
Maaf agak slow ya, kondisi saat ini lagi sakit. Doakan ya semoga segera sehat seperti sedia kala. Amin.
Selamat membaca!
"Kau tidak usah membodohiku! Cukup kau saja yang bodoh. Aku itu tidak mungkin buta! Cepat nyalakan lampunya!" titah Ansel dengan lantang.
"Aku tidak membodohimu! Aku bicara sesuai kenyataan, kamu sekarang buta karena kecelakaan itu. Sentuhlah wajahmu yang saat ini dibalut perban, jika kamu tidak percaya!"
Ansel membatu, ia perlahan menyentuh wajahnya, dengan gemetar.
"Aku tidak mungkin buta! Jangan bohongi aku Irene, aku masih ingin melihat," teriak Ansel sekeras-kerasnya. Kedua tangannya memukul-mukul kepalanya berulang kali.
Irene berusaha untuk merengkuh tubuh Ansel, agar kedua tangan suaminya berhenti menyakiti diri sendiri. Gerakan Ansel sempat terhenti beberapa saat, ketika tubuhnya didekap erat oleh Irene.
"Ansel, kamu yang sabar ya. Kamu harus tenang dan jangan putus asa. Semuanya akan baik-baik saja, aku akan menemanimu, menjagamu dan akan selalu berada di sampingmu, agar bisa merawatmu. Ayah juga tidak akan tinggal diam untuk mencari pendonor kornea, agar kamu bisa melihat lagi, Ansel, kamu..." Belum habis kalimat yang Irene ucapkan, tiba-tiba saja tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah karena Ansel melepaskan diri dari pelukannya dengan kasar.
"Hentikan omong kosongmu, Irene! Aku begini karena kesalahanmu! Harusnya kau tidak perlu ada dalam kehidupanku. Semenjak bertemu denganmu aku selalu sial. Aku kehilangan Dyra, aku harus tinggal terpisah jauh dari Ayahku, liburanku gagal dan sekarang aku harus kehilangan kedua mataku! Kau benar-benar perusak kebahagiaanku! Pergi kau, Irene! Pergi jauh-jauh dari hidupku! Aku tidak ingin lagi melihatmu seumur hidupku."
Irene terkesiap kaget mendengar ucapan suaminya. Ia tak habis pikir kenapa Ansel sampai hati berkata demikian dan menuduh Irene atas kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat.
"Ansel sadarlah, semua ini terjadi karena murni kecelakaan dan bukan aku penyebabnya. Bahkan saat kecelakaan itu terjadi aku sedang berada dalam perjalanan menuju bar."
Ansel langsung menampik semua perkataan Irene dengan penuh amarah. "Aku tidak mau lagi mendengar apapun dari mulutmu! Lebih baik kau pergi jauh dari hidupku, agar aku tidak lagi sial."
"Tapi.." Irene berucap dengan lirih sambil menekan dadanya kuat-kuat, karena rasa sakit begitu menyayat di kedalaman hatinya.
__ADS_1
"Tidak usah ada tapi, tapian, cepat kau pergi! Pergi Irene!" Ansel semakin keras memerintahkan Irene untuk pergi dari kamarnya.
"Baik, aku akan pergi," ucap Irene terpaksa menuruti semua kemauan Ansel, yang mulai terdengar semakin meledak amarahnya.
Ansel kembali meratapi semua yang telah menimpanya saat ini. Ia terus meracau tak terkendali, membuat Irene yang melihatnya semakin iba. Irene pun akhirnya memutuskan untuk tetap berada di dalam ruangan, namun sebisa mungkin kehadirannya akan seperti hantu, hingga tak akan terbaca oleh Ansel.
Irene mulai membuka pintu dan lalu ia menutupnya kembali, menimbulkan kesan bahwa dirinya memang sudah pergi keluar dari kamar, walaupun pada kenyataan ia masih tetap tinggal untuk menemani Ansel.
Irene terus menatap Ansel dari tempatnya berdiri, dengan sorot mata yang dalam.
"Izinkan aku merawatmu sampai kamu sembuh, setelah itu aku akan benar-benar pergi jauh dari kehidupanmu. Aku janji!" tekad Irene bersama keyakinan hatinya yang telah bulat.
๐๐๐
Setelah dari ruang dokter, Darren dan Dyra kini sudah kembali duduk di depan ruang rawat Ansel. Saat ini keduanya memiliki harapan yang besar untuk dapat melihat Ansel sembuh seperti sedia kala. Namun tentunya mereka harus mendapatkan pendonor kornea yang cocok untuk Ansel.
"Iya. Hanya saja, apa kita bisa menemukan pendonor yang cocok?" Wajah Dyra kala itu terlihat pucat dengan gurat kesedihan yang mendalam.
Darren yang melihat hal itu, menjadi semakin cemas. "Dyra sayang, lebih baik kamu pulang ke rumah, diantar oleh Owen ya. Kamu itu perlu istirahat!" ucap Darren penuh kekhawatiran sambil mengusap pucuk rambut istrinya untuk coba membuat Dyra merasa tenang.
"Tidak Hubby, aku tidak lelah. Aku masih ingin menemanimu."
Darren menautkan kedua alisnya, menampilkan raut wajah yang tak setuju dengan penolakan Dyra.
"Tapi kamu itu terlihat sangat lelah, sayang. Aku tidak mau kamu jatuh sakit karena masalah ini." Darren menggenggam erat tangan Dyra dan memberi kecupan pada punggung tangannya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Dyra mengulas senyuman di wajahnya, mendapatkan perlakuan istimewa dari Darren. Walau ia tahu saat ini pikiran Darren sangat kalut memikirkan kondisi Ansel, namun ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah yang panik atau sedih. Mungkin karena Darren tidak mau terlihat rapuh, di mata Dyra yang saat ini sedang lemah.
"Aku kuat kok, kamu tenang saja ya. Aku akan selalu ada di sampingmu, untuk terus menguatkanmu, Hubby."
Darren membalas senyum yang mulai terbit kembali di wajah Dyra. "Terima kasih sayang, kamu sudah mau menemaniku, saat menghadapi masalah ini."
Kedua mata mereka saling menatap lekat, seolah menegaskan bahwa keduanya akan saling menguatkan satu sama lain, karena memang bukankah cinta itu sepantasnya hadir bukan hanya di saat bahagia saja, melainkan saat keterpurukan itu sedang terjadi, maka cinta harus tetap ada untuk dapat saling menguatkan.
"Ya sudah kalau itu kemauan kamu, terima kasih ya sayang."
"Tidak perlu berterimakasih segala padaku. Aku ini kan istrimu." Dyra menyentuh rahang wajah suaminya dengan lembut, hingga akhirnya keduanya sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya.
Darren mengulas senyuman di wajahnya, sambil menggenggam tangan istrinya yang kini masih berada di wajahnya. "Kamu itu bukan hanya istriku, tapi juga nyawaku, kamu adalah hidup dan matiku."
Dyra tersenyum bahagia mendengar kalimat romantis yang terlontar dari mulut suaminya. Hatinya kini membuncah bahagia, walau masih terselimuti oleh rasa cemasnya atas kondisi Ansel saat ini.
"Semoga saja kita bisa menemukan pendonor kornea mata yang cocok untuk Ansel, agar ia bisa melihat kembali," batin Dyra penuh harap.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Berikan komentar kalian ya.
Jangan lupa untuk vote dan like ya.
__ADS_1
Terima kasih semua.