
Selamat membaca!
Malam sudah tiba dengan sinar bulan yang menerangi alam dengan begitu indah. Malam ini tibalah saat dimana Ansel dan Irene akan pergi meninggalkan rumah kediaman Darren. Rumah yang sejak lahir ia tempati. Kini Ansel akan pindah ke sebuah rumah yang jaraknya hanya berkisar 168 km dari kota Seoul rumahnya saat ini, tepatnya di kota Daejeon yang dapat ditempuh dalam waktu 102 menit bila menggunakan mobil.
Dyra tampak sudah bersiap untuk turun ke bawah dan bertemu dengan Ansel, laki-laki yang telah membuat luka di dalam hatinya. Makan malam bersama Ansel dan Irene, membuatnya tampak gugup dan sesekali terlihat merapikan ulang pakaian yang dikenakannya.
"Apa aku sudah terlihat cantik? Aku tidak ingin Ansel melihat raut wajahku yang sembab, karena aku saat ini sudah bahagia bersama, Hubby." Dyra masih menatap pantulan dirinya pada cermin yang berada di hadapannya.
Makan malam kali ini akan menjadi momen pertama, Dyra menemui Ansel sebagai ibu tirinya dan bukan lagi wanita yang dulu sangat mencintainya.
Malam ini Dyra hanya mengenakan pakaian rumahan, dengan balutan make up yang tipis pada wajahnya, namun tetap saja ia masih terlihat sangat cantik. Kecantikan yang terpancar jelas dari wajahnya yang kini sudah menampilkan pancaran kebahagiaan, hingga membuat raut wajahnya kembali bersinar dan berseri.
Kesedihan yang semula bertahta selama beberapa hari belakangan ini, telah berangsur sirna. Tak ada lagi penyesalan dan rasa dendam di hati Dyra, ia sudah bisa mengikhlaskan semua yang terjadi. Rasa sakitnya dengan cepat mampu terobati, dengan cinta dan ketulusan yang diberikan oleh seorang Darren Ethan Lee. Lelaki sempurna yang membuat hidupnya memiliki alasan untuk dapat kembali tersenyum.
Kehadiran sosok Darren telah merubah semua warna hidup Dyra menjadi cerah dan bersinar, membuat wanita cantik itu tak ada habisnya mengucap syukur atas hadiah terbaik dari Tuhan yang begitu indah, Tuhan telah memberikan pelangi, setelah hujan, menyembuhkan luka di hati Dyra yang tandus dengan cinta yang menyirami hatinya.
Dyra memutar tubuhnya di depan cermin, untuk memastikan bahwa penampilannya saat ini sudah rapi dan siap untuk turun ke ruang makan yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
Sosok Darren keluar dari walking closet dan berjalan menghampiri Dyra yang masih berada di depan cermin. Ia langsung memeluk tubuh Dyra dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut wanita cantik itu yang kini tengah merasa tidak nyaman karena belum terbiasa.
"Hubby, kamu sudah siap? Kita turun sekarang yuk," ajak Dyra sembari menyentuh kedua tangan sang suami agar terlepas dari tubuhnya.
Namun Darren dengan sengaja semakin mengeratkan pelukannya hingga Dyra terasa sesak. "Sebentar ya, lima menit lagi. Biarkan aku memelukmu dulu."
Darren menyandarkan kepalanya di atas bahu Dyra, hingga embusan napas hangat Darren menerpa permukaan kulit tubuh Dyra. Lalu dengan sengaja Darren menciumi leher jenjang milik istrinya, memberikan kecupan mesra hingga Dyra mengeluh kegelian.
"Hubby, kita mau makan bareng Ansel loh. Jangan macam-macam dulu ya." Dyra mencoba membujuk suaminya dengan mengusap perlahan rahang wajah Darren agar berhenti bertingkah supaya tidak kelewatan.
"Tapi rasanya aku malas untuk keluar kamar. Aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi," ucap Darren terdengar parau, karena hasrat dalam dirinya masih belum terlampiaskan semenjak siang tadi.
"Ah iya, untung kamu mengingatkan aku, kalau tidak mungkin aku akan melupakannya."
Darren mulai merenggangkan pelukannya, lalu ia memberikan sebuah kecupan terakhir pada tengkuk istrinya, kecupan yang cukup lama yang begitu dalam dan Darren sengaja mengisapnya hingga meninggalkan jejak kepemilikan.
"Sudah, Hubby. Nanti Ansel dan Irene menunggu kita terlalu lama," ucap Dyra melayangkan protes.
Darren segera berhenti dan membalikkan tubuh istrinya, hingga mereka berdiri saling berhadapan, berada didekat Dyra seperti sebuah ujian bagi Darren, karena ia sangat sulit menahan hasratnya untuk tidak memeluk tubuh Dyra. Terlebih apa yang mereka lakukan tadi siang, belum sampai tuntas.
__ADS_1
Darren menatap sambil tersenyum ke arah Dyra. "Maafin aku ya," ucap Darren terdengar sangat lembut, lalu jemarinya mengusap perlahan bekas merah yang tertinggal di leher istrinya.
Darren meraih rambut istrinya dengan perlahan, lalu menyusunnya ke bagian depan tubuh Dyra, lebih tepatnya di depan dada istrinya untuk menutupi kiss mark, agar tak terlihat oleh orang lain.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Hubby. Kamu tidak salah, hanya waktunya saja yang kurang tepat." Dyra merasa tidak tega membuat suaminya harus kembali menahan hasrat yang pasti membuatnya pening.
Setelah mampu menetralisir segala hasrat yang hampir kembali menyeruak dalam pikirannya. Kini Darren menggenggam tangan Dyra untuk keluar dari kamar. Mereka berdua melangkah beriringan dan terlihat sangat serasi.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.
Jangan lupa vote dan like di setiap episodenya ya.
Mampir juga ke karyaku yang lainnya ya :
__ADS_1