Suamiku Calon Mertuaku

Suamiku Calon Mertuaku
S2 : Terungkap


__ADS_3

Selamat membaca!


Saat Benjamin baru saja akan memasang ban mobilnya, suara pintu terdengar keras dan Isco terlihat sedang berlari dengan cepat untuk meloloskan diri dari Benjamin.


"Sial pria bodoh itu, bikin aku susah saja." Benjamin pun mendengus kesal dan memutuskan untuk mengejar Isco dengan langkah panjangnya sambil berteriak keras.


"Woy, Isco jangan lari!" Benjamin mempercepat langkahnya, hingga jarak keduanya semakin bertambah rapat. Namun, Isco yang tak mau tertangkap semakin memperlebar jaraknya. Hingga akhirnya, Benjamin pun melompat dengan berpijak pada badan jembatan dan langsung menyergap tubuh Isco yang seketika membuat keduanya sampai bergelut di aspal.


"Lepaskan aku!" Isco terus berusaha melepaskan dirinya dari Benjamin. Namun, usahanya sia-sia karena Benjamin sudah berhasil memukul wajahnya dan juga perutnya, hingga pria itu terkapar dan mengerang kesakitan.


"Argh, Argh." Isco berteriak keras akibat pukulan yang Benjamin berikan padanya.


"Ayo cepat bangun! Kau ini menyusahkan sekali ya." Benjamin mengambil pistol di balik jaketnya lalu mulai menembak sebelah kaki Isco, hingga pria itu kembali mengerang kesakitan dan kali ini teriakan itu lebih keras daripada sebelumnya.


"Kamu kau menembak kakiku?" tanya Isco sambil melihat darah kental mulai mengalir dari luka tembakan itu.


"Kau yang meminta untuk ditembak! Makanya aku menembakmu karena dengan begini kau tidak akan bisa kabur lagi, bodoh!" Benjamin merubah posisi pistolnya dan memukul Isco di bagian kepala dengan gagang pistol, hingga pria itu akhirnya tak sadarkan diri.


Setelah kembali memasukkan tubuh Isco ke dalam mobil, kini Benjamin kembali melanjutkan aktivitasnya untuk memasang ban pada mobilnya dan tak butuh waktu lama, akhirnya mobilnya pun kini telah siap untuk dijalankan kembali. Saat Benjamin kembali, Isco masih tak sadarkan diri di dalam mobilnya.


"Kau ini memang sangat menyusahkan saja!" kecam Benjamin yang langsung menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan dengan kecepatan yang berangsur semakin cepat.


...🌺🌺🌺...


Sementara itu, di mobil lain yang saat ini ditumpangi oleh Darren, pria itu kini sudah tiba di sebuah rumah yang berukuran sedang. Namun sama seperti rumah Irene, pemandangan di depan rumah itu tampak asri dengan pepohonan dan beberapa tanaman hias di tamannya.


"Kita sudah sampai!" ucap Darren memberitahu Dya tujuan mereka selanjutnya.


Darren sudah menceritakan semua yang dikatakan oleh Ansel kepada Dyra dan setelah mendengar apa yang terjadi dengan putra sambungnya itu, Dyra pun mengusulkan untuk pergi menemui Felicia, kakak kandung Suga. Wanita yang telah berbaik hati menawarkan diri untuk mendonorkan kornea matanya untuk Ansel.


"Ayo sayang!" titah Dyra kepada Cassandra yang terlihat kebingungan karena ia baru pertama kali datang ke rumah ini.

__ADS_1


"Ini rumah siapa Mommy?" tanya gadis kecil itu dengan raut wajahnya yang manja.


"Ini rumah teman Mommy, ayo sayang kita ikuti Daddy!" titah Dyra kembali dengan senyuman sambil melihat ke arah suaminya yang sudah terlebih dulu keluar dari mobil.


Setibanya di depan pintu, Darren mulai menekan bel pada pintu dan menunggu sang pemilik rumah untuk membukakannya. Sampai akhirnya, suara wanita terdengar dari dalam rumah bertepatan dengan kedatangan Dyra dan Cassandra di samping Darren.


"Ya, sebentar itu siapa ya?" tanya sang pemilik rumah yang suaranya semakin lama semakin mendekat.


"Ini saya Darren, Nona Felicia. Saya ingin bertemu untuk menanyakan beberapa pertanyaan tentang adik Anda, apa boleh Nona?" tanya Darren dengan mengeraskan sedikit suaranya agar terdengar oleh Felicia dari balik pintu.


Tak lama pintu pun terbuka dan Felicia pun terlihat kaget dengan kedatangan Darren beserta Dyra.


"Silahkan masuk Tuan Darren dan Nona Dyra." Felicia dengan ramah mempersilahkan untuk ketiganya masuk. Namun, Cassandra masih terdiam dan tak ikut melangkah masuk.


"Ayo Cassandra, kita masuk!" Dyra memerintahkan gadis kecilnya untuk mengikutinya masuk.


"Tapi Mommy, Aunty ini 'kan enggak mempersilahkan aku masuk, dia cuma meminta Mommy dan juga Daddy. Ya, jadi aku enggak boleh masuk dong, Mom!" ucap Cassandra dengan suaranya yang menggemaskan ditambah bibir gadis itu yang mengerucut.


