1


"Baik Tuan, secepatnya saya akan beritahu."


Tak lama kemudian sebuah panggilan dari announcer terdengar memenuhi seisi ruang tunggu di bandara. Tibalah saatnya untuk Ansel berpisah dengan Owen dan pergi meninggalkan Korea untuk sementara waktu.


"Baiklah Owen, tolong kau juga jangan beritahu aku pergi ke Birmingham sendiri. Katakan saja pada ayah, aku dan Irene bulan madu ke sana, oke Owen!"


Owen tersenyum dan langsung memeluk tubuh Tuan mudanya itu. "Baik Tuan, jaga dirimu di sana." Owen menepuk punggung Ansel lalu melepaskan pelukannya.


Ansel pun mulai melangkah pergi meninggalkan Owen yang masih menatap kepergiannya.


"Semoga kau berhasil membawa Nona Irene pulang bersamamu Tuan. Walau aku tidak ikut denganmu, tapi doaku selalu menyertaimu."


Owen akhirnya melangkah untuk meninggalkan bandara. Ia sangat sadar bahwa saat ini ada yang harus ia temukan jawabannya, yaitu tentang sebuah misteri akan sosok wanita yang dilihat oleh Will. Wanita yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Bella, istri dari Tuannya yang sudah meninggal 4 tahun silam.


"Aku harus menemukan jati diri wanita itu yang sebenarnya. Jika memang perkataan Tuan Ansel benar, aku tidak perlu cemas, tapi entah kenapa perasaanku mengatakan hal yang lain. Aku masih ragu jika itu bukanlah Nyonya Bella, lebih baik aku harus selidiki terlebih dahulu apa Nyonya Bella memiliki seorang kembaran."


Owen teringat akan sesuatu yang aneh saat 6 bulan sebelum kematian Bella. Ingatan yang menuntunnya ke arah pikiran yang sekarang dipenuhi rasa kalut dan sebuah tanda tanya besar.


Di dalam pesawat, Ansel masih teringang dengan apa yang dikatakan oleh Owen. Ia pun coba mengingat detik-detik terakhir sebelum ibunya meninggal. "Waktu itu Ibu mengatakan sesuatu padaku, tapi terdengar samar. Dia menyebutkan satu nama, yang menurutku itu aneh. Kalau tidak salah dia mengatakan Della, tapi siapa itu aku tidak pernah mengenal seseorang dengan mana Della."


Ansel mengesah pelan.


"Semoga saja Owen bisa menemukan jawaban itu," ucap Ansel dengan pikiran yang saat ini bercabang dalam otaknya.


Ansel menatap ke arah luar jendela pesawat, ia memandangi langit yang biru dan ingatannya saat itu langsung tertuju pada sosok wanita yang sangat dirindukannya.


"Aku akan segera menemukan dan membawamu pulang Irene. Tunggulah aku di sana," gumam Ansel penuh keyakinan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Kalian bisa ikuti juga Sekretarisku Canduku, karena di sana nanti akan ada kisah Irene saat tiba di Birmingham.


Note : Ingat ejaannya Sekretaris bukan Sekertaris.



Tunggu perjalanan Ansel meluluhkan hati Irene untuk kembali pulang di novel Ansel & Irene yang akan publish bulan February.

__ADS_1



__ADS_2