
Mau boom up nih, jangan lupa like setiap episodenya, juga vote sebanyak-banyaknya, agar SCM bisa berada di dalam ranking vote!
Selamat membaca!
"Katakan Owen, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? Aku tidak suka, jika kau membuatku penasaran seperti ini."
Owen yang merasa tidak enak, langsung mengatakan pada Darren, walau sebenarnya ia masih ragu. "Begini Tuan, Nyonya Bella ternyata masih hidup." Owen mengembuskan napasnya dengan kasar, ia merasa sangat lega, karena berhasil menyampaikan sebuah kenyataan yang sejak kemarin dipendamnya.
Darren terkekeh lucu, ia merasa apa yang Owen katakan bagaikan sebuah gurauan belaka untuknya.
"Sudahlah, kau tidak usah bicara sembarangan seperti itu, Owen." Darren melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, hingga akhirnya ia sudah lebih dulu tiba di lantai dasar rumahnya.
"Tapi Tuan, saya tidak berbohong. Awalnya Will yang melihat semuanya dan saya telah menyelidikinya. Nyonya Bella masih hidup, saya ada bukti identitasnya," ucap Owen agak mengeraskan suara di akhir kalimat yang ia ucapkan, agar Darren dapat mendengarnya.
Darren terhenyak kaget, tak percaya dengan apa yang telah didengarnya saat ini. Sekujur tubuhnya seakan bergetar hebat dan sangat sulit dibayangkan betapa terkejut dirinya saat ini.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin," ucap Darren menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke arah Owen.
Owen pun langsung menyusul Darren, hingga kini keduanya kembali saling berhadapan.
"Tapi semua ini memang benar, Tuan. Saya tidak bisa menutupinya lagi darimu. Maafkan saya Tuan, bukan maksud saya merusak kebahagiaan Anda dengan Nyonya Dyra, terlebih Nyonya saat ini sedang mengandung."
Darren menajamkan sorot matanya. Ia tak pernah semarah ini terhadap Owen, hingga tiba-tiba sebelah tangan Darren mencengkram kerah kemeja Owen, hingga membuat Owen tercekat kaget.
"Ampun Tuan, maafkan saya, tapi saya tidak sedang bergurau. Ini adalah kenyataan yang saya telah lihat sendiri."
Darren berdecih kesal, seperti menunjukkan sisi lain dari dirinya, ketika sedang berada pada situasi yang tidak disukainya.
Owen mengambil sebuah kartu dari dalam saku jasnya dan menyodorkan langsung kepada Darren. "Ini Tuan, lihatlah sendiri."
Darren yang melihat sebuah kartu yang Owen sodorkan padanya, seketika langsung melepas cengkeramannya dan mengambil kartu itu. Pria yang sedang dibalut amarah dalam dirinya itu, kini menatap dengan sorot mata tajam membaca kartu identitas yang saat ini digenggamnya erat.
__ADS_1
"Chivana Arabella." Sekujur tubuh Darren seketika lunglai seperti tak bertenaga, sorot mata yang tadinya penuh amarah, kini berubah menjadi penuh kabut dengan bulir kesedihan yang menganak di kelopak matanya.
"Kamu masih hidup, Bella. Lantas siapa wanita yang dikubur waktu itu? Siapa wanita itu yang selama di rumah sakit selalu aku dan Ansel dampingi?" tanya Darren dalam hatinya yang masih terus menggenggam kartu identitas itu dengan tangan gemetar.
"Maafkan saya Tuan, saya mengerti perasaan Anda, tapi menurut saya, hal ini sudah tidak bisa lagi untuk saya tutupi dari Anda, maka itu saya membatalkan cuti saya dan kembali bekerja, agar saya bisa mengatakan hal ini secara langsung kepada Tuan."
Darren pun merasa bersalah dengan perlakuan kasarnya pada Owen. "Aku yang minta maaf, Owen, karena sudah tak mempercayaimu. Sekarang bawa aku ke tempatnya, aku ingin menemuinya!" titah Darren dengan kedua mata yang saat ini sudah tampak berkaca-kaca.
"Baik Tuan, saya akan antarkan," jawab Owen singkat yang kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya untuk terlebih dahulu menuju keluar rumah. Owen melewati Darren yang saat ini hanya termangu sambil menatap tajam sebuah kartu identitas yang masih digenggamnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin Bella masih hidup?" batin Darren yang kemudian melangkah untuk menyusul Owen.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
__ADS_1
▶️ Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.