Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Cemburu


__ADS_3

Selamat membaca!


Setibanya di dalam kamar hotelnya, Irene langsung menjadikan bathroom sebagai tujuan awalnya sebelum ia merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Sementara itu, Ansel memanfaatkan hal ini dengan langsung menghubungi Lucas untuk menanyakan tentang masalah gado-gado yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.


Setelah menekan tombol panggilan pada ponselnya, nada tunggu pada sambungan telepon Lucas pun mulai terdengar. Tak butuh waktu lama, panggilan itu berhasil tersambung selang beberapa detik setelah Ansel menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.


"Iya halo Tuan Ansel," jawab Lucas dari seberang sana dengan ramah.


"Maafkan aku, Lucas jika aku mengganggu kerjamu saat ini." Ansel merasa tidak enak karena ia takut mengganggu waktu kerja Lucas yang sudah kembali beraktivitas setelah satu Minggu meliburkan diri dari rutinitasnya sebagai anggota CIA.


"Tidak masalah Tuan, apa yang bisa saya bantu? Silahkan saja tanyakan, Tuan Ansel!" Lucas coba mencairkan situasi tak nyaman yang dapat dirasakan oleh pria itu dari suara Ansel yang terkesan sangat canggung.


"Sebenarnya ini bukan masalah yang serius, hanya saja ke depannya ini bisa jadi serius bila aku mengecewakannya." Penjelasan Ansel masih terdengar berputar-putar dan kurang mendetail hingga membuat Lucas kembali melontarkan pertanyaan susulan untuk Ansel yang terkesan masih menimang-nimang apa yang disampaikannya itu pantas atau tidak untuk ditanyakan kepada Lucas.


"Tak perlu sungkan untuk mengatakannya Tuan Ansel! Memangnya ada masalah apa? Apa ada hubungannya dengan Nona Irene?"

__ADS_1


"Tidak bukan tentang Irene ...." Ansel sejenak menjeda kalimatnya untuk berpikir hingga akhirnya ia pun meralat cepat perkataan yang sebelumnya. "Memang ini ada hubungannya sih dengan Irene, tapi maksudku, masalah ini memang bukan masalah yang serius atau tentang keributan apa pun?" Ansel masih berputar-putar sampai akhirnya suara langkah kaki Irene mulai terdengar keluar dari bathroom.


"Ya ampun, Irene kok cepat sekali sih mandinya, apa dia tidak bisa lebih lama lagi!" batin Ansel yang langsung mengurangi frekuensi suaranya dan lebih memilih untuk berbisik kepada Lucas sebelum dirinya mengakhiri panggilan telepon itu.


"Lucas, kita sambung via chat whatsApp saja ya, soalnya Irene sudah selesai mandi, dia sedang keluar dari kamar mandi. Aku tidak ingin Irene sampai mengetahui jika aku telah menghubungimu." Ansel langsung memutus sambungan telepon itu dan beralih dengan mengetik sebuah pesan di dalam aplikasi WhatsApp.


"Sayang, kamu abis telepon siapa? Kok langsung dimatiin begitu aku datang." Irene menatap penuh selidik dengan tubuh yang masih dibalut bathrobe berwarna pink.


"Eh, itu sayang. Aku habis telepon Lucas dan kebetulan sudah selesai juga sih urusannya jadi aku matiin deh."


Ansel pun dengan segera menuruti perintah sang istri. "Iya sayang, aku pergi mandi dulu ya!" Pria itu mulai melangkah menuju bathroom dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya.


"Sayang, kenapa mandinya harus bawa handphone sih? Apa tidak bisa ditinggal saja kalau benar-benar mau mandi?" tanya Irene yang merasa aneh dengan sikap suaminya saat ini.


"Itu lho, sayang. Aku sekalian mau chat Lucas, ada keperluan yang sangat penting, aku harus menyelesaikannya detik ini juga."

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, keperluan penting apa sih? Kenapa tadi tidak diselesaikan lewat telepon saja?" tanya Irene yang membuat Ansel kesulitan untuk menjawabnya.


"Sayang, aku ceritanya nanti malam saja ya. Soalnya ini adalah urusan yang tidak boleh diketahui oleh wanita," jawab Ansel sambil menggaruk tengkuknya yang terasa berkeringat.


"Oh ya sudah, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan hal apa pun yang ingin kamu rahasiakan dariku!" Perkataan Irene terdengar ketus, hingga membuat Ansel menjadi serba salah.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? Sana pergi mandi dengan membawa handphonemu itu!" perintah Irene kali ini membuat Ansel merasa takut bila istrinya berpikir yang tidak-tidak.


"Sayang jangan marah dong, aku mandi dulu ya. Bye, sayang!" ucap Ansel yang segera menghindar dari berbagai macam kecurigaan sang istri yang lainnya.


Irene masih terus menatap keanehan dari suaminya yang saat ini sudah mulai masuk ke dalam bathroom. "Entah kenapa aku jadi cemburuan begini ya? Menyebalkan sekali perasaan ini, bikin aku jadi enggak mood, mana lapar lagi. Ah, sebaiknya aku pesan makan saja, sekalian untuk Ansel, pasti dia juga lapar." Irene mulai berjalan menghampiri sebuah nakas yang terdapat sebuah telepon di atasnya. Ia hendak memesan makanan ke bagian resepsionis hotel dan memintanya untuk langsung mengantarkan makanan itu ke kamar hotelnya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2