
Selamat membaca!
Dyra mulai mengikuti langkah Darren untuk menuruni anak tangga. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Darren, hingga membuat keduanya terlihat mesra. Setelah tiba di lantai dasar, pandangan mata Dyra langsung tertuju ke arah meja makan, dimana Ansel dan Irene sudah menunggu kedatangan mereka.
"Aku harus tetap tersenyum, walau rasa sakit yang aku rasakan atas pengkhianatan Ansel masih belum sepenuhnya terobati, tapi aku pastikan, saat ini rasa cinta itu sudah sepenuhnya hilang," gumam Dyra dengan yakin.
Dyra kini menatap dalam wajah Darren yang sesekali juga memperhatikan dirinya. Mungkin Darren tak sepenuhnya mempercayai kalimat "Baik-baik saja" yang terlontar dari mulut Dyra, ketika Darren menanyakan tentang perasaannya saat ini.
"Saat ini hatiku sudah sepenuhnya dimiliki olehnya," gumam Dyra tak mengalihkan pandangannya dari wajah Darren.
Dyra benar-benar kagum akan sosok Darren, yang selama ini mencintainya tanpa menuntut untuk dicintai.
Sementara itu Ansel terus memperhatikan langkah Dyra yang terlihat sangat dekat dengan Darren.
"Sepertinya Dyra sudah bahagia dengan Ayah," batin Ansel tersenyum kecil.
Ansel terus berusaha menata hatinya yang saat ini masih terasa perih. Namun walau bagaimanapun juga, kebahagiaan yang dirasakan oleh Darren itu sudah membuat hatinya lebih tenang, karena baru kali ini Ansel melihat expresi yang begitu bahagia terpancar di raut wajah Darren.
Tiba-tiba sebuah genggaman membuatnya terhenyak. Ansel pun menoleh dan menatap sinis wajah Irene dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu sok baik kepadaku! Ingat, semua yang menimpaku ini adalah karena kamu tidak mau menuruti perintahku, untuk menggugurkan kandunganmu itu!" Ansel meraih tangan Irene dan menghempaskannya dengan kasar.
Irene tidak terkejut menerima perlakuan kasar dari Ansel. Ia tetap tegar, walau hatinya begitu terluka dengan kenyataan yang harus diterimanya. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, bahwa pria yang saat ini menjadi suaminya, tak pernah menganggapnya sebagai istri, melainkan musuh yang sangat dibencinya.
Darren dan Dyra pun sudah tiba di meja makan. Mereka langsung menempati dua kursi yang berada di hadapan Ansel dan Irene.
"Apa kamu sudah menunggu lama, Ansel?" tanya Darren sambil duduk di kursinya.
Ansel tersenyum ramah, menepikan rasa cemburu yang kini ada di dalam hatinya.
"Tidak terlalu lama, Ayah. Paling 10 menit yang lalu," jawab Ansel yang diam-diam melirik ke arah Dyra.
Darren tak menyapa Irene, ia mengabaikan seolah tak menganggap keberadaannya. Darren memang belum mengetahui alasan sebenarnya tentang kehamilan Irene, ia masih berpikir bahwa Irene adalah wanita yang memanfaatkan kehamilannya untuk dapat hidup enak bersama Ansel. Hidup yang mewah dengan bergelimangan harta.
Irene sesekali melihat ke arah Darren yang berada di hadapannya. Namun saat kedua matanya bergeser ke sisi kanannya, tampak Dyra menangkap sorot matanya itu dengan tatapannya, pandangan mereka sejenak saling bertaut.
"Wanita ini terlihat baik. Aku jadi ragu dengan semua yang Ansel katakan padaku, bahwa mereka melakukan hubungan itu, karena terpengaruh oleh minuman keras," gumam Dyra memutar otaknya saat mengingat apa yang dikatakan oleh Ansel sewaktu di depan kamarnya.
Irene mengesah pelan. Napasnya seketika terasa berat. Ia benar-benar terbebani dengan apa yang ada dipikirannya. Saat ini beberapa pertanyaan bergelut hebat di lubuk hatinya, membuat rasa sakit mulai menyesakkan dadanya.
Apa begitu hina dirinya di mata Darren sampai ayah mertuanya itu tidak menyapanya? Bahkan ketika Irene menawarkan untuk mengambil makanan yang Darren inginkan, ia mengacuhkannya tanpa menjawab sepatah kata pun.
__ADS_1
Raut wajah Irene saat ini berubah menjadi sendu, terlebih ketika Dyra memandangnya dengan penuh selidik.
"Mungkin wanita ini juga berpikir sama seperti ayah, tapi saat ini apa yang bisa aku lakukan. Aku tak bisa mengatakan apapun kepada mereka. Aku hanya bisa diam dan berharap Tuhan-lah yang akan menunjukkan segala kebenarannya, tanpa aku harus mengatakannya," batin Irene pasrah dengan keadaan, walau saat ini hatinya terasa begitu piluh.
Irene terlihat menekan dadanya dengan kuat untuk memberi ketegaran, di saat ia sedang rapuh seperti sekarang ini.
"Sepertinya ada kesedihan di raut wajahnya, apa dia tidak bahagia atas pernikahannya dengan Ansel?" gumam Dyra masih menatap wajah Irene yang kini tampak sendu, bahkan bulir kesedihan mulai menganak di kelopak matanya.
Irene dengan sengaja menjatuhkan sendok makannya ke lantai dan bergegas menunduk untuk mengambilnya.
"Aku tidak boleh menunjukkan kesedihanku di depan mereka, apalagi saat makan malam seperti ini. Aku tidak ingin membuat suasana menjadi kacau, karena kesedihan yang aku rasakan," batin Irene mengusap air mata yang sudah berlinang, hingga membasahi kedua pipinya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak ya atas semua dukungan kalian ya.
Jangan lupa berikan vote juga like di setiap episodenya.
__ADS_1
Mampir ke novel saya yang lainnya :