
Selamat membaca!
Dyra masih menahan isak tangisnya sekuat tenaga hingga wajahnya sudah memerah.
"Lepaskan Ansel dengan ikhlas dan kamu harus belajar terbiasa tanpanya. Saya yakin kamu wanita yang kuat, jangan lemah hanya karena cinta karena kamu hidup bukan untuknya saja, masih banyak orang yang sangat membutuhkan kamu agar terus bangkit dari waktu yang membuatmu terluka," ucap Darren dengan berbisik di telinga Dyra, agar orang lain tak mendengarnya.
Dyra tak mampu menjawab dengan ucapan, namun kedua tangannya memeluk erat tubuh Darren sekuat-kuatnya, hingga wajah Dyra tenggelam dalam dekapan suaminya. Ia menumpahkan semua kesedihan yang membuatnya sesak, dengan sabar Darren mengusap pucuk kepala Dyra, hingga akhirnya wanita itu bisa merasa sedikit lebih tenang.
Dari atas altar, Ansel terus memperhatikan Dyra yang sedari tadi tak pernah berhenti menampilkan raut kesedihan di wajahnya. Hatinya terus meratapi segala penyesalan atas apa yang telah dilakukannya.
"Maafin aku Dyr, aku tahu kamu terluka, kamu kecewa dan sakit hati atas pernikahanku ini. Aku pun menyesal karena tak mendengarkan perkataanmu yang melarangku untuk bergaul dengan sahabat-sahabatku. Sekarang penyesalanku tak berarti apa-apa dan tidak akan membawa kita untuk bisa kembali bersama, karena kamu sudah menjadi istri ayahku, tapi aku akan berusaha mengembalikan senyum bahagia yang hilang di wajahmu, karena kesalahan yang telah kuperbuat," batin Ansel yang hatinya mulai tersentuh melihat kesedihan Dyra.
Perasaan berbeda yang Ansel rasakan kali ini, benar-benar merubah niatnya yang tadinya masih ingin memaksa Dyra untuk kembali padanya, menjadi ikhlas melepas Dyra untuk Darren.
__ADS_1
Air mata Dyra sanggup melunakkan hati Ansel yang tadinya begitu keras. Ia kini sudah bertekad akan membantu Darren untuk membuat kesedihan Dyra hilang dan berganti kebahagiaan. Walau Ansel masih tak bisa menerima pernikahannya dengan Irene. Ansel masih kesal atas penolakan Irene untuk menggugurkan kandungannya, bahkan kehamilannya ia jadikan sebagai ancaman, agar Ansel mau menikahinya.
Ansel memicingkan pandangan matanya ke arah Irene dengan masih menyimpan amarah untuknya.
"Wanita ini, aku akan buat dia tersiksa, hingga pada akhirnya dia tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa mencintainya," batin Ansel menatap dengan penuh amarah, hingga membuat Irene hanya menunduk untuk menghindari tatapan itu. Bahkan momen mereka berciuman ditolak oleh Ansel yang langsung meninggalkan altar begitu saja, tanpa memikirkan perasaan Irene yang saat ini merasakan sakit yang teramat dalam.
Irene menatap sendu kepergian Ansel. Ia merasa tak ada artinya sama sekali untuk pria yang saat ini telah jauh melangkah menuju pintu keluar gereja. Hatinya sakit menahan rasa malu di depan puluhan tamu yang menatap iba ke arah Irene, mereka sudah tahu alasan Ansel menikahinya, hanya untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukannya, hingga menyebabkan Irene hamil.
"Aku hanya ingin memberikan keadilan untuk anakku, agar dia bisa merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa ayahnya. Walau sebenarnya aku bisa saja pergi dan merawat anaknya sendiri, tapi itu tidak aku lakukan, semua demi anakku. Biarlah Mama yang menahan rasa sakit ini, agar kamu bisa merasakan kebahagiaan bersama Papamu kelak, ketika kamu dilahirkan," lirih Irene dalam hatinya, sambil mengusap air mata yang meleleh membasahi kedua pipinya.
๐๐๐
Setelah pernikahan Ansel dan Irene berakhir. Kini Darren dan Dyra sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke rumah kediaman Darren. Selama di dalam mobil tak banyak yang dikatakan oleh Dyra, ia lebih banyak diam sambil menatap ke arah luar, memandangi keramaian lalu lintas dengan tatapan mata yang kosong.
__ADS_1
Darren yang terus memperhatikan Dyra, ikut diam tak ingin mengganggunya. Ia memberikan waktu untuk Dyra berpikir atas semua perkataan yang telah diucapkannya sewaktu di dalam gereja. Darren sangat yakin, jika Dyra pasti bisa bangkit dari keterpurukannya. Ia percaya itu semua akan terjadi, walau butuh waktu yang lama. Namun Darren tidak akan pernah lelah menunggu semua itu terwujud.
"Aku akan selalu mencintaimu Dyra. Hanya satu hal yang aku ingin lihat saat ini, yaitu senyum bahagia di wajahmu. Walau butuh waktu yang lama, tapi aku janji akan selalu ada di sampingmu, untuk menguatkan hatimu yang rapuh," batin Darren menatap nanar ke arah Dyra yang tak mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Mampir juga ya ke sini jika berkenan.
__ADS_1