Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Keajaiban Tuhan


__ADS_3

Selamat membaca!


Saat ini Owen sudah berada di dalam kamar, menatap keadaan Ansel yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang. Pria itu baru saja tiba sekitar 10 menit yang lalu dan setelah mengetahui kepergian Irene dari Anna, Owen dengan cepat langsung memerintahkan anak buahnya, untuk mencari keberadaan Irene.


"Semoga saja Nona Irene belum pergi jauh dan bisa temukan. Kasihan dia, kondisinya saat ini sedang hamil." Owen kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya, setelah selesai memberikan perintah pada anak buahnya lewat sambungan telepon.


Tak lama kemudian, Ansel mulai tersadar dan sudah terlihat mengerjapkan kedua matanya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. "Irene." Pikirannya kembali dipenuhi oleh sosok wanita yang selama ini telah ia sia-siakan.


"Tuan Ansel, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Owen yang sudah berdiri di samping ranjang, sambil terus menatap kondisi Ansel yang baru saja sadar.


Ansel yang sudah hafal betul suara Owen, seketika bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Pria itu meraba-raba udara untuk meraih tubuh Owen.


"Aku mohon Owen temukan Irene, aku mohon Owen! Aku menyesal karena telah menyia-nyiakannya." Ansel meminta dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya, sambil terus menggenggam erat tubuh Owen yang berhasil digapainya.


Owen terhenyak dengan apa yang dilihatnya, terlebih saat ini Ansel tampak sangat menyesal, atas apa yang telah dilakukannya kepada Irene. "Saya usahakan Tuan, tapi sekarang kita harus pergi ke rumah sakit, karena operasi Anda akan berlangsung tepatnya pukul 10 ini."


Ansel seketika terdiam sejenak. Suara tangisannya terhenti, sembari mencerna maksud perkataan yang Owen katakan padanya.


"Maksudmu apa Owen? Aku akan segera bisa melihat lagi." Ansel menahan kebahagiaan yang hampir membuncah di dalam dirinya, sebelum Owen mengulangi maksud dari perkataannya.


"Iya Tuan, kornea mata untuk Tuan sudah tersedia, jadi hanya tinggal operasi dan Anda pasti akan dapat melihat kembali." Owen menyampaikan apa yang saat ini ia ketahui. Namun, dirinya masih belum tahu, bahwa saat ini Kimmy mengajukan persyaratan tambahan, yang sangat mustahil untuk dapat Darren wujudkan.


"Jadi aku bisa kembali melihat Owen, benarkah itu?" tanya Ansel yang masih tak percaya dengan perkataan yang Owen lontarkan.

__ADS_1


"Iya Tuan, selamat ya, saya ikut senang dengan kabar baik ini. Sekarang ayo kita berangkat! Karena Tuan Darren dan Nyonya Dyra sudah menunggu Anda di rumah sakit."


Ansel mengangguk dan mulai menerbitkan sebuah senyum dari kedua sudut bibirnya.


"Setelah aku bisa melihat kembali, aku akan mencarimu Irene. Aku mohon Tuhan berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku," batin Ansel penuh harap.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di sebuah cafe letaknya berada didekat rumah sakit, kini Darren terlihat berada di sana bersama Dyra. Raut wajahnya masih menyimpan amarah atas apa yang Kimmy katakan. Ia tak habis pikir, bahwa wanita itu menyimpan sebuah rencana licik dan tak bisa ia torerir lagi.


"Aku tidak habis pikir, Kimmy bisa mengajukan syarat yang tidak mungkin bisa aku kabulkan," ucap Darren dengan kesal.


"Sabar Hubby. Aku mengerti perasaan kamu, cuma saat ini kita harus tenang menghadapi semua ini." Dyra mengusap lembut lengan Darren untuk meredakan amarahnya yang memuncak.


"Tapi itu bukan hal yang mudah Hubby. Pasti akan membutuhkan waktu yang lama," ucap Dyra menilai semua masalah yang saat ini mereka hadapi.


"Iya aku paham, tapi semoga saja ada keajaiban," jawab Darren mengesah kasar.


"Serahkan semua kepada Tuhan, Hubby. Percayalah Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang lebih indah untuk Ansel. Sekarang beritahu Owen, agar dia menyampaikan berita ini pada Ansel, karena mau bagaimanapun mereka harus tahu terutama Ansel."


Darren mengangguk, kemudian mengambil ponsel pada saku jasnya untuk menghubungi Owen. Namun, saat ia masih menunggu sambungan telepon itu dijawab oleh Owen, seorang wanita berparas cantik menghampirinya.


"Tuan, maaf tadi saya mendengar percakapan Anda, apa Anda saat ini membutuhkan pendonor kornea mata?"

__ADS_1


Dyra dan Darren secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara itu. "Betul sekali Nona, memangnya ada apa ya?" tanya Dyra menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita itu.


Wanita cantik itu tersenyum manis. Raut wajahnya terlihat bersinar, dengan manik mata yang terpancar sebuah kebaikan tersirat di dalamnya.


"Kebetulan Adik saya baru saja meninggal pagi ini. Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan Anda, jadi saya pikir untuk mendonorkan kornea mata Adik saya. Itu pun sesuai amanatnya sebelum meninggal, yang ingin berguna untuk orang lain."


Darren menyambut tawaran wanita itu dengan penuh rasa syukur. Kebahagiaan yang terpancar jelas di manik mata pria itu, sama halnya dengan Dyra, wanita itu pun tak kalah bahagianya mendengar keajaiban yang saat ini terjadi di depan matanya.


"Terima kasih ya Nona, Anda memang sangat baik," ucap Dyra meraih kedua tangan wanita yang ada di hadapannya, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Iya Nona, sudah tugas kita sebagai sesama manusia untuk saling menolong. Lagipula saya hanya menjalankan amanat dari Adik saya."


Akhirnya Darren kini dapat bernapas lega. Segala kegusarannya mengenai ancaman Kimmy seolah sirna seketika. Ia sudah dapat tersenyum kembali dan menatap Dyra yang juga merasakan hal yang sama dengannya.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih banyak atas dukungan kalian.


Oh ya, pendonor mata untuk Ansel adalah seorang laki-laki yang usianya seumuran dengan Irene.

__ADS_1


Nantinya akan terungkap di novel Ansel & Irene.


__ADS_2