"Cassandra, Cassandra, kamu ini benar-benar lucu!" Dyra hanya menepuk keningnya dengan senyuman manisnya.


Sementara itu Darren yang sejak itu tersenyum dengan tingkah Cassandra, langsung menampilkan raut serius di wajahnya saat kembali berbicara dengan Felicia.


"Ayo Nona! Kita masuk, agar pembicaraan mengenai Suga bisa kita segerakan karena setelah ini saya harus pergi ke kantor polisi juga."


Felicia tercekat kaget saat Darren menyebutkan kantor polisi di hadapannya. Ketiganya pun segera menyusul Cassandra untuk masuk ke dalam rumah dan sampai akhirnya kini mereka langsung menempati sofa yang berada di ruang tamu rumah tersebut.


"Jadi bagaimana Tuan Darren, ada yang bisa saya bantu?" tanya Felicia dengan keningnya mengerut dalam.


"Begini Nona Felicia," Darren mulai menceritakan kronologi semua hal yang dialami oleh putranya tentang bayangan-bayangan yang sering muncul di dalam pikirannya sejak dirinya mendapatkan donor kornea itu dari Suga, adiknya. Hingga akhirnya, tibalah pembicaraan itu dengan pertanyaan Darren yang membuat air mata wanita cantik yang sempat dekat dengan Owen itu berlinangan membasahi kedua pipinya.


"Itu kenangan buruk saya, Tuan Darren. Maafkan saya karena saya menangis."

__ADS_1


"Tapi saya tidak terkejut dengan cerita Anda karena saya menawarkan untuk mendonorkan kornea mata Suga kepada Anda, bukan atas keinginan saya, tapi karena adik saya yang telah memilih Ansel, putra Anda."


Bak tersambar petir di siang hari bolong, Darren seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia tak menyangka ternyata itu bukanlah suatu kebetulan. "Jadi maksud Anda, adik Anda Suga telah melihat Ansel berada di rumah sakit itu dan akhirnya dia memilih Ansel karena tahu jika putra saya adalah suami dari Irene."


"Ya begitulah Tuan. Jadi saat itu Suga sering melihat putra Anda di rumah sakit dan beberapa kali dia juga melihat Irene, walaupun Irene tidak mengetahui akan hal itu. Sampai akhirnya kondisi adik saya tiba-tiba menurun karena pendarahan yang terjadi pasca operasi dan nyawanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi, tapi dia menitipkan surat ini kepada saya sebelum Suga mengembuskan napasnya yang terakhir. Ada dua buah surat, pertama untuk Irene dan kedua untuk putra Anda." Felicia menunjukkan dua surat itu yang baru saja ia ambil di dalam sebuah nakas yang dekat dari posisinya duduk.


Darren pun mengambil surat itu dan melihat dengan seksama kedua surat yang kini sudah berada di tangannya. "Terima kasih Nona Felicia. Kalau begitu kami pamit untuk melaporkan masalah Suga ini ke kantor polisi," ucap Darren yang memang sudah mengatakan kepada Ansel untuk bertemu kembali di kantor polisi.


"Tapi apa Irene setuju?" tanya Felicia yang sudah mengetahui bahwa pelaku penyerangan adiknya adalah Joo Won, kakak kandung Irene.


"Maksud Anda?" tanya Darren dengan langkah yang tertahan karena pertanyaan Felicia sungguh membuat terhenyak.


"Suga itu terlalu mencintai Irene. Makanya, walau kakaknya menganiayanya, dia sama sekali tidak berniat memperkarakan kasus itu karena tidak mau Irene menangis. Suga paling tidak bisa melihat air mata di wajah wanita yang dicintainya itu." Felicia begitu terisak saat mengatakan semua itu hingga membuat Dyra merasa perlu untuk mendekat ke arahnya dan langsung memberikan sebuah pelukan erat pada tubuh Felicia yang saat ini benar-benar saat mengingat kembali segala hal tentang Suga, adiknya.


Sampai akhirnya, Cassandra pun ikut menghampirinya dan menyodorkan sebuah sapu tangan bermotif Hello Kitty kepada Felicia.


"Aunty, pakailah ini untuk mengusap air matamu."


Isak tangis Felicia seketika mereda dan wanita berparas cantik itu pun mengurai pelukan Dyra dan berlutut untuk mengambil sapu tangan itu.


"Terima kasih ya gadis cantik." Pujian Felicia kepada Cassandra langsung dijawab dengan pujian juga oleh gadis kecil itu. "Sama-sama ya Aunty cantik."


Suasana haru kala itu berangsur sirna karena tingkah menggemaskan dari Cassandra. Sampai akhirnya Darren pun pamit kepada Felicia dan berjanji akan segera memberitahukan hal ini kepadanya karena Darren masih belum dapat menjawab pertanyaan Felicia karena ia tidak tahu apa tanggapan Irene tentang masalah ini. Namun, ia sudah berpesan kepada putranya untuk menceritakan semua kepada Irene dan tak lagi menutup-nutupi semua kenyataan yang ada tentang Suga kepada Irene karena mau bagaimanapun, Irene berhak tahu semua yang berhubungan dengan Suga yang merupakan bagian dari masa lalunya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Baca juga, One Night Stand With Boss


__ADS_1


__ADS_2