
Selamat membaca!
Setelah hanya diam menunggu, Darren tiba-tiba bangkit saat jemari Bella mulai bergerak dengan perlahan. Ya, wanita yang kini terbujur kaku di atas ranjang itu kini mulai mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, namun dengan sangat perlahan.
"Bella," ucap Darren yang sudah berada di samping ranjang Bella.
Tak lama kemudian, kedua mata Bella mulai terbuka dan menatap sekeliling ruangan, hingga pandangannya kini terhenti menatap sosok pria yang sudah lama sekali tak dijumpainya. Bahkan dalam bayangannya sekalipun, wanita itu sama sekali tak pernah berharap akan bertemu kembali dengan Darren, seorang pria yang sudah ia tinggalkan, demi pria lain yang tak lain adalah cinta pertamanya.
"Darren." Bella berkata walaupun terdengar masih lemah sambil memegangi keningnya yang terasa berdenyut. Kening yang masih dalam balutan perban berwarna putih.
Pertemuan yang menggetarkan hati keduanya, walau saat ini mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tak pernah hilang dalam ingatan Darren, saat-saat itu, dimana dirinya begitu terpuruk akan kematian Bella.
"Bella, kenapa kau bohongi aku?" tanya Darren dengan kedua mata yang sudah berkabut menahan rasa perih.
Bella menangis tersedu, sampai ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Ada rasa penyesalan yang mendalam dalam hatinya, karena telah menyakiti hati Darren yang sudah begitu tulus mencintainya.
"Maafkan aku Darren," lirih Bella yang kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sudah berusaha keras untuk bangkit. Namun, semua usahanya gagal, karena sekujur tubuhnya masih terasa kaku, hingga sangat sulit untuk dapat digerakkan olehnya.
__ADS_1
"Memaafkan itu mudah Bella, yang sulit adalah cara mengobatinya. Kau harus cerita padaku, ada apa dengan semua ini?" tanya Darren menautkan kedua alisnya, dengan rahang yang sudah mengeras, menahan amarah atas semua kebohongan yang Bella lakukan.
Bella mulai menangis dengan terisak. Tangisan yang disertai suara rintihan itu, semakin membuat Darren merasa iba padanya.
"Sudahlah Bella, tak perlu ada yang kau tangisi. Saat ini aku sudah bahagia bersama istriku dan alasanku kenapa aku datang ke sini adalah karena aku ingin tahu, apa alasanmu meninggalkanku dan siapa wanita yang sangat mirip denganmu itu. Aku dan Ansel setiap hari selalu bergantian menjaganya, bahkan sampai wanita itu mengembuskan napasnya untuk yang terakhir kali."
Bella masih menangis dan belum menjawabnya. Dosa masa lalu yang pernah dilakukannya, membuat wanita itu selalu dihantui oleh rasa penyesalan yang mendalam. Terlebih saat ini, pria yang sudah ia pilih telah mengkhianatinya dengan wanita lain, hingga membuatnya sampai mengalami kecelakaan mobil.
"Aku memang salah Darren, bahkan aku tidak masalah bila kau sampai membenciku karena semua kebohongan yang telah aku lakukan ini. Aku akan ceritakan semuanya padamu, wanita yang selama 6 bulan ini bersamamu itu adalah kembaranku. Namanya Chivana Ardella."
Darren terhenyak dengan semua yang dikatakan oleh Bella.
"Selanjutnya aku tahu apa yang ingin kau katakan Bella, pasti kau ingin bilang setelah bertukar peran dengan Della, kau langsung pergi bersama laki-laki itu ke Spanyol! Aku pun tahu maksud kedatanganmu kembali ke Korea pasti untuk memergoki suamimu, yang ternyata tengah berselingkuh dengan wanita lain dan kebetulan wanita itu berasal dari negara ini!"
Bella semakin menangis saat Darren mengatakan semua itu dengan penuh penekanan. Pria itu terdengar sangat murka atas apa yang telah ia lakukan. "Maafkan aku Darren, aku pikir hidup bersamanya adalah kebahagiaan untukku, tapi aku salah karena hanya bersamamu aku jauh lebih bahagia." Bella meraih tangan Darren dan menggenggamnya dengan erat.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan sosok Dyra mulai melangkah masuk, walau terhenti di ambang pintu. Darren pun terhenyak. Namun, belum menyadari jemari Bella yang masih menggenggamnya.
__ADS_1
"Dyra." Darren terhenyak begitu kaget dengan kedatangan Dyra yang saat ini hanya berdiri termangu di ambang pintu.
Kala itu pandangan Dyra langsung tertuju pada sebelah tangan Darren. Wanita berparas cantik itu pun melangkah kembali keluar dan saat Darren sadar ia dengan cepat melepas genggaman tangan Bella tanpa memedulikan perasaan wanita yang saat ini baru saja sadar dari komanya.
Darren pun bergegas menyusul kepergian Dyra. Namun, tangan Bella kembali menggenggam tangannya untuk menahan kepergian pria itu, yang kini tampak cemas di raut wajahnya.
"Jangan pergi Darren!" pinta Bella dengan memohon.
"Tidak bisa Bella karena saat ini dia jauh lebih berharga darimu, bahkan dari hidupku sendiri." Darren mengangkat sebelah tangan Bella yang masih mencengkram erat tangan Darren dengan sebelah tangannya lagi, kemudian ia melepaskannya lalu pergi begitu saja untuk keluar dari ruangan.
Saat itu tampak jelas dari sorot mata Darren, seperti ada kilatan amarah di saat Bella menahan langkahnya untuk pergi.
"Sekarang aku sudah tak lagi istimewa untukmu. Aku memang bodoh karena telah melepaskanmu demi cinta pertamaku," gumam Bella menyesal atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
__ADS_1
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banya.