Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
Kedewasaan Ansel


__ADS_3

Jangan lupa tebar kebiasaan baik dengan like dan vote sebanyak-banyaknya. Terima kasih.


Selamat membaca!


Saat mobil yang Owen kendarai sudah masuk pelataran rumah sakit. Ansel menahan Owen yang hendak keluar dari mobil, dengan sebuah permohonan.


"Owen, aku minta padamu, tolong jangan beritahu Ayah dan Amma soalnya kepergian Irene, biar ini jadi tanggung jawabku. Sudah cukup, selama ini aku menyusahkan Ayah dengan semua kesalahanku dan aku tidak ingin menambahnya lagi."


Owen tampak ragu mendengar perintah dari Ansel, namun ia tak punya pilihan selain menurutinya. "Baik Tuan, saya akan rahasiakan semua ini." Owen menjawab perintah Ansel, ia kembali membuka pintu mobilnya dan memanggil beberapa petugas rumah sakit yang berjaga, untuk membantunya mengeluarkan Ansel dari mobil untuk dipindahkan pada kursi roda.


Kini Ansel sudah berada di atas kursi rodanya, Owen pun mendorongnya untuk menghampiri Darren juga Dyra, yang sudah sejak pagi menunggu kedatangan mereka di lantai 7 tepatnya di ruang tunggu VVIP.


Setiba ya di sana, Darren yang sudah melihat kedatangan Ansel dan Owen, langsung bangkit dari posisi duduknya. Langkahnya mendekati Ansel dengan raut penuh kebahagiaan. Darren pun berlutut setelah Owen menghentikan laju kursi rodanya tepat di ambang pintu.


"Kau akan segera bisa melihat lagi Ansel, semangat ya untuk operasi yang akan kamu lalui sebentar lagi." Darren menggenggam lengan Ansel dengan kuat karena begitu bahagianya anak semata wayangnya akan kembali dapat melihat lagi.


"Terima kasih Ayah, maaf aku selalu merepotkan, tapi aku berjanji ini yang terakhir Ayah. Aku sekarang sudah menyadari Ayah, bahwa aku terlalu kekanak-kanakan dan sangat tidak dewasa dengan semua sikapku." Ansel merengkuh tubuh Darren dan memeluknya dengan erat.


Selama beberapa menit, Ansel terus meluapkan segala kesedihan yang membuncah dalam dirinya. Owen pun yang melihatnya ikut haru dengan situasi yang saat ini terjadi di depan matanya. Ia jadi teringat tentang permintaan Ansel sebelum dirinya keluar dari mobil.

__ADS_1


"Tuan Ansel ternyata memang benar sudah berubah. Kebutaan yang dialaminya, berhasil mendewasakannya hingga ia dapat mengerti semua kesalahannya," batin Owen menyunggingkan sebuah senyuman dari kedua sudut bibirnya.


Tak lama kemudian Dyra mendekati mereka, dengan cara yang sedikit mengejutkan.


"Hai, para lelaki. Ayo, operasi akan segera dilakukan, kenapa kalian hanya diam di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca seperti sekarang ini!" sindir Dyra memecahkan keheningan yang terjadi.


Seketika Ansel melepas pelukan dari tubuh ayahnya. Ia mulai merasa malu karena ternyata Dyra berada didekatnya. Raut wajah Ansel memerah dan ia pun hanya memilih untuk menundukkan wajahnya saja agar tak terlihat oleh Dyra. Namun, Dyra ternyata malah ikut berlutut dan mengangkat wajah Ansel dengan jemari tangannya.


"Angkat kepalamu Ansel, karena sebentar lagi kamu akan kembali dapat melihat." Dyra menyemangati Ansel, hingga Ansel kembali mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah wajah Dyra, walau pada manik matanya hanya warna hitam yang terlihat begitu pekat.


Dyra mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Irene, hingga membuat keningnya mengerut dalam.


"Iya betul, kemana Irene, Ansel? Apa dia tidak ikut ke rumah sakit ini?" tanya Darren yang baru menyadari bahwa Irene tak ada di sekitarnya.


Owen tercekat dan sejenak diam. Namun, akhirnya Ansel dan Owen menjawab secara bersamaan, namun dengan jawaban yang berbeda. Keduanya kembali diam, hingga akhirnya Ansel yang menjelaskan pada Darren dan Dyra.


"Begini Ayah, tadi Irene mau ke kampusnya, tapi karena dia kurang enak badan, maka itu aku menyuruhnya untuk istirahat, benar begitu kan Owen?" tanya Ansel pada asisten ayahnya itu yang terlihat tak enak hati jika berbohong, terlebih kepada Darren dan ini pertama kalinya seorang Owen menutupi sesuatu dari Darren.


Darren menautkan kedua alisnya, menatap keanehan yang saat ini sedang didengarnya, ia tak percaya begitu saja dengan jawaban yang Ansel sampaikan, terlebih jawaban pertama yang Owen dan Ansel sangatlah bertolak belakang.

__ADS_1


Owen mengatakan Irene pergi ke kampus, sedangkan tak lama kemudian Ansel menambahkan bahwa Irene tak jadi pergi ke kampus, karena sakit.


"Sepertinya mereka menutupi sesuatu, pasti ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Apa mungkin Irene pergi dari rumah?" batin Darren menerka-nerka, setelah mencerna tingkah keduanya yang cukup aneh untuk dilihatnya.


Sama halnya dengan Dyra, ia tak begitu saja percaya atas apa yang telah Ansel sampaikan. Baginya sangatlah aneh, bila di hari sebahagia ini Irene lebih memilih untuk pergi ke kampus dan tak menemani suaminya yang akan menjalani operasi.


"Sepertinya Irene bukan sakit, pasti ada hal yang mereka sembunyikan, tapi tentang apa? Apa jangan-jangan Irene pergi?" gumam Dyra menatap ke arah Owen dan Ansel secara bergantian.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini, menjelang tamat ini, saya akan update lebih sering.


Mampir juga ke karya saya yang satu ini :


__ADS_1


__ADS_2